Traveling Kalangan Milenial Memunculkan Pola Baru, Seperti Apa?

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bobox ditujukan untuk milenial yang ingin hangout atau staycation. Foto: @bobobox_id

    Bobox ditujukan untuk milenial yang ingin hangout atau staycation. Foto: @bobobox_id

    TEMPO.CO, Jakarta - Tren traveling atau melancong ala kalangan milenial, menurut pelaku industri kreatif dipengaruhi oleh kecepatan menerima informasi.

    Pimpinan Eksekutif (CEO) Torch-Traveling Gear Ben Wirawan Sudarmadji menganggap, pola traveling kalangan milenial mirip dengan tren orang yang berbelanja melalui sistem online.

    "Mereka kalangan milenial kalau traveling, browsing (melihat-lihat) dulu, membandingkan ini itu, cari diskon, semua dari digital," kata Ben, Selasa, 26 November 2019.

    Ben menganggap, rata-rata kalangan milenial cenderung mempelajari sebuah destinasi dari media sosial. "Mereka bisa belajar dengan travel blogger, atau bahkan dari posting," ujarnya.

    Menurut Ben, tren traveling kalangan milenial terus menumbuhkan pola yang baru, di antaranya produk, makanan, dan pelayanan. Hal itu berhubungan pula dengan kiat dalam memanfaatkan industri kreatif untuk urusan traveling.

    Setiap masalah yang muncul saat mereka bepergian, selalu mereka atasi sendiri. Ben mencontohkan, misalnya pelancong ingin bepergian ke destinasi baru. Namun, tak ada kawan untuk pergi bersama. Maka, penawaran open trip bisa menjadi solusi.

    Milenial membandingkan dan mencari informasi sebanyak-banyaknya sebelu bepergian.

    "Berangkat ramai-ramai, itu (open trip) platform doang yang menentukan, bisa cari teman baru," ujarnya.

    Seperti dibilang Ben, cara kalangan milenial traveling mirip dengan berbelanja online. Bahkan mereka bisa mengantisipasi risiko yang bakal menimpa mereka, "Generasi milenial tahu, traveling ada kemungkinan tertipu. Tapi mereka akan cari referensi untuk menghindari itu," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.