Begini Pengaruh Virus Corona Terhadap Pariwisata Jepang

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keindahan Himeji Castle di Kota Himeji, Prefektur Hyogo, Jepang yang banyak diburu wisatawa. TEMPO/Rita Nariswari

    Keindahan Himeji Castle di Kota Himeji, Prefektur Hyogo, Jepang yang banyak diburu wisatawa. TEMPO/Rita Nariswari

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Jepang meningkatkan kewaspadaan terkait wabah virus corona COVID-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan, terdapat 230 orang yang terinfeksi virus corona, pada 29 Februari 2020.

    Pemerintah Jepang berupaya mencegah penyebaran wabah virus corona, dengan memebatalkan atau menunda beberapa festival dan acara. Bahkan taman hiburan antara lain Tokyo Disneyland, Tokyo DisneySea, Universal Studios Japan, telah ditutup untuk sementara waktu. Berdasarkan informasi terbaru yang dikutip situs web japan.travel (Organisasi Pariwisata Nasional Jepang) yang diperbarui, Minggu, 1 Maret 2020, penutupan sementara juga dilakukan oleh museum dan galeri.

    Mengutip laporan BBC, pemerintah Jepang menutup semua sekolah untuk antisipasi penyebaran virus corona. Penutupan itu - diperkirakan mempengaruhi 13 juta siswa pada berbagai jenjang - akan berlanjut hingga tahun ajaran berakhir pada pengujung Maret.

    "Semua sekolah tutup dari hari Senin (2 Maret) untuk mencegah penyebaran virus corona," kata Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.

    Sementara itu, Sekretaris Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Ghebreyesus mengatakan, wabah virus corona kini telah mencapai potensi berjangkit serempak. Belakangan temuan kasus penularan virus corona lebih banyak dilaporkan dari negara di luar Cina.

    "Ini bukan waktu untuk ketakutan. Ini adalah waktu untuk mengambil tindakan mencegah infeksi dan menyelamatkan hidup sekarang," kata Tedros Ghebreyesus.

    JNTO | BBC


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.