Malam Berganti Parafin Sawit, Batik Yogyakarta Berevolusi

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dekranasda Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Lisda Hendrajoni mewarnai pola batik Mandeh Rubiah didampingi pewaris tahta Mandeh Rubiah VII, Sabtu, 24 Agustus 2019. ANTARA

    Ketua Dekranasda Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Lisda Hendrajoni mewarnai pola batik Mandeh Rubiah didampingi pewaris tahta Mandeh Rubiah VII, Sabtu, 24 Agustus 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Selama ribuan tahun, malam digunakan sebagai bahan utama pembuatan batik -- termasuk batik Yogyakarta. Malam berfungsi sebagai pemblok warna antar motif. Namun, belakangan ketika berbagai campuran kimia jadi komposisi pembuatan malam, pemblok warna ini tak ramah lingkungan.  

    Kini batik dituntut menggunakan sumber daya yang lestari, dapat terbarukan dan lokal. Terutama untuk penyediaan bahan baku utamanya, yakni malam batik.

    Selama ini pengrajin menggunakan malam dengan komponen seperti parafin, gondorukem, microwax, kote, damar, mata kucing dan CPO, "Selama ini bahan malam untuk membatik memakai unsur parafin yang sumbernya berasal dari minyak bumi, jadi suatu saat akan habis," ujar Perekayasa Utama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Indra Budi Susetyo di Yogyakarta, Kamis 10 Oktober 2019.

    Indra menuturkan, pemakaian bahan malam batik dari sumber daya tak terbarukan seperti minyak bumi itu, justru akan mengancam keberlangsungan warisan budaya dunia yang telah ditetapkan UNESCO tersebut.

    Indra menuturkan saat ini BPPT sendiri telah mengembangkan inovasi untuk menggantikan unsur parafin dalam komposisi malam batik itu. Melalui penggantian parafin dengan bio paraffin substitute atau kerap disebut Bio Pas yang merupakan hasil olahan kelapa sawit.

    Minyak sawit dinilai memiliki fraksi padat stearin, yang saat ini umumnya dipisahkan dalam industri refinery – fraksinasi, yang berpotensi dapat digunakan sebagai bahan baku untuk produk pengganti parafin.

    Malam batik umumnya menggunakan bahan parafin dari minyak bumi. Kini diperkenalkan parafin yang berasal dari minyak sawit. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

    Namun lemak padat sawit tersebut masih memerlukan berbagai tahapan proses modifikasi struktur molekulnya, untuk dapat kompatibel dengan komponen-komponen penyusun formula malam batik lainnya. Sehingga diperoleh karakteristik formula malam batik yang tepat.

    Tetapi karena telah mengalami proses sintesa yang diperlukan, lemak padat sawit tersebut tidak hanya akan menggantikan kendal; atau minyak lain yang digunakan dalam formula malam batik.

    Indra mengatakan bahan pengganti parafin ini sudah mulai digencarkan untuk diaplikasikan para pengrajin batik. Dalam rangkaian Pameran Batik 2019 yang dihelat Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta 9-13 Oktober 2019 di Yogyakarta, BPPT memperkenalkan Bio Pas kepada 40 peserta dari kelompok batik asal kabupaten Sleman, Bantul, Gunungkidul, dan Purworejo. Mereka mendapatkan pengenalan dan pelatihan ihwal pengganti parafin untuk malam batik itu.

    Indra mengungkapkan penggantian parafin pada malam batik lewat olahan kelapa sawit ini, juga ekonomis. Penggunaan parafin sawit itu bisa menekan biaya produksi hingga 20 persen. "Kami yakin kalau semakin dikenal, para produsen batik akan menggunakannya," tuturnya.

    Saat ini produsen batik di tanah air memang belum banyak yang menggunakannya. Sebab inovasi itu baru mulai dikenalkan sejak 2017 lalu mulai di Yogyakarta, Solo, Banyumas, juga Pekalongan. "Produk sudah ada yang dijual di pasaran namum jumlahnya belum banyak," ungkapnya.

    Peneliti Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta Kementrian Perindustrian RI Farida mengatakan, malam batik tanpa parafin minyak bumi ini sudah diformulasi menjadi bahan yang menghasilkan kualitas bagus.

    Penggunaannya pada proses pembatikan mampu menjadi perintang warna yang bagus. "Tidak terdapat rembesan warna yang masuk di tapak alat membatik atau canting," katanya.

    Selain itu, kata dia, hasil pewarnaan yang dihasilkan lebih tajam dan cerah. Karena tahan terhadap larutan alkali dan asam akibat zat pewarna sintesis.

    Pembatik menyelesaikan proses pembuatan batik kombinasi tulis dan cap motif dua jari di Batik Putra Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Selasa, 12 Maret 2019. Batik motif dua jari tersebut banyak dipesan relawan dan pendukung pasangan Capres no urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. ANTARA/Mohammad Ayudha

    Kepala BBKB Titi Purwati Widowati mengatakan, formulasi turunan sawit ke dalam malam batik merupakan substitusi potensial dari parafin untuk industri kreatif batik. "Ini memberi peluang kemandirian dan jaminan penyediaan bahan secara jangka panjang berbasis bahan terbarukan lokal," kata dia.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.