Koenji, Kampung Wisata Tradisional di Sudut Tokyo

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Koenji merupakan spot berkumpulnya seniman dari berbagai pelosok Tokyo dan mancanegara. Foto: Eerkmans/Flickr.com

    Koenji merupakan spot berkumpulnya seniman dari berbagai pelosok Tokyo dan mancanegara. Foto: Eerkmans/Flickr.com

    TEMPO.CO, JakartaTokyo hutan belantara pencakar langit, bukanlah tempat untuk berdamai dengan suasana kota. Bayangkan, dalam sekilometer persegi, ada 6.000 manusia di dalamnya.

    Tapi, di Koenji, secuil ketenangan masih bisa didapatkan di antara kepadatan kota itu. Selewat Stasiun Shinjuku, carilah jalur Chuo. Tiga halte dari jalur itu, wisatawan bisa menemukan Koenji – perkampungan tempat lahirnya subbudaya Tokyo yang megapolitan.

    Koenji era kini, merupakan perkampungan dengan rumah-rumah maksimal setinggi empat lantai. Jalan-jalan masih berhias lentera dan lampion, serta kabel-kebal yang semrawut di atasnya – bergelendotan antara tiang satu dengan yang launnya.

    Pada awal 20, Koenji hanyalah pedesaan yang warganya hidup dari pertanian. Namun saat Gempa Kanto 1923, Koenji menjadi tujuan orang-orang yang kehilangan rumah. Mereka menambah jumlah penduduk Koenji.

    Kehadiran tetangga-tetangga baru itu, membuat Koenji tumbuh. Pada 1950-an, Koenji sudah menjadi bagian metropolitan Tokyo, yang popular dengan kafe-kafe yang menyajikan kopi dan teh.

    Waktu yang tepat berkunjung ke Travelmag, merekomendasi mengunjungi Koenji pada Agustus. Saat itu, kampung wisata itu menggelar Festival Awa Odori (tarian). Festival ini diikuti 10.000 penari yang menampilkan pertunjukan seni tari di jalanan Koenji, permainan drum Taiko, lonceng kane, dan seruling shinobue. Dan bisa dipastikan ratusan ribu penonton membanjiri jalan-jalan selama akhir pekan.

    Penduduk berpartisipasi dalam Festival Awa Odori. Foto: @warakuren

    Bukan hanya seni tari yang hidup dan tumbuh di Koenji, kampung wisata itu memiliki komunitas seni yang kuat. Pada era 1960-1970-an, ia menjadi basis gerakan counter culture sekaligus “rumah” yang nyaman bagi komunitas punk dan hippies.

    Para seniman itu menumbuhkan budaya kreatif yang kuat di bagian kota itu. Hampir setiap hari, wisatawan bisa melihat penyanyi atau band unjuk kebolehan di pinggir jalan, menghibur para pelintas. Bahkan menciptakan kerumunan-kerumunan. 

    Koenji Spot Religius Tokyo

    Koenji memiliki pusat-pusat kebudayaan sejak abad pertengahan, yang disimbolkan dengan keberadaan beberapa kuil Budha dan Shinto. Salah satu kuil yang tertua adalah Hikawa Jinja, Kuil Shinto yang dibangun pada abad ke-12. Kuil ini dahulunya didedikasikan bagi astronomi, untuk memohon cuaca yang baik untuk memulai peperangan. Kini, digunakan para pelajar untuk berdoa meminta cuaca yang cerah sekaligus keberuntungan.

    Koenji sendiri merupakan nama salah satu kuil Budha utama di daerah itu, yang dibangun pada 1555. Menurut Sanpai-Japan, generasi ketiga dari Shogun Tokugawa adalah pelindung Kuil Koenji. Nama Koenji adalah pemberian dari Shogun, yang membuat Kuil Buddha itu kian kharismatik di mata pengikut Buddha di Tokyo saat itu. Nama kul itu pun diadopsi menjadi nama desa di sekitar Kuil Koenji.

