Desa Wisata Ini Ingin Ubah Nama, Karena Pandemi Virus Corona

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lanskap Desa Sankt Corona am Wechsel, desa yang ingin mengubah nama karena pandemi virus corona. Foto: @niki_nevolnikova

    Lanskap Desa Sankt Corona am Wechsel, desa yang ingin mengubah nama karena pandemi virus corona. Foto: @niki_nevolnikova

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah desa wisata di Austria sedang merencanakan ulang promosi pariwisata. Karena, desa yang dimaksud itu akan berganti nama. Desa Sankt Corona am Wechsel akan mengubah namanya, karena pandemi virus corona (Covid-19) yang terus menyedot perhatian dunia.

    "Mulanya kami tersenyum kemunculan virus bernama desa ini. Tetapi lelucon telah berhenti sejak epidemi menjadi begitu serius," kata Wali Kota Sankt Corona am Wechsel, Michael Gruber, seperti dikutip dari laporan News 18, belum lama ini.

    Desa Sankt Corona am Wechsel berada sekitar 100 kilometer sisi selatan Wina. Desa yang berada di kaki Pegunungan Alpen itu memiliki penduduk sekitar 400 orang. Pendapatan utama desa itu adalah ekoturisme. "Kami mungkin harus menemukan nama baru untuk maskot menyambut wisatawan," kata Gruber.

    Berbagai daya tarik desa itu dinamai pula menurut nama Santa Corona, tokoh kebajikan umat Katolik. Pada Selasa, 31 Maret 2020, dikabarkan bahwa Austria memiliki hampir 10.000 kasus Covid-19. Ada sekitar 100 pasien meninggal dunia. Sebagian Austria telah melakukan karantina wilayah sejak 16 Maret 2020. Tetapi toko untuk kebutuhan penting dibiarkan tetap buka. Polisi pun ikut memantau kebijakan itu.

    Demi mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) Pemerintah Austria menetapkan kebijakan wajib memakai masker ketika berkunjung ke supermarket atau toko serba ada. Kebijakan baru itu telah ditetapkan oleh Kanselir Austria Sebastian Kurz bersama Kementerian Kesehatan, "Wajib untuk memakai (masker) di supermarket," kata Kurz, sebagaimana dilaporkan CBS News.

    Kebijakan baru Austria ihwal wajib memakai masker itu ditunjang pula dengan aktivitas berbelanja sendiri. Artinya, tidak pergi berbelanja bersama anggota keluarga, atau dalam kelompok, sebagaiman dikutip dari laporan Independent.

    Desa Sankt Corona am Wechsel pada musim dingin menjadi lokasi wisata ski, sementara pada musim panas dijadikan wisata olahraga sepeda gunung. Foto: @bing_vienna

    Pihak toko juga harus melakukan desinfeksi keranjang belanja setiap kali digunakan. Ada pula arahan untuk menjaga jarak yang aman. Sebagian besar toko serba ada telah menandai lantai di depan kasir dengan garis 1,5 meter. Kemudian, meminta pelanggan untuk membayar dengan kartu, tidak dengan uang tunai.

    NEWS 18 | CBS NEWS | INDEPENDENT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemprov DKI Putuskan Kalender Pendidikan Mulai 13 Juli 2020

    Pemprov DKI Jakarta menetapkan kalender pendidikan 2020/2021 dimulai 13 Juli 2020 dan selesai di Juni 2021. Pada Juli 2021, masuk kalender berikutnya.