Turis yang Berisik Dilarang ke Sumbiling Eco Village

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Melestarikan hutan hujan tropis membuat warga Suku Dayak Iban memperoleh berkah dengan mendirikan Sumbiling Eco Village. Dok. Sumbiling Eco Village

    Melestarikan hutan hujan tropis membuat warga Suku Dayak Iban memperoleh berkah dengan mendirikan Sumbiling Eco Village. Dok. Sumbiling Eco Village

    TEMPO.CO, Jakarta -  Brunei Darussalam negeri kaya yang penduduknya hanya 500.000-an orang. Negeri mungil seluas 5.765 km persegi, setara enam kali luas Jakarta, Brunei seperti dihimpit tetangganya yang lebih besar: Malaysia.

    Tapi, bila Anda mencoret Brunei dari daftar jalan-jalan, akan rugi. Pasalnya negara yang ramping itu memiliki beberapa hutan hujan tertua di dunia.

    Sebagaimana dinukil dari Atlas Obscura, pemerintah Brunei Darussalam dan warganya secara sadar, disiplin, dan menerapkan kebijakan yang ketat tanpa kompromi memerangi deforestasi sejak 1990-an. Akibatnya, hutan hujan tropis kuno menutupi lebih dari 70 persen wilayah Brunei.

    Tapi negeri tajir itu tak pelit. Mereka berbagi keindahan itu dengan warga dunia dengan membuka ekowisata. Turisme telah menjadi fokus baru bagi negara ini, dalam upayanya mendiversifikasi ekonominya yang sangat bergantung pada minyak.

    Taman Nasional Ulu Temburong, taman nasional pertama di Brunei Darussalam yang merupakan daya tarik menginap di Sumbiling Eco Village. Foto: Jacob Mojiwat/Flickr.com

    Praktiknya, Suku Dayak Iban membuka Sumbiling Eco Village, yang hanya beberapa menit dari Taman Nasional Ulu Temburong — taman nasional pertama di negara itu, yang disebut sebagai "Permata Hijau Brunei".

    Desa Ramah Lingkungan Sumbiling memanfaatkan upaya pelestarian hutan tropis jangka panjang, dan menyulapnya sebagai salah satu destinasi wisata lingkungan utama di negara itu. Sumbiling yang terletak di tepi Sungai Temburong, merupakan kawasan yang tenang.

    Sangat pas bagi mereka yang ingin melarikan diri dari kesibukan dan kebisingan kehidupan urban. Dengan begitu, ketenangan menjadi unggulan desa ramah lingkungan ini. Tak ada pesta atau keberisikan wisatawan sepanjang malam.

    Sebaliknya, pengunjung bisa menikmati dan menjelajahi hutan hijau subur, yang telah menjadi kunci oksigen terus terpompa dari Kalimantan ke seluruh dunia. Bagi yang ingin menyepi, Sumbling Eco Village terletak di Distrik Temburong Brunei, sebuah exclave yang dipisahkan oleh Malaysia dan Teluk Brunei.

    Agar tak ribet dengan empat pos penjagaan Brunei dan Malaysia, cara terbaik untuk mencapai kabupaten (dan menghindari empat pos pemeriksaan imigrasi darat) adalah dengan menggunakan kapal cepat dari Bandar Seri Begawan dan Bangar.

    Berada di Taman Nasional Ulu Temburong, Sumbiling Eco Village menawarkan suasana hutan, kesejukan, dan ketengan. Dok. Sumbiling Eco Village

    Ada kapal cepat dan feri yang melakukan perjalanan secara teratur dari pukul 07.00 hingga 17.00. Tarif sekali jalan adalah US$6 sekitar Rp100.000 dan tarif perjalanan memakan waktu 45 menit.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.