Superyacht Ini Bikin Wisata Bahari Kian Ramah Lingkungan

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Superyacht Aqua memulai revolusi kapal pesiar bermesin hidrogen. Foto: Sinot Yacht Architecture & Design 2019

    Superyacht Aqua memulai revolusi kapal pesiar bermesin hidrogen. Foto: Sinot Yacht Architecture & Design 2019

    TEMPO.CO, Jakarta - Penelitian Nature, sebuah lembaga independen, menemukan polusi karbon dalam aktivitas pariwisata di 160 negara. Liburan mewah bertanggung jawab atas hampir 8 persen dari pembuangan gas rumah kaca dunia. Wisata bahari juga menyumbang polusi tak sedikit. 

    Tentu saja, yacht yang ramah lingkungan di destinasi wisata bahari harus diperbanyak. Sebagaimana dinukil dari CNN Travel, mengurangi pembuangan karbon menjadi inspirasi perusahaan desain kapal pesiar Belanda, Sinot, melansir model konsep superyacht mutakhir. Sinot bakal mendorong industri superyacht ke arah yang lebih ramah lingkungan.

    Proyek yang dinamai Aqua itu, merupakan buah kolaborasi Sinot dengan Lateral Naval Architects. Superyacht Aqua berukuran 112 meter dan sepenuhnya berbahan bakar hidrogen cair dan teknologi sel bahan bakar – polusinya berupa uap air. Teknologi ini sebenarnya sudah diterapkan pada bus-bus hidrogen di Uni Eropa sejak awal 2000. 

    Superyacht, yang memiliki fasilitas canggih ini, dapat melaju dengan kecepatan tertinggi 17 knot, dengan jangkauan 3.750 mil laut, "Untuk pengembangan Aqua, kami mengambil inspirasi dari gaya hidup pemilik yang cerdas dan berwawasan masa depan, kami menggabungkan fleksibilitas Aqua dan teknologi terkini, dengan fitur yang benar-benar inovatif," kata perancang Aqua, Sander Sinot.

    Aqua menggabungkan estetika, desain, dan teknologi. Perusahaan desain yacht Sinot menggandeng Lateral Naval Architects untuk mengembangkan Aqua. Foto: Sinot Yacht Architecture & Design 2019

    Aqua telah tampil di depan publik, dalam perhelatan Monaco Yacht Show pada bulan September 2019 lalu, "Tantangan kami adalah mengimplementasikan sel-sel hidrogen dan bahan bakar cair yang beroperasi penuh dalam superyacht, yang tidak hanya inovatif dalam teknologi tetapi juga dalam desain dan estetika," imbuh Sinot.

    Sistem teknologi Aqua akan bergantung pada dua tangki vakum terisolasi seberat 28 ton, yang harus disimpan pada suhu serendah -253 C. Hidrogen cair diubah menjadi energi listrik oleh sel bahan bakar membran pertukaran proton (PEM).

    Energi ini kemudian disalurkan ke sirkuit kapal dan didistribusikan, untuk menyediakan daya untuk tenaga penggerak, sistem tambahan, dan layanan hotel. Klaim Sinot memang benar, Aqua merupakan penggabungan teknologi, desain, dan estetika. Desain eksterior dan interior untuk Aqua, membutuhkan waktu lima bulan mulai dari konsep hingga desain.

    Superyacht futuristik ini menampilkan kolam renang dan helipad. Kemewahannya dilengkapi dengan dengan spa, yang tersebar di lima dek. Aqua juga akan memiliki ruang pijat hidro, ruang yoga, platform berenang dan dek pantai dekat dengan garis air.

    Keberadaan Aqua, akan memicu lahirnya yacht dan superyacht yang lebih ramah lingkungan. Agar aktivitas pariwisata kian ramah lingkungan.

    Ruang kemudi Aqua merupakan otak dari superyacht canggih ini. Semua kondisi yacht terpantau melalui dasbor. Foto: Sinot Yacht Architecture & Design 2019


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.