Warga Solo Bersiap Rayakan Imlek Selama 10 Hari

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan menikmati keindahan cahaya lampion Imlek dari atas perahu di Kali Pepe Solo, Jawa Tengah, Senin 18 Februari 2019. Perahu wisata itu hanya bisa dinikmati hingga akhir Februari ini. (FOTO: AHMAD RAFIQ/TEMPO)

    Wisatawan menikmati keindahan cahaya lampion Imlek dari atas perahu di Kali Pepe Solo, Jawa Tengah, Senin 18 Februari 2019. Perahu wisata itu hanya bisa dinikmati hingga akhir Februari ini. (FOTO: AHMAD RAFIQ/TEMPO)

    TEMPO.CO, Solo - Suasana menjelang tahun baru Cina, mulai terasa di Solo. Masyarakat Kelurahan Sudiroprajan Solo menyiapkan ribuan kue keranjang, yang akan dibagikan secara gratis untuk masyarakat pada Imlek mendatang. Pembagian akan dilakukan dalam Karnaval Grebeg Sudiro yang digelar pada 19 Januari.

    Ketua Panitia Grebeg Sudiro, Arga Dwi Setyawan mengatakan acara untuk menyambut Imlek akan berlangsung selama 10 hari. "Mulai 15 Januari hingga selesai pada 25 Januari," katanya, Kamis 9 Januari 2020.

    Beberapa acara yang digelar selama 10 hari di kawasan Pasar Gede Solo, salah satunya, adalah Umbul Mantram, sebuah atraksi budaya sebagai penanda dimulainya acara Grebeg Sudiro.

    Penyelenggara juga akan mengoperasikan perahu wisata untuk masyarakat yang ingin menikmati Imlek di Kota Solo. Perahu itu akan menyusuri Kali Pepe yang saat ini sudah mulai berhias dengan lampion berwarna merah.

    Lampion-lampion mulai terpasang di sekitar Pasar Gede yang nantinya bakal jadi pusat keramaian Imlek. TEMPO/Ahmad Rafiq

    Puncak acara Grebeg Sudiro akan berlangsung pada 19 Januari dengan digelarnya karnaval budaya. "Ada 50 kelompok yang akan mengikuti karnaval ini," katanya.

    Kesenian Liong dan Barongsai tentu saja akan menjadi sajian khas dalam karnaval itu. Menariknya, karnaval juga akan membawa gunungan kue keranjang, yang akan dibagikan secara gratis untuk masyarakat. "Kami menyiapkan 4.000 kue keranjang," katanya.

    Lurah Sudiroprajan, Dalima menyebut kelurahan itu menjadi ikon akulturasi budaya di Kota Solo. "Jumlah warga dengan etnis Jawa dan Cina nyaris sama," katanya. Mereka mampu hidup berdampingan sejak zaman kolonial.

    Warga berpakaian tokoh pewayangan punokawan saat mengikuti pawai Grebeg Sudiro untuk menyambut Imlek di Solo, 15 Februari 2015. Pawai Grebeg Sudiro merupakan tradisi syukuran jelang imlek yang sudah dirayakan semenjak zaman Paku Buwono X. Tempo/Andry Prasetyo

    Perayaan Imlek menurutnya sudah menjadi milik bersama di kelurahan yang terletak di sebelah timur Pasar Gede itu. "Kami juga ingin agar Imlek ini bisa dinikmati oleh semua warga Solo maupun para wisatawan," katanya.

    (AHMAD RAFIQ)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.