Gara-Gara Angin Kencang, Wisata Petik Apel di Batu Batal

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Angin kencang merusak lima persen dari 30 hektare perkebunan apel di wilayah Kota Batu, mengakibatkan wisata petik apel batal. TEMPO/Eko Widianto

    Angin kencang merusak lima persen dari 30 hektare perkebunan apel di wilayah Kota Batu, mengakibatkan wisata petik apel batal. TEMPO/Eko Widianto

    TEMPO.CO, Malang - Angin kencang beberapa hari lalu, yang bertiup di wilayah Kota Batu, merusak sekitar lima persen dari 30 hektare tanaman apel di Desa Sumber Brantas, Bumiaji, Kota Batu, "Kerugian sekitar Rp2 miliar," kata salah seorang petani apel, Muhammad Anwar.

    Kebun tanaman apel ini biasa dikelola petani untuk wisata petik apel. Para wisatawan mancanegara dan domestik pada November dipastikan mampir untuk memetik dan mencicipi buah apel langsung di kebun. Wisata petik apel ini selalu ramai, pasalnya memetik buah apel langsung dari pohon menjadi sensasi tersendiri bagi para wisatawan.
     
    Kini, aktivitas petik apel tersebut tak dihelat pada tahun ini di perkebunan apel lereng Gunung Arjuna itu. Sebagian petani mengolah buah apel yang rontok menjadi jenang, minuman sari apel atau keripik apel. Buah apel diperkirakan siap panen bulan depan. "November masa panen raya bagi petani apel," kata pengurus Koperasi Bolo Tani Makmur.
     
    Petani apel gagal panen mengakibatkan modal usaha para petani ludes. Padahal mereka menggantungkan pinjaman ke perbankan. Total kredit yang diajukan dua bulan lalu sebanyak Rp 5 miliar.
     
    Mereka menggunakan sertifikat tanah atau surat kendaraan sebagai jaminan. Pembayar kredit dilakukan dalam tempo enam bulan sekali. Saat panen. Anwar bersama para petani meminta perbankan memberi waktu penundaaan pembayaran selama semusim atau enam bulan. Jika tak ada kemudahan, para petani terancam gagal bayar angsuran kredit tersebut.
     
    Petani apel menderita kerugian, karena apel yang biasa digunakan untuk wisata petik apel rusak akibat angin kencang. TEMPO/Eko Widianto
     
    Selama ini, petani tak dilindungi asuransi. Selain petani apel, petani komoditas lain seperti tanaman holtikultura juga mengalami kondisi yang sama. Green house tanaman hancur. Tanaman sayuran yang rusak antara lain wortel, kentang, dan kol. Sekitar 80 persen tanaman kentang gagal panen. EKO WIDIANTO
     
     
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.