    Kuil Hikawa Jinja merupakan kuil Buddha tertua di Koenji dan salah satu yang tertua di Jepang. Foto: @markeite

    Reputasi Koenji pada abad 21, adlah kemampuannya mengadopsi modernitas tanpa meninggalkan tradisinya. Itulah yang membuat Koenji sebagai kampung wisata sekaligus kampung budaya di Tokyo.

    Bila sebagian besar perkota di Tokyo kehilangan rumah-rumah kayu berpintu geser, diganti dengan bangunan tahan gempa, Koenji malah melestarikan rumah-rumah kayu itu. Perumahan di Koenji umumnya adalah rumah-rumah dengan pintu geser, dinding kertas, dan jendela kaca besar, yang menghadap ke taman-taman kecil. 

    Akomodasi

    Bahkan, hotel-hotel di Koenji memamerkan seni. Hotel BnA membawa tamu ke dunia animasi.  Sebagian besar dinding dicat dengan adegan-adegan dari dongeng atau mitos, dengan warna-warni ceria yang penuh gaya.

    Menurut pihak Hotel BnA, mereka ingin menciptakan ruang yang memungkinkan penduduk dan wisatawan mancanegara nongkrong bareng berbagi ide dan visi artistik. Bar di hotel itu, penuh dengan tamu berkarakter menarik, yang menciptakan nuansa kreatif.

    Sementara Hotel Junjo Hotel dibangun dengan inspirasi perumahan tradisional Jepang. Nyaman, bersih, dan berwawasan arsitektur tradisional. Wisatawan bisa merasakan hidup pada era Tokyo zaman dulu, di tengah-tengah megapolitan.

    Kamar Hotel BnA di Koenji, penuh dengan mural yang membawa tamu ke dunia animasi. Foto: @streetartnews

    Bagi wisatawan yang peduli dengan budget miring, bisa menginap di Grapehouse Hostel Koenji. Hotel berbentuk asrama ini sangat bersih, dengan lampu dan pengisian daya privat. Ada ruang bagi pelancong untuk bertemu di ruang bersama, dan yang pati ditawarkan dengan harga terjangkau.

    Sedikit keluar dari pusat Koenji, terdapat Bokuno Café dan Hotel Koenji. Keduanya menjadi tempat ideal untuk rehat setelah menjelajah kota. 

    Kuliner

    Penikmat ikan fugu (ikan buntal) bisa datang ke resto Genpinfugu Koenji. Ikan yang racunnya dapat mematikan 30 orang ini, ditampilkan dalam beragam hidangan, dari sushi, sup, dan gorengan. Dibuat oleh koki bersertifikat dari pemerintah Jepang, yang dapat memisahkan racun dengan daging ikan fugu.

    Menu vegetarian di salah satu restoran vegetarian di Koenji, Tokyo. Foto: @meunota0227

    Menuju bagian utara Koenji, terdapat restoran Karashitei Higashi Koenji yang menyajikan daging barbeque, dengan daging yang dipotong-potong seukuran sekali suap. Cara penyajiannya, pengunjung duduk di depan pemanggang, lalu pelayan mengantarkan potongan daging. Tamu bisa membakar dan mengolahnya sendiri dengan cocolan saus yang lezat.

    Jika panas, restoran Tachigui Kigari Soba Koenji menyajikan mie soba dingin, yang merupakan makanan pokok pada musim panas di Jepang. Selain itu terdapat restoran Vietnam yang menyajikan hidangan Vietnam-Jepang di Koenji Honten.

    Onsen 

    Ke Tokyo tak lengkap tanpa berkunjung ke onsen – pemandian air panas. Onsen Kosugi-yu adalah pemandian air panas terbaik di Koenji. Reputasi lainnya, Onsen Kosugi-yu adalah salah satu rumah pemandian tradisional tertua di Tokyo. Dindingnya berhias lukisan Gunung, dengan fasilitas mandi susu dan aroma terapi. Dibuka sampai pukul 10 malam dan lokasinya sekitar 10 menit berjalan kaki dari stasiun Shinjuku.

    Nah, Koenji bisa jadi pertimbangan, bila Agustus nanti Anda bertandang ke Tokyo. Berburu spot yang lebih tenang, dan tentu saja kampung wisata yang unik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.