3 Restoran Ramen Halal di Jantung Tokyo

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana di lantai bawah dari Shinyokohama Raumen Museum di Yokohama, Jepang yang ditata seperti kawasan kota tua Shitamaci di Tokyo pada 1958. Tempo/Rita Nariswari

    Suasana di lantai bawah dari Shinyokohama Raumen Museum di Yokohama, Jepang yang ditata seperti kawasan kota tua Shitamaci di Tokyo pada 1958. Tempo/Rita Nariswari

    TEMPO.CO, Jakarta - Hidangan ramen memiliki penggemar fanatik di Indonesia. Bahkan, popularitas ramen inipula yang menggiring banyak wisatawan Indonesia ke Jepang, untuk menikmati ramen autentik di negeri asalnya. Hanya saja, di Jepang ramen halal terbilang sedikit.

    Di Tokyo, terdapat tiga kedai ramen halal yang direkomendasikan oleh Antara. Ketiganya memiliki sertifikasi halal, dengan jaminan bahan dan pengolahannya halal. Berikut ramen yang ramah muslim, dirangkum dari Antara.

    Ayam-YA Okachimachi, Tokyo, Jepang

    Lokasi kedai ramen ini tak jauh dari jalan raya Ueno. Papan nama Ayam-YA menghiasi bagian depan dari restoran yang berdinding sekat-sekat kayu itu. Kedai ramen Ayam-Ya sudah mendapatkan sertifikasi halal, jadi semua masakan yang disajikan sudah terjamin halal.

    Cara memesan ramen di Ayam-YA terbilang unik. Pengunjung hanya bisa memilih menu dan membayar melalui mesin voucher, yang terlihat seperti mesin penjual minuman yang ada di tempat-tempat umum.

    Papan nama Ayam-YA menghiasi bagian depan dari restoran yang berdinding sekat-sekat kayu. Foto: @ayamya_okachimachi

    Pada  mesin itu tertera foto, nama menu dan ukuran porsi beserta harga. Pengunjung hanya perlu memasukkan uang kertas di tempat yang sudah disediakan, kemudian memencet tombol di bawah menu yang diinginkan. Mesin akan mengeluarkan tiket menu serta uang kembalian, bila ada.

    Menu andalan kedai ramen ini spicy tori ramen soyu seharga 890 yen (Rp114.500). Tiket menu lalu diserahkan kepada pramusaji, dan silakan menunggu, pesanan akan datang dalam beberapa menit.

    Kedai Ayam-YA terdiri dari dua lantai. Lantai satu sebagian besar digunakan untuk dapur, sementara kursi dan meja pengunjung berada di lantai dua. Asyiknya lagi, para pramusaji berasal dari Indonesia, hal itu memudahkan komunikasi.

    Saat spicy tori ramen soyu hadir di meja, ia dalam mangkuk besar. Kuahnya berwarna kemerahan sebagai bukti dari jejak-jejak cabai. Irisan daging ayam yang lembut diletakkan sebagai topping, juga potongan tipis daun bawang yang jadi pelengkap. Rasanya pas, tak terlalu pedas dan tak hambar. Hidangan ini rasanya sangat akrab dengan lidah Indonesia.

    Soyu dan shio ramen di Ayam-YA Okachimachi, Tokyo, Jepang. Foto: @ayamya_okachimachi

    Kuahnya lezat, selain itu teksur ramennya halus namun kenyal saat digigit. Ukuran ramennya serupa mi instan, hanya saja bentuk minya lurus, tak terlalu tipis atau tebal. Ada sensasi renyah berkat kehadiran potongan bawang bombay dan daun bawang.

    Ramen Ichiran No Pork Shinjuku, Tokyo, Jepang

    Ramen Ichiran Shinjuku memang tak memiliki sertifikasi halal, namun restoran ini memiliki anak cabang Ramen Ichiran No Pork Shinjuku yang ramah muslim: tanpa babi dan alkohol. Lokasinya terdapat di 7 Chome-10-18 Nishi-shinjuku Shinjuku-ku Tokyo-to.

