Usai Krisis Wabah Virus Corona, Bisnis Wisata Bakal Jadi Raksasa

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana perahu wisata yang terlihat sepi karena ketakutan virus corona saat melintasi Sungai Chao Phraya di Bangkok, Thailand 6 Maret 2020. REUTERS/Chalinee Thirasupa

    Suasana perahu wisata yang terlihat sepi karena ketakutan virus corona saat melintasi Sungai Chao Phraya di Bangkok, Thailand 6 Maret 2020. REUTERS/Chalinee Thirasupa

    TEMPO.CO, Jakarta - Covid-19 atau wabah virus corona boleh saja memperlambat denyut bisnis pariwisata pada kuartal pertama 2020, tapi setelahnya, bisnis itu akan tumbuh besar. 

    Biro-biro perjalanan mulai merancang strategi dan siasat agar bisa bangkit kembali, ketika situasi membaik setelah krisis Covid-19. Meskipun belum ada tanda-tanda wabah berlalu, namun biro perjalanan telah menyiapkan beragam program yang memikat wisatawan.

    "Kami belum bisa memastikan seberapa lama hingga aktivitas travel dapat berjalan dengan normal. Namun kami sudah memulai sejak dini dengan membuat kampanye #NantiKitaPegipegiLagi," kata Busyra Oryza, Corporate Communications Manager Pegipegi, kepada ANTARA.

    Ia menjelaskan kampanye itu berisi pesan untuk tetap berada di dalam rumah demi mencegah penyebaran virus. Namun, ada pesan optimistis bahwa semua bisa kembali beraktivitas normal, termasuk bepergian, ketika situasi pulih.

    Busyra mengatakan dari semua lini industri, pariwisata paling terdampak dari virus corona. Kendati demikian, dia optimistis industri pariwisata bisa bangkit karena merupakan industri terbesar dan tahan banting di dunia.

    "Google dan Temasek memprediksi, pada tahun 2025 pasar industri online travel akan tumbuh menjadi US$78 miliar di Asia Tenggara," imbuh Busyra.

    Sementara itu, Panorama Group juga menerapkan kampanye untuk menjaga optimisme pasar, sekaligus mencari tempat menarik yang bisa dikunjungi pelanggan saat pandemi berakhir, "Kami menyiapkan produk-produk baru dengan destinasi yang aman," jelas VP Brand Communications Panorama Group AB Sadewa.

    Pulihnya industri pariwisata dari wabah penyakit butuh waktu lebih lama dibandingkan faktor lain seperti bencana alam, terorisme dan isu keamanan. Ia menuturkan, World Travel & Tourism Council memperkirakan butuh waktu 10-35 bulan, sejak wabah dimulai agar industri pariwisata kembali pulih.

    "Jika pandemi diprediksi berakhir pada Mei atau Juni, kemungkinan pasar industri pariwisata bisa pulih paling cepat pada akhir tahun," papar Sadewa.

    Sementara itu, Senior Public Relations Executive Tiket.com Yosi Marhayati mengatakan, pihaknya juga telah menyiapkan beberapa rencana di masa mendatang terkait situasi Covid-19.

    Namun, fokus saat ini adalah melayani kepentingan pelanggan yang banyak meminta penundaan atau pembatalan perjalanan, "Kami berharap semua bisa kembali normal secepatnya," kata Yosi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.