Patpong: Prostitusi, CIA, hingga Gerakan Antikomunis

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Museum Patpong berisi berbagai kisah perjalanan sejarah Jalan Patpong hingga lebih terkenal sebagai lokasi prostitusi dan pasar malam. Foto: Richard S. Ehrlich/CNN Travel

    Museum Patpong berisi berbagai kisah perjalanan sejarah Jalan Patpong hingga lebih terkenal sebagai lokasi prostitusi dan pasar malam. Foto: Richard S. Ehrlich/CNN Travel

    TEMPO.CO, Jakarta - Museum Patpong, ini ide menarik bagi para lelaki yang menyukai hal pornografi di Thailand. Tapi, tidak. Ini bukan museum yang mengeksploitasi seksualitas, namun menceritakan mengenai sejarah sebuah jalan, Patpong. Kini, mungkin wujudnya hanya pasar malam dan kawasan prostitusi.

    Dalam Museum Patpong, kisah agen CIA, prostitusi, Perang Vietnam, dan imigrasi Cina menjadi sebuah narasi. Bahkan kunjungan rockstar David Bowie pada tahun 1983 ke Bangkok, serta potongan budaya pop lainnya, ada di museum itu. Termasuk "The Deer Hunter" film drama perang 1978 yang dibintangi Robert De Niro, yang salah satu adegannya dilakukan di bekas gedung Patpong Bar Mississippi Queen.

    Namun, daya tarik utama museum ini bukan pornografi, namun kegiatan mematikan Badan Intelijen Pusat AS (CIA) di Laos, selama Perang AS-Vietnam pada 1960-an hingga 1974. Museum Patpong seluas 300 meter persegi, yang dibuka pada bulan Oktober, mengungkapkan kisah orang-orang Amerika yang berperang melawan komunis di medan perang, berbondong-bondong ke Patpong untuk urusan bisnis, persahabatan, dan kencan hedonistik selama perang.

    Ini juga menunjukkan bagaimana Patpong berevolusi dari waktu ke waktu, untuk menarik ratusan ribu wisatawan dan ekspat. Pelesiran seks itu kemudian populer, lalu bergeser di tempat lain di Bangkok seperti Soi Cowboy dan Nana Entertainment Plaza.

    Suasana di Jalan Patpong yang setiap malam dipenuhi penjual suvenir termasuk merek-merek palsu dari desainer ternama. Foto: Richard S. Ehrlich/CNN Travel

    Sisi yang Kurang Dikenal

    Pendiri dan kurator museum, Michael Messner, mengatakan kepada CNN Travel bahwa ia menemukan ruang untuk mendokumentasikan dan menampilkan sejarah yang menarik di daerah Patpong hingga saat ini. Banyak detail yang tidak diketahui oleh siapa pun, mengenai fasilitas, bisnis, dan lokasi tak biasa di Patpong.

    "Menurutku hari ini semua orang tahu Patpong," kata Messner. "Tapi tidak ada yang benar-benar tahu tentang Patpong. Orang mengaitkannya dengan segmen yang sangat sempit hari ini, dan itu akan menjadi 'Patpong ping-pong,' kira-kira seperti ini. Dan kami akan melakukan ping-pong, namun kami juga menunjukkan hal-hal lainnya,” ujarnya.

    Messner yang piawai membangun museum, sebelumnya pada 1990-an membuka museum di Austria. Dari dunia museum, mengalihkan perhatiannya ke kehidupan malam Bangkok, berinvestasi di tempat-tempat hiburan termasuk beberapa di Patpong.

    Lantas bagaimana kisah Patpong dibangun? Mulanya, seorang imigran Tiongkok, Luang Patpongpanich, yang membeli tanah – yang kini jadi Patpong – yang masih berwujud perkebunan pisang.

    Untuk mengenang Patpongpanich, museum ini memajang dua karung beras yang dikaitkan dengan tiang bamboo, untuk diangkat pengunjung. Aktivitas itu, untuk memberi pengalaman mengangkat beban seberat 35 kg, yang dilakukan para buruh zaman dulu, termasuk yang dilakukan Patpongpanich.

    Selama Perang Dunia II, putra Patpongpanich, Udom, dilaporkan belajar di Amerika, di mana ia bergabung dengan Kantor Layanan Strategis (OSS) Washington yang baru dibentuk, yang akhirnya berubah menjadi CIA.