    Penanda utama adalah plang serba hijau dengan tulisan "No Pork Ramen". Sistem pemesanannya pun menggunakan mesin tiket di bagian depan restoran. Harga untuk ramen Ichiran "no pork" sedikit lebih mahal dibandingkan cabang lainnya. Menu standar di ramen Ichiran biasa (dengan babi), seharga 980 yen, sementara harga ramen Ichiran "no pork" di atas 1000 yen.

    Dibandingkan kedai Ramen Ichiran biasa yang antreannya mengular hingga harus menunggu belasan hingga puluhan menit pada jam-jam tertentu, kedai No Pork tergolong lebih sepi. Setelah mendapatkan tempat duduk, pengunjung diminta mengisi lembar pemesanan agar mi yang datang sesuai dengan selera.

    Ramen Ichiran No Pork Shinjuku. Foto: Nanien Yuniar/Antara

    Pengunjung  bisa memilih topping berupa rebusan daging sapi yang lembut dan gurih atau yang lainnya. Termasuk memilih tekstur mi yang diinginkan dan seberapa pekat kaldu, seberapa banyak bawang putih, daun bawang serta saus merah pedas yang ingin dimasukkan ke dalam mangkuk.

    Tingkat kepedasan yang ditawarkan berkisar dari tanpa cabai, mild, medium, spicy level dua hingga sepuluh. Mi disajikan dalam kotak makan segi empat, mirip dengan tempat bento. Saat tutupnya dibuka, asap langsung mengepul, memperlihatkan kuah kaldu dengan mi tipis, potongan daun bawang di satu sisi dan daging sapi di sisi lain. Saus pedas khas Ichiran diletakkan di bagian atas mi.

    Kombinasi itu terdiri dari mi yang lezat, daging yang lembut serta kuah gurih namun pas di lidah yang dengan mudah bisa dihabiskan hingga ke tetes terakhir.

    Menu salmon dalam ramen Ichiran. Foto: @chilli_kf

    Lanzhou Ramen Mazulu, Tokyo

    Letaknya hanya tiga menit berjalan kaki dari stasiun Tokyo, ramen dengan citarasa Cina ini berada di antara gedung-gedung bertingkat menjulang di Tokyo, tepatnya di Grand Tokyo South Tower B1, 1-9-2 Marunouchi, Chiyoda-ku, Tokyo 100-6690.

    Restoran ini terlihat mencolok, bagian depannya berwarna toska dan putih, tulisan "Mazulu Halal Beef Noodle" terpampang besar. Logo sertifikasi halal dari Nippon Asia Halal Certification juga tertera di situ.

    Pemesanan langsung lewat pramusaji yang berjaga di bagian depan, tidak melalui mesin tiket. Hanya ada satu menu seharga 950 yen (Rp122.500). Namun jenis mi bisa disesuaikan dengan selera, mulai dari mi serupa bihun hingga mirip kwetiau, juga tekstur lurus hingga keriting.

    Pengunjung bisa memilih menu dari gambar yang sudah disediakan, meski tidak ada keterangan bahasa Inggris, pramusaji siap menjelaskan bila ada hal yang tidak dimengerti.

    Lanzhou Ramen Mazulu, Tokyo, memiliki sertifikasi halal. Foto: @halalmediajapan

    Dari sembilan pilihan mi, pramusaji merekomendasikan pilihan nomor dua, yakni mi keriting dengan ketebalan sedang. Mi pilihan pengunjung langsung dibuat di dapur dengan kaca transparan, sehingga proses pembuatan bisa dilihat langsung.

    Para koki yang menggunakan peci dengan cekatan mengolah setiap adonan mi menjadi bentuk yang diinginkan pembeli. Proses pembuatan mi jadi hiburan tersendiri sembari menanti makanan disajikan.

    Lanzhou Ramen Mazulu, Tokyo, dengan ramen citarasa Cina. Foto: @theeverydayfoodie

    Ramen ala Mazulu punya cita rasa yang berbeda dari ramen-ramen di Jepang. Kuahnya tidak terlalu berkaldu, bumbunya ringan, menciptakan cita rasa sederhana namun segar dengan tambahan potongan daun seledri. Ramen ini dilengkapi topping irisan daging sapi yang lembut serta potongan daging berbentuk dadu dan lobak dalam setiap mangkuk.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.