Dari Lidah Ikan Cod, Anak-Anak Norwegia Ini Membeli Mimpinya

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Desa Henningsvr, yang memiliki marina dan pabrik pengolahan ikan cod. Foto: bjorn_foto

    Suasana Desa Henningsvr, yang memiliki marina dan pabrik pengolahan ikan cod. Foto: bjorn_foto

    TEMPO.CO, Jakarta - Di atas lingkaran Arktik di Norwegia utara di desa nelayan kecil Henningsvær - tempat aurora borealis sering terlihat seperti tirai menari di langit, pada malam yang cerah. Ikan cod merupakan komoditas yang berharga. Imbas lain yang sangat menguntungkan, berupa lidah ikan cod yang diambil dari kepala-kepala ikan yang disingkirkan dari pabrik.

    Namun, di desa kecil yang damai itu, sebagaimana dinukil CNN Travel, warga juga bersiaga terhadap wabah virus corona. Warga di Desa Henningsvær menjaga jarak fisik satu sama lain. Wabah memang tak mengenal lokasi. Desa nelayan itu, merupakan salah satu destinasi wisata yang populer, apalagi saat musim panas yang membuat hari-hari terang lebih lama dibanding malam.

    Wisatawan dari berbagai penjuru dunia, bertandang ke Desa Henningsvær untuk bermain ski atau melihat budaya perikanan di Kepulauan Lofoten di dekat pantai Henningsvær. Virus corona membuat desa berpenduduk 500 orang itu kian sunyi saja, karena tak ada wisatawan.

    Hotel-hotel Henningsvær telah ditutup sementara, sejak virus corona merebak. Hanya dua toko kelontong kecil dan toko serba ada, yang tetap buka untuk melayani penduduk setempat dan nelayan. Satu-satunya sekolah di pulau itu, dengan sekitar 50 siswa, diliburkan dan para siswa belajar secara daring – sebagaimana semua sekolah di Norwegia.

    Tetapi bagi anak-anak desa, meskipun wilayah mereka dikarantina, tetap saja mereka tak ingin ketinggalan adat istiadat yang sudah ada sejak sebelum mereka lahir: memanen lidah ikan cod. Bapak dan ibu, bahkan kakek nenk buyut mereka saat kecil juga melakukan hal yang sama. Lidah cod, merupakan kuliner lezat di Desa Henningsvær, dan saban Feruari ikan cod memenuhi perairan desa itu.

    Memotong lidah ikan cod, adalah tradisi yang menyenangkan bagi anak-anak Desa Henningsvær. Mereka membawa pisau dan dengan gesit memotong lidah ikan cod. Selain tradisi, memotong lidah ikan cod, adalah masa mengumpulkan uang hingga ribuan dolar dengan bekerja beberapa pekan.

    "Seperti dokter, perawat, transportasi, dan industri lainnya, industri perikanan dikategorikan kritis di Norwegia dan tetap dibuka (selama pandemi)," kata Ragnhild Krogh Magnussen, seorang pekerja ritel yang tinggal di Henningsvær kepada CNN.

    Ikan-ikan cod yang telah dibuang kepalanya diasinkan dan dikeringkan. Foto: @elmundo_travel_blog

    Magnussen memiliki perahu untuk menangkap ikan cod. Ia bisa menangkap setiap musim dingin untuk dijual ke pabrik ikan setempat.

    "Industri memancing ikan cod masih terbuka, sehingga anak-anak masih bekerja, memotong lidah," katanya. Namun ada aturan baru di tengah pandemi virus corona, anak-anak memotong lidah dengan jarak 1 meter dari kawannya saat bekerja.

    Tradisi Memotong Lidah Ikan Cod

    Setiap musim dingin, spesies migrasi cod yang disebut skrei tiba di Fjord Lofoten setelah perjalanan panjang ke selatan dari Laut Barents. Ikan tiba sekitar Februari setiap tahun di perairan Vestfjord, tak jauh dari Lofoten, untuk bertelur.

    Ikan cod memiliki daging putih yang lezat. Warga Desa Henningsvær biasanya diasinkan atau dikeringkan di tengah suhu beku. Di sepanjang Lofoten, lazim terdapat pemandangan gubuk-gubuk berisi ikan cod yang digantung. Ikan-ikan itu diekspor sebagai bacalao dengan kualitas terbaik – pasar utamanya adalah Italia dan negara-negara Eropa lainnya.

    Di sebuah negeri di mana bau pengeringan kod sering dikatakan sebagai bau uang – kutipan dalam ungkapan sehari-hari warga Desa Henningsvær, “In cod we trust”. Desa itu riuh dengan kapal nelayan yang datang dari ujung utara dan selatan sepanjang garis pantai Norwegia yang luas. Orang dewasa mengelola kapal dan memproses berton-ton ikan cod di empat pabrik ikan di Desa Henningsvær, yang memiliki banyak pekerja migran dari Polandia.

