Bersiaplah, Taman Godzilla Dibuka Pada 2020

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Taman hiburan Nijigen no Mori di Pulau Awaji di prefektur Hyogo menampilkan Godzilla yang keluar dari bawah tanah. Dok.TM & TOHO LTD

    Taman hiburan Nijigen no Mori di Pulau Awaji di prefektur Hyogo menampilkan Godzilla yang keluar dari bawah tanah. Dok.TM & TOHO LTD

    TEMPO.CO, Jakarta -  Saat pertama diproduksi Toho pada 1954, monster baik hati ini dinamai Gojira. Popularitasnya yang mendunia, menyebabkan namanya lebih beken sebagai Godzilla. Saking ngetop karakternya, perusahaan film Amerika segera membuat remake-nya hanya setahun sejak dirilis dari versi Jepang, Godzilla Raids Again.

    Lalu TriStar perusahaan film Hollywood, pada 1998, juga memproduksinya. Pada 2019 giliran Warner Bros jadi distributor bekerja sama dengan Toho. Pendek kata Godzilla adalah produk Jepang yang jadi ikon budaya pop dunia.

    Karakternya yang penuh murka namun pengasih, menjadikannya disukai di seluruh dunia. Nah, untuk mendekatkan sang monster dengan fans-nya, dibuatlah Taman hiburan Nijigen no Mori di Pulau Awaji di prefektur Hyogo.

    Taman ini bakal dibuka pada 2020, yang menampilkan Godzilla menyeruak dari bawah tanah, setinggi 20 meter (65 kaki), lebar 25 meter (82 kaki) dan dengan total panjang 55 meter (180 kaki) - ukurannya persis yang ada di film. Keiju alias monster yang lahir dari radiasi bom Hiroshima dan Nagasaki ini siap menelan siapa saja.

    Kabarnya, Nijigen no Mori menjadi tempat pertama yang memiliki replika permanen, ukuran penuh dari monster populer ini. Di dalam taman itu, terdapat taman tematik: "Godzilla Interception Operation", di mana pengunjung dapat memberi makan langsung ke mulut Godzilla. Dan di dalamnya terdapat permainan menembak dengan sasarannya Godzilla.

    Godzilla menyeruak dari bawah tanah, setinggi 20 meter (65 kaki), lebar 25 meter (82 kaki) dan dengan total panjang 55 meter (180 kaki) - ukurannya persis yang ada di film. Dok. TM & TOHO LTD

    Kegiatan ini disebut "misi," dan pengunjung diminta bantuan untuk menangkap atau mengalahkan Godzilla. Dan, tentu saja, akan ada toko suvenir, "Sosok legendaris Godzilla pertama kali dikonfirmasi pada awal era Meiji ketika topan menghantam Pulau Awaji," demikian bunyi tulisan di blog di situs web taman hiburan itu. "Godzilla, yang muncul dengan ombak tinggi, menjelajahi pulau, menyebabkan kerusakan yang luar biasa."

    Film Godzilla pertama kali diperkenalkan ke AS pada tahun 1954, menginspirasi beberapa remake, yang semuanya mengangkat tema kadal gigantis yang mengamuk meratakan kota. Selain menjadi rumah, area penahanan - kadal raksasa paling mematikan di dunia, Nijigen no Mori juga memiliki wahana dan pameran berdasarkan anime Jepang dan karakter kartun seperti Crayon Shinchan.

    Keberadaan taman tematik ini, diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke Jepang. Para penggemar Godzilla setelah bermain-main di taman ini, bisa berwisata ke Shinjuku di Tokyo. Untuk menyaksikan replika kepala Godzilla yang seolah-olah menerobos atap Hotel Gracery. Panjang kepala Godzilla itu mencapai 12 meter (39 kaki) dengan aksesoris semburan api dari mulutnya.

    Hotel Gracery Shinjuku di Tokyo memiliki replika kepala Godzilla yang seolah-olah menerobos atap Hotel Gracery. Wisatawan atau tamu menggunakannya untuk ajang swafoto. Foto: @scottwthr

    Para tamu di Hotel Gracery bisa memesan kamar khusus dengan tema tertentu – misalnya Godzilla. Bahkan dapat pula memesan kamar dengan pemandangan sempurna kepala Godzilla, di lanyai delapan. Sukses Godzilla II: King of the Monsters menjadi film Box Office, dengan laba US$385,9 juta, mendorong pembuatan sekuelnya: Godzilla vs Kong, yang dibintangi Millie Bobby Brown dan Kyle Chandler.

    Sembari menanti film epik Godzilla, yuk ke Nijigen no Mori untuk merasakan sensasi berhadapan langsung dengan monster ganan, brutal, tapi baik hati ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.