Berpotensi Longsor, Pendaki Semeru Harus Makin Sabar Menanti

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Padang savana yang terbakar di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Gunung Semeru. TEMPO/Eko Widianto

    Padang savana yang terbakar di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Gunung Semeru. TEMPO/Eko Widianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebakaran di lereng Gunung Semeru berpotensi menimbulkan masalah baru. Kebakaran hutan di kawasan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) dikhawatirkan akan menyebabkan tanah longsor.

    Pegiat konservasi Andi Gondronk mengingatkan potensi longsor yang ada di depan mata, "Kayaknya harus bersabar agak lama untuk melakukan perjalanan ke Semeru. Semua jalur pendakian rawan longsor akibat semua pohon terbakar habis. Beberapa mata air penting di sekitaran Ranupani juga rawan kekeringan," kata Andi, Kamis 10 Oktober 2019.

    Humas BBTNBTS Sarif Hidayat mengaku petugas fokus menangani pemadaman kebakaran hutan. Saat ini, masih ada satu titik kebakaran blok Pasangan kawasan Ranu Pani. "Kami belum beranjak kepada tahap analisis dampak kebakaran hutan," katanya. 
     
    Petugas di lapangan, katanya, masih  berupaya dengan pengendalian kebakaran. Ada lokasi yang  belum berhasil dipadamkan dan malah  muncul asap kembali. Lokasi kebakaran memiliki topografi kelerangan, curang menjadi hambatan kabakaran. 
     
    Kebakaran memasuki pekan ke tiga. Lokasi kebakaran sulit di jangkau. Medan terjal dan berbukit. Sehingga menjadi salah satu hambatan memadamkan api. Ditambah angin kencang dan cuaca panas. Seresah,  dan semak belukar mengering menjadi bahan bakar efekti. Api merembet ke beberapa titik. 
     
    Di blok Pasangan lahan yang terbakar seluas 2,5 hektare. Sedangkan sejumlah titik terbakar yang berhasil dipadamkan berada di Arcopodo, kelik, Watupecah, Waturejeng, Ayek-ayek, Pusung Gendero, Ranu Kumbolo, Pangonan Cilik, Oro-oro Ombo, Watu Tulis, Kemlamdingan Dowo, Sentong, Pasang Kupluk dan Gunung Lanang.
     
    Area hutan yang terbakar seluas 102 hektare, untuk memadamkannya petugas dan relawan menggunakan beragam peralatan memadamkan jetshooter, garu, sabit, parang, dan flame freeze. Mereka memadamkan api menggunakan air dari sumber air Ong sejauh sekitar 3 kilometer. 
     
    Relawan berusaha mematikan kobaran api lereng Gunung Semeru. Tinggal satu titik lagi, kebakaran selesai dipadamkan. Foto: BBTNBTS
     
    Sebagian besar lahan yang terbakar meliputi vegetasi berupa seresah dan semak kering. Pemadaman kebakaran hutan difokuskan membuat sekat bakar  agar api tak meluas. Prinsip pemadaman api mengutamakan keselamatan safety first. 
     
    Pemadaman api diutamakan daerah yang mudah terjangkau. Relawan harus memperhatikan arah dan kecepatan angin. EKO WIDIANTO
     
     
     
     
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.