Jalan Merayap di Punggung Everest (1)

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana toko oleh-oleh di Thamel, Nepal. (Foto: Dokumentasi Tim WISSEMU)

    Suasana toko oleh-oleh di Thamel, Nepal. (Foto: Dokumentasi Tim WISSEMU)

    Bandara ini dibangun tahun 1964 oleh Edmund Hillary yang memuncaki Everst pertama kali bersama Tenzing Norgay. Sampai tahun 2001 landasan bandara ini masih berupa tanah yang dipadatkan. Sejak tahun 2008, bandara Lukla dinamai sebagai Tenzing-Hillary Airport. Ia berada di ketinggian 2.840 m. Penerbangan ke Lukla ditempuh dengan pesawat kecil berbaling-baling dalam waktu 25 sampai 45 menit.

    Sesampai di Lukla, wisatawan mendapati kota yang ditandai oleh satu jalan utama selebar 2,5 meter sepanjang 500 meter. Di tiap sisinya toko-toko berderet menyediakan aneka merek KW alat perlengkapan trekking, kafe yang menyediakan kopi enak serta warung-warung makan lokal. Kalau memelukan uang tunai, di Lukla terdapat satu ATM.  

    Di Lukla wisatawan atau para pendaki tidak akan menemukan kendaraan apapun, semua ditempuh dengan jalan kaki, keledai dan kuda. Kalau berangkat dari Manthali yang mengharuskan tubuh terbanting-banting di jip selama 5 jam, maka Anda boleh beristirahat semalam di Lukla, sebelum memulai perjalanan menyusuri gunung-gunung menuju EBC. Perjalanan Lukla ke EBC sekitar 100-110 km, dengan elevasi sekitar 2.470 m yakni dari ketinggian 2.840 m ke ketinggian 5.310 m.

    Jangan membayangkan naik gunung di Nepal dengan naik gunung di Indonesia. Misalnya, untuk ke puncak Gunung Gede (2.950m) dari camp Gunung Putri, para pendaki akan menempuh ketinggian sekitar 1.500m, karena tinggi base camp Gunung Putri berada di ketinggian 1.450m. Dari base camp hingga puncak bisa ditempuh dengan tempo 5-6 jam karena jarak tempuh yang relatif pendek yakni 6 km saja.

    Di Nepal, Anda butuh waktu lama untuk mencapai ketinggian,  karena jarak tempuh jauh lebih panjang: untuk mencapai satu puncak gunung para pendaki harus melewati puncak-puncak lain dengan jalur yang naik turun. Nepal adalah negara yang 88 persen terdiri dari gunung.

    EBC adalah jalur paling ramai, tiap tahun puluhan ribu orang menempuh jalur ini. Jadi anda tidak perlu khawatir, semua fasilitas hidup sederhana tersedia di jalur ini: teahouse dengan makanan lokal dal bhat dan menu barat plus mie instan korea, internet, kafe, dan tempat tinggal. Lukla menyediakan pelbagai ‘tea house’ atau lodging , yakni penginapan sederhana khas Nepal yang tersedia di kota-kota mungil sepanjang perjalanan.

    Tea house merupakan bangunan dengan dinding batu, kamar di sekat oleh papan atau multipleks. Ruang makannya sekaligus berfungsi ruang tamu dan menjadi pusat berkumpul para tamu maupun pemilik dan keluarganya, yang meriung mengitari perapian kayu. Ruang makan adalah satu-satunya ruangan yang hangat di tea house

    Setiap kamar biasanya menyediakan dua ranjang sederhana yang dilengkapi Kasur busa dan selimut setebal sepuluh 10cm, kalau anda beruntung anda bisa mendapatkan tea house dengan toilet di dalam kamar. 

    Dari Pakdhing perjalanan dilanjutkan ke kota yang paling menarik di kawasan Khumbu, yakni Namche Bazar (3.400m). Robertus Robet

    Dari Lukla, perjalanan dimulai menuju tempat bernama Pakdhing. Pakdhing berada di ketinggian 2.610 m, lebih rendah dari Lukla, sekitar 3-4 jam saja dari Lukla. Menuju Pakdhing anda akan melewati desa  Choplung (2.660m), ujung desa ini adalah sebuah jembatan kawat baja khas Nepal yang merentang panjang di atas sungai Dudh Kosi dengan latar belakang gunung-gunung kawasan Khumbu. Setelah Choplung anda akan melewati desa kecil bernama  Ghat, dari Ghat setelah turun sekitar 2 jam anda akan tiba di Pakdhing.

    Dari Pakdhing perjalanan dilanjutkan ke kota yang paling menarik di kawasan Khumbu yakni Namche Bazaar (3.400m). Namche Bazaara dalah gerbangnya Everest. Di sinilah semua trekker, pendaki dan pelancong Everest transit.  ROBERTUS ROBET


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.