Yogyakarta Tak Akan Menjemukan Bila Ada 283 Event pada 2020

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para penyanyi acapella dari kelompok Acapella Mataraman memanfaatkan terowongan gerbang masuk saat menyambut wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Wisata Tamansari, Yogyakarta, Selasa (2/4). Suguhan tari topeng dan acapella lagu-lagu tradisional dengan mengenakan kostum tradisional ini bertujuan untuk memberikan respon auditif dengan bermain suara di tempat-tempat wisata dan bangunan cagar budaya yang selama ini hanya dinilai secara visual saja. TEMPO/Suryo Wibowo

    Para penyanyi acapella dari kelompok Acapella Mataraman memanfaatkan terowongan gerbang masuk saat menyambut wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Wisata Tamansari, Yogyakarta, Selasa (2/4). Suguhan tari topeng dan acapella lagu-lagu tradisional dengan mengenakan kostum tradisional ini bertujuan untuk memberikan respon auditif dengan bermain suara di tempat-tempat wisata dan bangunan cagar budaya yang selama ini hanya dinilai secara visual saja. TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta Singgih Raharjo menyatakan dalam Calendar of Event (CoE) 2020, Yogyakarta telah menetapkan total 283 event pariwisata untuk mendulang kunjungan.

    "Event itu terangkum dalam 11 kategori dan merupakan rangkuman dari perhelatan besar yang diselenggarakan pemerintah, masyarakat, komunitas, hingga swasta," ujar Singgih, Sabtu, 25 Januari 2020.

    Singgih menuturkan padatnya event wisata yang disiapkan itu untuk penyeimbang keinginan wisatawan, di samping menikmati destinasi yang tersebar di lima kabupaten/kota Yogyakarta.

    Menurut Singgih, penyelenggaraan event wisata tersebut merupakan konsistensi agenda budaya di Yogyakarta. Selain itu juga untuk mewujudkan visi tahun 2025, Yogyakarta menjadi pusat pendidikan, budaya, dan daerah tujuan wisata terkemuka di Asia Tenggara.

    Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan ada tiga sektor strategis yang dijadikan unggulan oleh Yogyakarta pada level Asia Tenggara: pariwisata, pendidikan dan kebudayaan.

    Sultan mengatakan tiga sektor itu digadang-gadang menjadi pilar penyangga berkembangnya sektor lain khususnya perekonomian, "Ketiga sektor itu terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu penting adanya desain matang untuk mengantisipasi hambatan agar ketiganya berkembang sesuai harapan," ujarnya.

    Sultan mengungkapkan, masih banyak persoalan di DIY yang harus dipecahkan demi menjaga kesejahteraan masyarakat. Seperti kemiskinan, pengangguran, dan pembangunan manusia.

    “Saya merespon positif pengembangan sarana prasarana yang mendorong pengembangan pembangunan khususnya yang mendukung pariwisata,” ujar Sultan.

    Kepala Badan Perencana Pembangunan DIY Budi Wibowo memaparkan tingkat pertumbuhan ekonomi DIY pada tahun 2019 berada pada angka 6,3-6,7 yang meningkat dari tahun 2018.

    "Sektor unggulan DIY yang membuat pertumbuhan ekonomi meningkat yakni pariwisata, ekonomi kreatif, tekstil dan produk tekstil, furnitur," katanya.

    Festival Pesona Lokal merupakan acara untuk mempromosikan budaya dan produk lokal. Acara ini terselenggara buah kerja sama Pemerintah Kota Yogyakarta, Kementerian Pariwisata, dan Adira Finance. Foto: @iqbal_kautsar

    Budi mengatakan tingkat kemiskinan DIY memang masih berada di atas rata-rata nasional dengan angka 11,44 dan membawa DIY pada peringkat ke-24 nasional. Meskipun  begitu, tingkat kemiskinan ini cenderung menurun setiap tahunnya. “Ketimpangan pendapatan DIY per September 2019 sebesar 0,428, meningkat 0,005 poin dibandingkan Maret 2019," ujarnya.

    Berdasarkan kriteria Bank Dunia, tingkat ketimpangan di DIY berada pada kategori ketimpangan sedang.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.