Wabah Covid-19 Cina Surut, Bioskop Kembali Dibuka, Tapi...

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bioskop. Sumber: the straits times/asiaone.com

    Ilustrasi bioskop. Sumber: the straits times/asiaone.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Bioskop di Cina mulai dibuka kembali, ketika wabah virus corona (Covid-19) semakin surut. Sebagian kecil bioskop itu dibuka dalam beberapa pekan. Pengunjung pun masih sedikit, karena khawatir terhadap virus corona.

    Pendapatan tiket bioskop (box office) anjlok saat wabah virus corona. Kini tantangan yang dihadapi seberapa ekonomi konsumen harus berjalan sebelum kembali normal, mengutip laporan South China Morning Post, Rabu, 25 Maret 2020.

    Ada 495 bioskop yang dibuka, atau 4,4 persen dari total keseluruhan di Cina. Bioskop itu telah dibuka pada Selasa, 24 Maret, tetapi hanya menarik 1.003 penonton. Maka, rata-rata sekitar dua orang dalam satu bioskop per hari. Catatan itu dari statistik dari Maoyan Entertainment, sebuah perusahaan yang memantau secara nasional pendapatan tiket.

    Pada Selasa, hanya delapan bioskop yang dibuka di Shanghai. Sedangkan operasional di Provinsi Guangdong adalah 35 bioskop. Belum lama ini, Cina menyatakan telah menghambat penyebaran virus corona. Tetapi agaknya sedikit orang yang mau menonton di bioskop. Karena, masih khawatir atas risiko yang tak terduga.

    Mengutip Variety, Maoyan menjelaskan, bahwa bioskop yang telah dibuka ada di lima provinsi, Xinjiang, Shandong, Sichuan, Fujian, dan Guangdong. Sebagian besar film yang saat ini tersedia adalah pemutaran ulang. Berbagai film Cina terbaru dan populer, sebuah langkah yang dimaksudkan untuk meminimalkan risiko. Menurut Maoyan, film yang diputar ulang salah satunya Sheep Without A Shepherd yang unggul ihwal penjualan tiket.

    SOUTH CHINA MORNING POST | VARIETY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.