Wabah Corona, Suku Adat Orang Asli Malaysia Pilih Lari ke Hutan

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Virus Corona (123rf.com)

    Ilustrasi Virus Corona (123rf.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebagian penduduk Desa Jemeri, Pahang, Malaysia memilih lari ke hutan agar terhindar dari virus corona baru atau COVID-19.

    Mereka yang pergi ke hutan adalah kelompok yang biasa disebut suku adat Orang Asli. Seorang penduduk Desa Jemeri, Bedul Chemai mengatakan pergi ke hutan adalah cara mereka mengisolasi diri supaya tak terinfeksi virus corona.

    "Kami akan mencari makanan untuk diri sendiri," kata Bedul seperti dikutip dari Reuters. "Kami tahu cara bertahan hidup di hutan dan bisa bercocok tanam di sana."

    Saat wabah corona melanda, penduduk Desa Jemeri sudah menutup akses masuk ke desa mereka. Suku adat Orang Asli di Malaysia ini termasuk kelompok miskin dan paling rentan karena dilaporkan ada seorang anak yang terinfeksi corona di sana.

    Direktur Jenderal Departemen Pengembangan Orang Asli, Juli Edo mengatakan anak yang berinfeksi itu berusia tiga tahun dari diketahui berasal dari sebuah desa di luar Cameron Highlands. Cameron Highlands adalah sebuah destinasi wisata di dataran tinggi yang terletak di barat daya Pahang. "Belum jelas bagaimana anak itu bisa terinfeksi," kata Juli.

    Suku adat Orang Asli adalah keturunan dari penduduk paling awal yang dikenal di Semenanjung Malaysia. Mereka berjumlah sekitar 200 ribu orang. Suku adat Orang Asli umumnya bekerja sebagai petani dan menjual hasil bumi, seperti sayur, buah-buahan, dan karet.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.