3 Faktor yang Bikin Kalender Event 2020 Lebih Berkualitas

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan bisa ke kebun teh atau bersepeda menyusuri sawah. Foto: @kaliandra_sejati

    Wisatawan bisa ke kebun teh atau bersepeda menyusuri sawah. Foto: @kaliandra_sejati

    TEMPO.CO, Jakarta - Kalender event atau Calender of Event (CoE) 2019 sangat membantu para wisatawan. Agenda tersebut menjadi semacam navigasi, untuk mengarahkan perjalan di seluruh destinasi di tanah air. CoE juga memungkinkan wisatawan menyusun anggaran untuk berwisata.

    CoE pada 2020, tentu diharapkan menjadi lebih berkualitas. Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menegaskan perlu tiga hal untuk meningkatkan kualitas Top-100 National Calender of Event (CoE) 2020. 

    “Ketiga hal itu adalah meningkatkan media value, cultural creatives value, dan meningkatkan CEO commitment,” kata Menpar Arief Yahya ketika meluncurkan 100 National Calender of Event (CoE) 2020 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, Kantor Kementerian Pariwita (Kemenpar), Selasa malam (15/10/2019). 
     
    Hadir dalam acara launching itu para bupati dan kepala Dinas Pariwisata dari 34 provinsi seluruh Indonesia. Menpar Arief Yahya menjelaskan, meningkatkan media value sangat penting untuk menarik kunjungan wisatawan ke event tersebut. Untuk ini perlu dialokasikan anggaran yang memadai minimal 50 persen untuk media value dan 50 persen penyelenggaraan event. 
     
    Festival Pesona Senggigi 2019 juga memberi pesan kepada dunia, bahwa pariwisata Lombok telah bangkit. Foto: Dok. Humas Pemkab Lombok Barat
     
    Dari separuh anggaran media value tersebut, menurut Arief Yahya, 50 persen dilakukan saat pre-event, 30 persen ketika on-event, dan 20 persen post-event (POP). “Bagaimana penyelenggaraan event itu dikatakan sukses kalau tidak diketahui wisatawan. Suksesnya event kalau bisa menarik wisatawan dalam jumlah besar,” kata Arief Yahya.
     
    Hal penting yang perlu dilakukan adalah meningkatkan cultural creatives value, karena masih terjadi ketimpangan kualitas dalam penyelenggaraan event di daerah baik dari segi koreografi, arrangement music, maupun penataan kostum atau busana. 
     
    “Saya minta agar tim kurator CoE melakukan coaching clinic secara rutin setiap tiga bulan sekali, untuk memberi pelatihan dalam meningkatkan cultural creatives,” kata Arief Yahya. 
     
    Selain itu pemerintah daerah perlu melakukan benchmarking ke daerah lain yang tercatat sukses dalam menyelenggarakan festival budaya. 
     
    “Di antara event yang terbaik dan masuk dalam Top-10 dari 100 CoE adalah Pesta Kesenian Bali (PKB) yang setiap tahun sukses dalam penyelenggaraan parade maupun festival budaya,” kata Arief Yahya. 
     
    Ketiga yang terpenting adalah CEO commitment merupakan komitmen gubernur dan bupati (kepala daerah). Kepala daerah dinilai Arief harus mempunyai komitmen kuat untuk mengembangkan pariwisata di daerahnya  antara lain dengan pengalokasian anggaran di sektor pariwisata.
     
    “Para kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) bisa melakukan benchmarking ke Malaysia maupun Thailand. Pemerintah Thailand, misalnya, mewajibkan setiap desa memiliki satu event. Kita mempunyai 75.000 desa bila setiap desa memiliki satu event pariwisata akan luar biasa,” kata Arief Yahya.
     
    Ketua Tim Pelaksana CoE Kemenpar Esthy Reko Astuty melaporkan, Tim Pelaksana CoE meminta kepada 34 provinsi agar masing-masing mengirimkan 10 event untuk dikurasi oleh tim kurator CoE. “Ada daerah yang mengirim hanya tiga event, ada yang 20 event bahkan 43 event. Pada akhirnya terkumpul 369 event kemudian dikurasi,” kata Esthy Reko Astuty. 
     
    Tim kurator CoE di antaranya Taufik Rahzen (cultural value), Eko Supriyanto, Denny Malik, Heru Prasetya (creative value), Don Kardono (communicantion/media value), dan Jacky Mussry (commercial/economic value). Tim kurator tersebut melakukan beauty contest untuk memilih Top-100 CeO dengan menggunakan kreteria 3C (Cultural/Creative Values, Commercial dan Communication Values, dan CEO Commitment). 
    Festival Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan untuk mempromosikan wisata Surabaya termasuk kuliner dan berbagai produk UMKM. Foto: @surabayasparkling
     
    Dari 100 event tersebut juga ditetapkan sebagai Top-10 CoE 2020. “Event yang masuk dalam CoE 2020 akan mendapatkan pendampingan dari Kemenpar agar memiliki nilai jual serta lebih menarik bagi wisatawan,” kata Esthy Reko Astuty. 
     
    CoE Wonderful Indonesia berawal dari arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat Sail Tomini pada 2015. Ketika itu Presiden mengharapkan agar penyelenggaraan event di Indonesia mempunyai standar nasional dan internasional, dalam kemasannya baik dari segi koreografi, aransemen musik, maupun penataan kostum atau busana. 
     
    CoE Wonderful Indonesia pertama kali dibukukan dan dibuat pada 2017, namun saat itu belum menggunakan kurator dalam pemilihan event. Kemenpar hanya meminta usulan Top 3 events dari masing-masing provinsi. 
     
    Kemudian tahun berikutnya pada 2018 hingga sekarang penentuan CoE wajib menggunakan kriteria 3C (Cultural/Creative Values, Commercial dan Communication Values, dan CEO Commitment) dan dikurasi oleh para kurator profesional di bidangnya.
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.