    Sementara orang dewasa melaut, anak-anak dari generasi ke generasi, sejak usia 6 tahun mulai memotong lidah ikan cod dan mendapatkan uang. Umur enam tahun adalah saat mereka diizinkan bekerja memotong lidah ikan cod – yang dianggap sebagai kelezatan musiman, baik di meja makan rumah atau restoran di sekitar Norwegia.

    Putra-putra Krogh Magnussen - Mogens Hovde, 14, dan Gustav Hovde, 11 - termasuk di antara segelintir anak-anak setempat yang masih memotong lidah ikan cod tahun ini. Mereka bekerja di satu-satunya pabrik ikan yang masih buka di Desa Henningsvær. Ini adalah satu-satunya pabrik dengan area outdoor khusus di mana anak-anak dapat melakukan pekerjaan mereka.

    Setelah menyelesaikan kelas online mereka pada jam 2:30 siang, Mogens dan Gustav berusaha menghindari godaan untuk bermain video game. Mereka mengenakan baju wol dan lapisan antiair serta sepatu bot, berjalan beberapa blok dari rumah mereka menuju pabrik ikan yang berada di dekat marina.

    Anak-anak Desa Henningsvær memotong lidah ikan cod sejak usia enam tahun dan berhenti pada usia 17 tahun. Mereka bisa mendapat ribuan dolar dari pekerjaan itu. Foto: Astrid Daerr/CNN Travel

    Berbekal pisau Victorinox sepanjang 10 inci, rautan, pick logam dan ember serta kantong plastik, anak-anak itu berkumpul di dekat wadah besar yang penuh kepala ikan cod. Badan ikan cod telah diasinkan di pabrik, sementara tumpukan kepala ikan dikumpulkan dalam wadah untuk digarap anak-anak.

    Kumpulan anak-anak itu, biasanya  mulai bekerja selama satu jam atau sebanyak lima atau enam jam, tergantung pada persediaan, cuaca dan, tentu saja, motivasi pribadi mereka. "Ini adalah tahun kesembilan saya melakukannya, saya mulai ketika saya baru berusia 6 tahun," kata Mogens, "Jadi saya mulai sedikit muak sekarang. Tetapi uang membuat saya terus bertahan.

    "Aku tidak tahu apa hal tersulit dalam memotong lidah," kata Gustav, "tapi yang paling kusukai adalah mendapatkan uang." Norwegia sangat menghargai kerja keras, dan kerja keras adalah untuk mendapatkan uang, sebuah etos bagi warga di desa itu – sebagaimana umumnya orang Norwegia.

    Bila kapal-kapal ramai menurunkan muatannya. Anak-anak itu bisa memotong antara 60 dan 85 kilogram lidah ikan cod.

    Dengan bantuan ibu atau ayah mereka, anak-anak itu bisa menjualnya langsung ke pelanggan atau melalui halaman Facebook komunitas, dengan kisaran antara 60 hingga 65 Kroner Norwegia. Untuk setiap 1 kg lidah ikan, mereka bisa mendapat US$ 460 untuk setengah hari kerja. Dengan uang itu, mereka bisa membeli lampu LED untuk hiasan kamar, video game lengkap dengan aksesorisnya mulai dari meja dan kursi. Bahkan saat mulai remaja, mereka sudah menabung untuk membeli mobil dari memotong lidah ikan cod.  

    Soal gender, tak ada perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan dalam hal memotong lidah ikan cod. Satu-satunya gangguan adalah video game. Anak-anak itu berhenti memotong lidah ikan cod, ketika usia mereka menginjak 17 tahun. Dan tentu saja sudah memiliki tabungan yang cukup.

    Tahun lalu, kata Hansen, ia mendapatkan hampir $ 3.000 dan membeli bunad - kostum nasional Norwegia yang rumit, yang dikenakan pada hari nasional negara itu di bulan Mei dan acara penting lainnya. "Ada banyak orang yang benar-benar muak (memotong lidah ikan cod) dan yang tidak ingin melakukannya karena hawa dingin dan bau. Tapi rasanya sangat segar berdiri di luar dan bekerja," katanya. Lalu pada akhir siang, mandi dan tidur, kemudian bangun mendapati banyak uang, dengan mudah dan cepat.

    Hidangan lidah cod goreng di Hotel Grande Vallée Des Monts, Kanada. Foto: @wattacetti

    Kepala ikan cod umumnya bisa sebesar piring makan. Sementara lidahnya sebesar telapak tangan. Tekstur lidah itu, mirip dengan daging ayam mentah. Biasanya diolah dengan digoreng, yang disebut sebagai torsketunger pada menu lokal.

    Menyiapkannya juga tak sulit. Setelah dicuci bersih, lidah ikan cod dicelupkan ke dalam tepung, digoreng ringan dan disajikan dengan kentang rebus dan wortel, serta saus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemprov DKI Putuskan Kalender Pendidikan Mulai 13 Juli 2020

    Pemprov DKI Jakarta menetapkan kalender pendidikan 2020/2021 dimulai 13 Juli 2020 dan selesai di Juni 2021. Pada Juli 2021, masuk kalender berikutnya.