Candi Muara Jambi: Ada Kopi Nikmat, Dewi Kebijakan dan Bersepada

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Beberapa wisatawan menikmati pemandangan Candi Tinggi di kawasan percandian Muara Jambi, Desa Muara Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. ANTARA/Andika Wahyu

    Beberapa wisatawan menikmati pemandangan Candi Tinggi di kawasan percandian Muara Jambi, Desa Muara Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. ANTARA/Andika Wahyu

    TEMPO.CO, Jambi - Pepohonan karet menjulang tinggi memayungi setiap turis domestik yang berjalan menuju kompleks Candi Muara Jambi. Hampir dua kilo meter, rombongan jurnalis dari Aliansi Jurnalis Independen menapaki jalan setapak menuju banyak candi di kompleks itu.

    Candi Muara Jambi memang kompleks candi yang besar, luasnya berlipat-lipat dibanding Borobudur. Kemegahan dan luas kompleks Candi Muara Jambi bila utuh bisa disetarakan Angkor Wat. Untuk menuju ke situs purbakala itu, tak semua pengunjung bisa menggunakan kendaraan alias harus jalan kaki. 
     
    Selepas menikmati keindahan batu bata merah peninggalan zaman Sriwijaya di Candi Kedaton, rombongan wartawan beranjak ke beberapa  candi lainnya di antaranya Kembar Batu, Tinggi, dan Kembar Batu. 
     
    Sebelum melanjutkan penjelajahan Candi Muara Jambi, belasan jurnalis yang datang dari berbagai daerah, di antaranya Yogyakarta, Makassar, Pontianak, Pekanbaru, dan Jakarta menyesap kopi khas Jambi yang diseduh Mak Fatima dan Mak Maria di pondok milik Brata. 
     
     
    Pondok milik Brata anggota Padmasana, komunitas pelestari Candi Muara Jambi. TEMPO/Shinta Maharani
     
    Di pondok berupa rumah panggung yang dikelilingi pohon karet itu, pengunjung bisa melihat proses pembuatan hingga penyajian kopi jambi. Mulai dari disangrai (goreng kering) hingga menjadi bubuk. Makan siangnya ikan patin kuah santan dengan rempah-rempah Jambi yang maknyus. Ada juga karaoke dengan musik lantunan khas Sumatera mirip organ tunggal di warung-warung.  
     
    Rombongan itu dipimpin Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jambi, Ramond. Dia menemui anggota perkumpulan Padmasana, pelestari kawasan Candi Muara Jambi berbasis pemberdayaan masyarakat desa. "Ramond populer di kalangan penduduk dan Padmasana sehingga jalan kita mudah ke Muara Jambi," kata anggota AJI Jambi, Siti Masnidar atau akrab disapa Aning, Senin, 18 November 2019. 
     
    Di kompleks percandian itu sejumlah buruh bangunan sedang membangun berbagai fasilitas penunjang di sekitar candi, misalnya jalan. Asril, salah satu petugas yang berjaga di kompleks candi menjelaskan total candi di Muara Jambi ada 84. Dari keseluruhan candi, setidaknya delapan yang dipugar, termasuk Candi Kedaton yang dikunjungi pertama rombongan pengunjung dari AJI. "Kami juga menata beberapa fasilitas," kata Asril. 
     
    Selain Kedaton, candi yang sudah dipugar yakni Kotomahligai, Gedong Satu, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Astano. Selain candi, wisatawan juga bisa melihat museum yang menyimpan benda-benda purbakala, misalnya arca yang kepalanya hilang.
     
    Arca itu yakni Prajnaparamita. Dalam ajaran Buddhis, Prajnaparamita merupakan dewi kebijaksanaan dengan sikap tangan dharmacakramudra atau memutar roda dharma. Dewi kebijaksanaan duduk dengan sikap kaki padmasana, kaki disilangkan dan telapak kaki kanan menghadap ke atas. Arca ini diperkirakan berasal dari abad ke-13 Masehi. Ada juga belanga dari perunggu yang diperkirakan dibuat pada abad 9-13 Masehi. 
     
    Warga di sekitar Candi Muara Jambi mengolah kopi. TEMPO/Shinta Maharani
     
    Arkeolog Agus Widatmoko dalam Majalah TEMPO menjelaskan terdapat hubungan antara candi Muara Jambi dan Nalanda, pusat pendidikan tertua Buddhis di India. Pertautan itu ditemukan melalui catatan I-Tsing, rahib Cina yang melakukan perjalanan ke Swarnadwipa wilayah Sriwijaya (sekarang Sumatera) dan catatan-catatan dari Tibet. 
     
    Cendekia dari Nalanda bernama Atisa Dipamkara Srijnana belajar di Swarnadwipa selama 12 tahun. Atisa memulai pelayaran ke Sumatera pada 1012 dan sampai di sana pada 1013. Atisa ingin berguru pada guru asal Sumatera Dharmakitri yang ahli filsafat Buddha dan pencerahan. Atisa kembali ke India pada 1025 dan menjadi pemimpin tertinggi perguruan Vikramasila. 
     
    Untuk menjangkau tempat penting pengajaran filsafat Buddha Mahayana ini wisatawan bisa menggunakan perjalanan darat dengan menyewa mobil dari pusat Kota Jambi. Waktu tempuhnya sekitar 50 menit hingga satu jam. Di jalan, wisatawan bisa melihat gagahnya Sungai Batanghari lewat jembatan Batanghari. Tapi, sayangnya sungai-sungai itu terlihat berwarna kekuningan. Penduduk lokal menyebut sungai itu telah tercemar merkuri akibat masifnya penambang. 
     
    Di kompleks Candi Muara Jambi, pengunjung hanya membayar tiket seharga Rp5.000 per orang. Pengunjung juga bisa menyewa sepeda kayuh Rp10.000 untuk keliling melihat candi. Salah satu yang menyewa sepeda kayuh di rombongan itu adalah Hendra dan keluarga. "Biar puas bisa memutari semua candi dan bersepeda mengasyikkan," kata Hendra. 
     
    Bila ingin membeli oleh-oleh, pengunjung bisa mendapatkan cenderamata, di antaranya gelang buayan Suku Anak Dalam atau orang Rimba.
     
    Arca Prajnaparamita di Museum Candi Muara Jambi. TEMPO/Shinta Maharani
     
    Cagar budaya Muaro Jambi  mencakup tujuh wilayah desa di Kabupaten Muaro Jambi. Ketujuh desa tersebut adalah Dusun Baru,  Danau Lamo, Muarajambi, Kemingking Luar dan Kemingking Dalam, Teluk Jambu, dan Dusun Mudo.
     
    Muara Jambi memiliki luas 2.612 hektare. Candi-candi yang terdapat di wilayah itu adalah Candi Teluk I, Candi Teluk II, Candi Cina, Menapo Cina, Menapo Pelayangan, Menapo Mukti, dan Menapo Astano. Menapo adalah tumpukan batu yang sudah tertimbun.
     
    SHINTA MAHARANI
     
     
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.