    Cerita mengenai layanan bar di Patpong pada 1990-an, yang ditulis oleh jurnalis Amerika, Bernard Trink. Foto: Richard S. Ehrlich/CNN Travel

    OSS melatih Udom untuk menjadi pemberontak Seri Thai, yang melawan pendudukan Jepang di Thailand, menurut informasi museum, yang didukung oleh kisah tiga halaman di Asia Magazine tertanggal 5 Mei 1985 yang mencakup wawancara dengan Udom , dan juga dalam obituari tahun 1996 di surat kabar Guardian London. Tetapi perang berakhir sebelum dia kembali ke Thailand.

    “Setelah Udom tiba di Bangkok, ia mengubah tanah keluarganya menjadi Jalan Patpong dan menjejerinya dengan rumah toko, yang ia sewakan ke OSS dan teman-teman CIA-nya,” kata Messner. Kedai kuliner asing yang pertama kali dibuka di Patpong adalah Mizu's Kitchen. Bahkan ia menjadi resto pertama di Patpong, yang dijalankan oleh seorang mantan tentara Jepang, yang jatuh hati kepada Thailand lalu menetap di Patpong.

    "Kantor pertama Foreign Correspondents 'Club atau tempat meeting pertama di Patpong adalah Mizu's Kitchen. Restoran itu baru saja tutup pada Juni, dan kami menyelamatkan papan namanya yang digantung di luar," ujar Messner.

    Penyewa salah satu gedung di Patpong lainnya selama tahun-tahun itu, menurut pameran museum, termasuk perpustakaan Layanan Informasi AS dan save house milik CIA di atas Madrid Bar. Bar itu bertahun-tahun digunakan para agen CIA berkumpul. Bahkan kini para pensiunan pejabat CIA, masih bertandang ke sana diam-diam.

    Senapan AK 47 yang digunakan pejuang komunis melawan Amerika Serikat di Vietnam, Laos, dan Kamboja. Foto: Richard S. Ehrlich/CNN Travel

    Sebagai bukti, foto-foto termasuk mendiang perwira CIA Jack Shirley, diambil di Madrid Bar, yang masih terbuka. Patpong bukan hanya jadi markas CIA, gedung-gedung di jalan itu juga digunakan oleh IBM, Shell, dan CAT - Transportasi Udara Sipil, “Sebuah perusahaan yang dimiliki 100 persen oleh CIA," kata Messner. "Ini maskapai yang melakukan operasi rahasia di seluruh Asia dari 1950 hingga 1959."

    CAT menjadi pendahulu CIA, Air America, yang dikenal sebagai "maskapai paling banyak menembak di dunia," terutama di Laos saat mengangkut pasukan, korban, pengungsi, amunisi, beras, dan persediaan lainnya - semua bagian dari perang rahasia AS melawan komunisme. Kantor Air America Bangkok berada di gedung Air France di Patpong hingga 1972. Setidaknya 240 pilot dan awak pesawat Air America tewas akibat tembakan musuh, menurut beberapa laporan.

    Kliping berita ditampilkan di Museum Patpong. Salah satunya berita bertahun 1972, yang memberitakan anggota kongres AS memprotes penyelundupan opium dari Laos, untuk disempurnakan menjadi heroin. Kisah penyelendupan itu difilmkan pada tahun 1990, dengan judul Air America. Banyak kisah heroik dan drama mengenai Air America, yang bisa dilihat di Museum Patpong.

    Jalan Patpong juga menjadi basis gerakan propaganda anti-komunis yang diproduksi oleh pemerintah Thailand selama tahun 1970-an. Dalam sebuah poster, terlihat indoktrinasi politik Cina yang keras di bawah Ketua Mao Zedong, disandingkan dengan penggambaran pelajaran sekolah Thailand yang tertib dan praktis.

    Putra Patpongpanich, Udom, direkrut Kantor Layanan Strategis (OSS) Washington yang baru dibentuk, yang akhirnya berubah menjadi CIA. Foto: Richard S. Ehrlich/CNN Travel

    Poe si Pemburu Telinga

    Museum ini juga menyimpan berbagai informasi dan memorabilia petugas paramiliter CIA legendaris, sekaligus yang paling mengerikan di dunia, Tony Poshepny, “Dia karakter yang paling terkenal dan kontroversial yang sering mengunjungi Patpong," kata Messner.

