Cirebon Kota Udang? Ini Dia Kuliner Lezat Cirebon Tanpa Udang

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nasi Jamblang atau Sega Jamblang makanan khas Cirebon, Jawa Barat. Sega jamblang adalah nasi dingin yang dibungkus daun jati, kemudian dimakan bersama dengan lauk-pauk khasnya seperti rendang kecap, tahu air, sate kentang, paru goreng, dll. TEMPO/Subekti.

    Nasi Jamblang atau Sega Jamblang makanan khas Cirebon, Jawa Barat. Sega jamblang adalah nasi dingin yang dibungkus daun jati, kemudian dimakan bersama dengan lauk-pauk khasnya seperti rendang kecap, tahu air, sate kentang, paru goreng, dll. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Cirebon identik dengan kota udang, bahkan logo Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon berlambang udang. Lalu masih relevankah Cirebon disebut kota udang, sementara kulinernya yang populer tak lagi menggunakan udang. Mari menyimak asal usul julukan Cirebon, sebagai kota udang.

    Menurut aktivis komunitas Pusaka Cirebon "Kendi Pertula" Mitra Budaya Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Cirebon, Mustakim Asteja, mengisahkan Cirebon memang sudah dikenal sebagai kota udang. "Di perairan Cirebon udang dengan mudah bisa ditemukan," katanya. Tinggal serok saja, udang pun bisa didapat.

    Saat itu perairan Cirebon masih sangat alami. Belum terkontaminasi oleh limbah. Bahkan tidak hanya di laut, udang pun bisa ditemukan dengan mudah di sejumlah sungai yang melintasi Kota Cirebon – kota itu dilintasi enam sungai. Bahkan sebelum berdirinya kesultanan Cirebon sudah berdiri sebuah kerajaan yang bernama Pakungwati. Rajanya pun bergelar Pakungwati.

    Pakungwati berasal dari kata Pakung yang dalam bahasa Cirebon berarti udang. Pengukuhan Cirebon sebagai Kota Udang kembali dilakukan di zaman penjajahan Belanda. Saat membangun gedung pemerintahan, tepat di atas atap gedung dibuatkan patung udang.

    Namun alam kemudian berubah. Sejak tahun 1980-an, udang perlahan-lahan hilang dari perairan Cirebon. Penyebabnya karena limbah rumah tangga dan limbah pabrik yang dibuang ke sungai dan mengalir jauh ke laut. Sehingga udang pun enggan untuk berkembang biak dengan pesat di perairan Cirebon.

    Hal itu tentu mempengaruhi harga kuliner berbahan baku udang. Tapi, bila berburu kuliner udang di Cirebon mulai mahal dan jarang, kuliner berbahan non-udang ini tetap bikin Anda betah tinggal di Cirebon.

    Pelayan melayani warga yang ingin menikmati makanan khas kota Cirebon Nasi Jamblang di warung Bu Nur kawasan Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (8/3). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Nasi Jamblang

    Cirebon kadung identik dengan nasi jamblang. Itu seperti nasi uduk yang lekat dengan Jakarta atau nasi kucing dengan warga Yogyakarta. Nasi Jamblang punya ciri khas dengan bungkus daun jati. Asal usul nasi yang lezat untuk sarapan ataupun makan siang ini berasal dari  Desa Jampang, Kabupaten Cirebon. Karena unik dan juga murah, nasi jamblang akhinya populer dan menyebar ke seantero Cirebon. Lauknya, antara lain ikan asin, sate kerang, perkedel, tahu sayur, tempe, aneka pepes, ayam goreng dan lauk yang paling khas seperti tumis cumi hitam dan paru goreng yang renyah dan gurih.

     Empal gentong (kanan) dan empal asem (kiri) hidangan makanan di kedai Empal Gentong Krucuk 1, Cirebon. TEMPO/Bram Setiawan

    Empal Gentong

    Empal gentong selalu mengingatkan kepada Cirebon. Biasanya empal gentong dijajakan dengan menggunakan kuali dari tanah liat. Aromanya kian menggugah selera karena dipanaskan dengan menggunakan kayu bakar. Kuah kuning empal gentong sangat nikmat, memberikan rasa gurih kaldu sapi. Isiannya daging sapi pilihan yang lembut dan beberapa aneka jeroan.

    Docang

    Docang merupakan makanan khas Cirebon, berupa lontong, tauge, parutan kelapa ditambah dengan daun singkong dan taburan kerupuk. yang merupakan perpaduan dari lontong, daun singkong, toge, dan kerupuk, yang berkolaborasi sayur oncom yang terbuat dari ampas tahu dicampur sedikit bungkil kacang tanah yang dihancurkan. Semua keriuhan bumbu dan kuah itu, ditaburi dengan parutan kelapa muda. Makanan ini mempunyai rasa khas yang gurih dan nikmat apabila disajikan hangat.

    Tahu Gejrot di keraton Kanoman, Cirebon, Jawa Barat. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Tahu Gejrot

    Tahu gejrot terdiri dari tahu yang sudah digoreng kemudian dipotong agak kecil lalu dimakan dengan kuah yang bumbunya cabe, bawang putih, bawang merah, dan gula. Disajikan dalam piring kecil dengan kuah berasa manis, asam, dan pedas. Tahu yang biasa digunakan adalah tahu sumedang yang bertekstur lembut. Cara memakannya, dengan menggunakan tusuk gigi, karena ukuran potongannya yang kecil-kecil. 

    Empal Asam

    Empal gentong dan empal asem, sangat berbeda meski sama-sama menggunakan daging sapi atau jeroan. Empal asem memiliki rasa manis asam dengan kuah bening, ada irisan tomat sebagai campuran dalam kuahnya, juga irisan daun kucai. Sensasinya menyegarkan, karena rasa asam yang dominan dalam hidangan.

    Sepiring masakan docang khas Cirebon yang dapat ditemui di Pasar Kanoman. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Sate Kalong

    Ini bukan sate dari daging kalong atau kelelawar. Daging pada sate kalong menggunakan daging kerbau dan dijual pada malam hari. Itulah sebabnya sate ini dinamakan dengan sate kalong. Bentuk satenya pun dibuat berbeda dengan potongan daging kerbau yang panjang.

    Rasanya unik dan berbeda dari sate lainnya. Salah satu rasa khas sate kalong adalah rasanya yang manis. Bagi yang suka pedas tinggal mencocolkannya pada sambal pedas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.