Cara Orang Kaya di Chile Menghindar dari Kewajiban Karantina

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah tentara menjaga pusat medis di kota Santiago setelah Presiden Sebastian Pinera memerintahkan bencana, karena wabah penyakit coronavirus (COVID-19) di Santiago, Chili, 20 Maret 2020. REUTERS/Pablo Sanhueza

    Sejumlah tentara menjaga pusat medis di kota Santiago setelah Presiden Sebastian Pinera memerintahkan bencana, karena wabah penyakit coronavirus (COVID-19) di Santiago, Chili, 20 Maret 2020. REUTERS/Pablo Sanhueza

    TEMPO.CO, Jakarta - Wabah corona menjadi ujian pembuktian terhadap rasa solidaritas satu sama lain. Menjalani karantina dengan tetap berada di rumah membuat setiap orang berperan dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

    Di Chile, Amerika Selatan, dilaporkan ada sekelompok masyarakat yang melarikan diri dari kewajiban karantina yang telah ditetapkan pemerintah. Mereka adalah kelompok orang kaya yang mampu menyewa helikopter atau pesawat pribadi kemudian pergi ke kediamannya yang lain.

    Wali Kota Santiago, Felipe Guevara mengatakan telah menerima laporan sejumlah orang kaya yang keluar dari kota ke rumah peristirahatan mereka yang terletak di kaki Pegunungan Andes. "Mereka menyewa helikopter atau pesawat jet pribadi meninggalkan kota," kata Guevara dalam pertanyaannya kepada salah satu stasiun televisi di Chile.

    Virus corona baru atau COVID-19 di Chile telah menginfeksi hampir 6.000 orang, dan ini menjadi kasus tertinggi di Amerika Latin. Guevara menjelaskan, polisi, tentara, dan petugas kesehatan telah berjaga di setiap perbatasan untuk mencegah mobilitas masyarakat. Namun mereka tak menyangka orang-orang kaya itu nekat mengambil jalur udara untuk keluar dari Kota Santiago.

    Menteri Dalam Negeri Chile, Gonzalo Blumel mengatakan apa yang dilakukan oleh orang yang kabur dalam situasi pandemi ini mencerminkan buruknya kewajiban moral mereka kepada masyarakat dan kesetiaannya kepada negara.

    "Kita semua sedang diuji, seberapa besar bertanggung jawab dan dukungan kita untuk sesama," kata Blumel. "Tetap di rumah selama pandemi corona bukan sekadar keharusan, itu adalah kewajiban moral dan etika."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.