    Kisah Poshpeny dituturkan secara kronologis di museum itu. Ia  bergabung dengan SEA Supply, perusahaan CIA yang beroperasi di Patpong, pada tahun 1958. Tetapi ia "mengunjungi kantor Transportasi Udara Sipil (CAT) di gedung nomor 1 di Jalan Patpong pada awal tahun 1953. Boleh dikata, ia selama bertahun-tahun sering ke Jalan Patpong sampai keberangkatannya ke Amerika Serikat pada 1990-an.

    Dikenal sebagai Tony Poe, ia beroperasi di Laos utara selama beberapa tahun, dimulai pada awal 1960-an, dan dilaporkan memimpin ribuan etnis minoritas Hmong dalam pertempuran berdarah. Ia memimpin gerilya semesta melawan pasukan komunis Pathet Lao dan sekutu Vietnam Utara mereka.

    Poe bahkan membuat aturan yang sadis. Ia memerintahkan anggota pemberontak Hmong, untuk memotong telinga anggota Pathet Lao bila berhasil membunuhnya. Poe memerintahkan kesadisan itu, untuk mengkonfirmasi kebenaran anggotanya berhasil membunuh musuh.

    Ketika Kedutaan Besar Amerika di Laos mengkritik Poe karena metode kekerasannya, ia mengambil beberapa kuping. Lalu memasukkannya ke dalam tas, dan mengirimkannya kepada Duta Besar saat itu, G. McMurtrie Godley. Tentu saja mengejutkan para diplomat dan stafnya.

    Suasana Patpong di malam hari. Anda sangat mudah mengenalinya dari papan nama. Foto: Richard S. Ehrlich/CNN Travel

    Poe juga mengambil potongan kepala dan melemparkan mereka keluar dari helikopter. Hal itu ia lakukan setidaknya pada dua kesempatan, terhadap kepala dua pimpinan di Pathet Lao. Informasi itu dibenarkan oleh Poe, saat wawancara di San Francisco pada 2001 dan yang lainnya sebelum ia meninggal pada 2003.

    “Itu adalah perang psikologis," kata Messner, menunjuk ke foto, senjata dan barang-barang lainnya yang melambangkan perang Amerika di Laos, Kamboja dan Vietnam. "Ini adalah lima telinga, telinga manusia, dipotong dan dirangkai pada sebuah rantai sehingga Anda bisa memakainya pada kalung atau sesuatu," katanya, menunjuk pada telinga karet palsu - interpretasi artistik dari pesanan Poe kepada pejuang Hmong untuk memotong telinga lawan.

    Di sudut museum, terdapat adegan pingpong ala Patpong. Siluet seorang wanita yang pahanya menjepit mesin latihan ping-pong, yang menembakkan bola putih kepada penonton untuk ditangkap. "Di sini, di Patpong, semua orang ingin melihat pertunjukan ping-pong," kata Messner.

    Museum ini mau tak mau, memang harus memajang “kenakalan”, di Patpong. Namun itu bukan menu utama, justru kisah Perang Vietnam dan drama di sekitarnya yang dominan. Messner menuai kritik.

    Menanggapi kritik tentang museumnya, Messner mencatat bahwa Perang Vietnam adalah fakta tak terelakkan dalam sejarah, "Orang-orang mati dalam perang, dan di dunia sekarang ini menjadi semakin abstrak," katanya. "Memberi perang dan membunuh, menciptakan kontroversi, itulah tujuan dari museum yang hidup. Kami tidak mengutuk atau memuliakan Tony Poe dan siapa pun yang terlibat dalam perang," ujarnya lagi

    Suasana Jalan Patpong di malam hari. Foto: @thailand.ir

    Patpong memang unik. Sebagai distrik merah prostitusi, ia menyimpan sejarah yang heroik. Tanpa Museum Patpong, orang hanya mengenal Patpong pasar malam yang ramai. Kios di luar ruangan mengisi Patpong Road setiap malam, menjual cinderamata, perhiasan, koper, dan kerajinan tangan bersama jam tangan palsu, aksesori fesyen dari desainer palsu, dan barang-barang populer lainnya. Dan tentu saja wanita-wanita untuk dikencani.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.