Suasana di Malaysia, Filipina, dan Spanyol Saat Wabah Corona

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pastor melakukan siaran langsung khotbah misa di Facebook saat kegiatan publik untuk menekan penularan virus corona, di Katedral Manila di Manila, Filipina, Ahad, 15 Maret 2020. Presiden Duterte memberlakukan lockdown di wilayah Metro Manila, hingga saat ini dilaporkan terdapat 111 kasus dengan 8 orang meninggal dan 2 pasien sembuh. REUTERS/Eloisa Lopez

    Seorang pastor melakukan siaran langsung khotbah misa di Facebook saat kegiatan publik untuk menekan penularan virus corona, di Katedral Manila di Manila, Filipina, Ahad, 15 Maret 2020. Presiden Duterte memberlakukan lockdown di wilayah Metro Manila, hingga saat ini dilaporkan terdapat 111 kasus dengan 8 orang meninggal dan 2 pasien sembuh. REUTERS/Eloisa Lopez

    TEMPO.CO, Jakarta - Wabah corona telah memaksa orang untuk berdiam di rumah dan benar-benar menjaga kondisi kesehatan mereka. Tak ada lagi keramaian festival, perayaan, kerumuman di sentra-sentra kegiatan masyarakat.

    Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan infeksi virus corona baru atau COVID-19 sebagai pandemi. Dengan begitu, seluruh negara harus mengantisipasi agar virus ini tidak menyebar secara masif karena hingga kini belum ada vaksinnya.

    Sejumlah negara menerapkan berbagai kebijakan untuk 'mengunci' wilayah mereka dari potensi persebaran virus corona. Mulai dari lockdown total, karantina parsial, social distance, dan lainnya. Cina dan Italia adalah negara yang menerapkan kebijakan lockdown.

    Cina menjadi negara pertama yang terpapar virus corona tepatnya di Wuhan, Provinsi Hubei. Di Negeri Tirai Bambu itu, tercatat 3.237 pasien coronavirus meninggal. Adapun Italia menjadi negara kedua dengan jumlah korban jiwa akibat COVID-19 terbanyak setelah Cina. Hingga Rabu pagi, 18 Maret 2020, tercatat 2.503 orang meninggal karena virus corona baru di Italia.

    Pelanggan, mengenakan masker pelindung, mengantre untuk membayar di supermarket, di Kuala Lumpur, Malaysia 15 Maret 2020, setelah meningkatnya kasus virus Corona.[REUTERS / Lim Huey Teng]

    Sejumlah negara juga menerapkan aturan pengetatan lalu lintas manusia. Pemerintah Malaysia, Filipina, dan Spanyol misalnya melakukan karantina parsial untuk mempersempit ruang gerak virus corona. Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin menetapkan aturan untuk mengendalikan jarak antar-individu mulai Rabu hingga Selasa, 18 - 31 Maret 2020. Tercatat ada 673 kasus COVID-19 di Malaysia.

    Kendati ada aturan karantina, menurut laporan The Star, pada hari pertama masih ada orang-orang yang membeli makanan di restoran. Masyarakat juga membeli makanan di salah satu pusat jajanan serba ada atau food court di Penang. Mereka saling berbincang sambil menunggu pesanan makanan datang. Sebagian masyarakat juga dilaporkan pulang kampung menjelang periode karantina itu.

    Aturan lockdown di Kota Manila membuat ibu kota Filipina itu bak kota mati. Seperti dikabarkan oleh South China Morning Post, lalu lintas di Metro Manila sepi dan jalan lingkar Epifanio de los Santos Avenue yang biasanya sangat macet, berubah lengang.

    Petugas polisi melintasi lapangan yang hampir sepi, di tengah kekhawatiran atas wabah virus Corona di kota Basque Vitoria, Spanyol, 14 Maret 2020. [REUTERS / Vincent West]

    Pemerintah Spanyol juga menetapkan kebijakan lockdown. Para petugas membersihkan stasiun kereta dan menyemprotkan disinfektan. Menurut laporan Reuters, berbagai tempat umum, jalan kota, pantai di seluruh Spanyol menjadi sepi. Perayaan Paskah yang menjadi agenda wisata terbesar pada bulan April mendatang telah dibatalkan.

    Badan Antariksa Eropa atau ESA melaporkan kebijakan lockdown dan karantina di berbagai negara ini membuat polusi udara berkurang. Pabrik, sarana transportasi, dan segala yang menimbulkan polusi terhenti.

    THE STAR | SOUTH CHINA MORNING POST| REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.