Selama Covid-19, Badak Yatim Piatu Dirawat Para Sukarelawan

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemenang pertama kategori alam dalam WPPA 2017. Seorang relawan memeluk seekor bayi badak yang terluka akibat  perburuan di Afrika Selatan, 2016.  Brent Stirton/National Geographic Magazine/World Press Photo Foundation/REUTERS

    Pemenang pertama kategori alam dalam WPPA 2017. Seorang relawan memeluk seekor bayi badak yang terluka akibat perburuan di Afrika Selatan, 2016. Brent Stirton/National Geographic Magazine/World Press Photo Foundation/REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Rimba belantara dan padang stepa adalah wilayah yang ganas bagi gajah dan badak. Mereka diburu untuk cula mereka. Terutama badak-badak kecil, menghadapi risiko kematian yang besar bisa orangtuanya mati. 

    Untunglah ada yang peduli terhadap nasib anak badak sebatang kara. Yolande van der Merwe (38) membuat panti asuhan badak pertama di dunia di Limpopo, Afrika Selatan, hampir satu dekade lalu.

    Menjaga bayi badak yang tak punya orangtua adalah kerja keras. Seseorang harus memberlinya botol susu sepanjang waktu. Bahkan bisa menenangkan mereka saat ketakutan dan melewati malam panjang, ketika anak-anak itu berteriak mencari induk mereka. Umumnya, mereka melihat sendiri induknya mati ditembak pemburu liar.

    "Bayi yang lebih tua lebih terpukul. Mereka memanggil-manggil induk selama hingga dua pekan," kata Yolande van der Merwe. "Mereka mulai menangis dan itu benar-benar membuat hatimu sedih."

    Kerja keras merawat badak itu bisa dilihat dari jam kerja. Yolande membuat 72 jam kerja, yag dibagi dalam shift. "Relawan mendapat waktu tidur dua hingga tiga jam" kata van der Merwe. Mereka mengandalkan para sukarelawan yang terbang dari luar negeri dalam rotasi tiga bulan.

    Tugas ini kian berat, saat pandemi virus corona melanda. Tiga visa sukarelawan asing dicabut, yang akhirnya mempengaruhi jam kerja relawan lainnya, "Saya khawatir kami tak bisa mengatasinya," kata dia. 

    Manajer dan pendiri panti asuhan, Arrie van Deventer (66), mencari bantuan kepada orang-orang di Afrika Selatan lewat telepon dan media sosial. Peminat ternyata banyak, "Kami kebanjiran sukarelawan," kata dia.

    Dua orang sukarelawan akhirnya dipilih dari ratusan calon. Mereka kini tinggal bersama empat staf permanen sejak karantina wilayah diberlakukan di sana. Salah satunya, Deidre Rosenbahn (37) adalah koki restoran di Inggris selama 14 tahun, lalu ia melancong ke Australia, tapi ingin pulang kampung.

    "Saya kembali ke Inggris saat muncul virus corona. Sulit sekali mencari kerja, jadi saya langsung mengambil kesempatan ketika pekerjaan ini muncul," kata dia sembari memberi susu Mapimpi, bayi badak termuda.

    Pemburu liar membunuh induk Mapimpi ketika badak itu baru berusia tujuh hari. Saat ditemukan Mapimpi mengalami dehidrasi dan muram. Para relawan menemukannya sedang mencoba memakan pasir. Kini Mapimpi mendapat makan yang cukup, santai dan suka bermain-main.

    Badak hitam afrika barat (Diceros bicornis longipes) adalah subspesies dari badak hitam dan telah dinyatakan punah pada 2011. Dulunya, badak ini menghuni kawasan savanna yang luas di Afrika bagian barat dan dapat ditemukan paling banyak di Kamerun, namun populasinya menurun drastis akibat perburuan. savingrhinos.org

    Biasanya, pada umur lima tahun, para badak di panti asuhan dilepasliarkan, "Kami sudah kedatangan puluhan ekor badak, dan 95 persen datang akibat pandemi perburuan liar," kata Deventer. Lokasi pasti suaka ini betul-betul dirahasiakan untuk melindungi mereka dari pemburu liar.

    Populasi badak Afrika turun drastis selama beberapa dekade belakangan karena ada peningkatan permintaan cula badak untuk hiasan dan obat di Asia Timur.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.