Filipina Menutup Langitnya untuk Rute Cina, Ini Akibatnya

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Antrean panjang untuk membeli masker di sebuah toko peralatan medis terlihat di Manila, Filipina, 31 Januari 2020. Lebih dari 14.000 orang telah tertular  dan 305 tewas akibat virus corona. REUTERS/Eloisa Lopez

    Antrean panjang untuk membeli masker di sebuah toko peralatan medis terlihat di Manila, Filipina, 31 Januari 2020. Lebih dari 14.000 orang telah tertular dan 305 tewas akibat virus corona. REUTERS/Eloisa Lopez

    TEMPO.CO, Jakarta - Ratusan warga Filipina yang bekerja di Cina, tak bisa kembali ke negeri itu. Pemerintah Filipina mengambil kebijakan, melarang semua penerbangan menuju dan dari Cina.

    Kebijakan tersebut membuat Jade Doringo, warga Filipina, tak bisa kembali ke Hong Kong tempatnya bekerja karena ada larangan perjalanan akibat wabah virus corona. Dilansir NY Times,  Doringo telah tiba di bandara Manila lima jam sebelum keberangkatan ke Hong Kong, tempatnya bekerja sebagai insinyur perangkat lunak.

    Tapi ia tak bisa berangkat, justru boarding pass miliknya diminta. Pagi itu, 2 Februari 2020, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan larangan perjalanan sementara, untuk penerbangan dari Cina daratan, Hong Kong dan Makau.

    Di saat virus corona menyebar di dunia, beberapa negara telah mengeluarkan larangan untuk pelancong yang tiba dari Cina. Filipina, yang melaporkan satu kasus kematian akibat virus, juga melarang warganya pergi ke Hong Kong dan Macau, wilayah semi-otonom China.

    Doringo adalah satu dari ratusan warga Filipina yang kesulitan karena tidak bisa kembali bekerja di tempat lain, "Bayangkan kebingungan yang kami rasakan saat itu, tidak tahu apa-apa," katanya dalam wawancara telepon pekan lalu.

    Doringo duduk di gerbang, melihat kru menunggu persetujuan untuk berangkat dan mendengarkan petugas penerbangan mengulangi pengumuman tentang larangan perjalanan. Pukul 4 petang, semua pemilik paspor Filipina diminta pergi ke imigrasi. Di sekitarnya, para pekerja domestik menelepon majikan mereka di Hong Kong, suara mereka dihiasi kepanikan.

    Lalu kopernya hilang. Tapi tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali mengikuti penumpang lain yang juga tak bisa kemana-mana. Sebagian besar belum makan sejak pagi. Pukul 11 malam, Doringo keluar dari bandara dengan tangan kosong.

    Dia pindah ke Hong Kong dua tahun lalu dengan tujuan membuat hidup yang lebih baik untuk keluarganya. Pekerjaan di Hong Kong menawarkan gaji yang lebih besar ketimbang di Filipina. Tak lama setelah bekerja, dia bisa membeli sepetak tanah di kampung halamannya. Dia juga menabung setiap bulan untuk membangun rumah bagi keluarga.

    Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. mengambil kebijakan menutup Filipina dari penerbangan menuju dan dari Cina pada 2 Februari 2020. Sumber: Reuters/asiaone.com

    Bosnya di Hong Kong mengizinkan dia untuk bekerja dari jauh, tapi dia khawatir bila tak masuk terlalu lama, "Sebagai pekerja Filipina di luar negeri, tak ada dari kami yang rela kehilangan pekerjaan."

    Doringo belum tahu kapan bisa kembali ke Hong Kong. Tapi dia sudah menyiapkan masker, cairan alkohol dan camilan sehingga saat dia kembali, dia tak perlu ke luar ruangan. "Saya takut sakit. Kami semua takut sakit, tapi ini keputusan kami untuk mengambil risiko," kata dia. "Kami tahu konsekuensi ke luar negeri."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.