Pasca Kerusuhan, Obyek Wisata di Wamena Tetap Bisa Dikunjungi

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mumi Agat Mamete Mabel di desa Pumo, Distrik Wogi Silakarmo Doga, Wamena, kabupaten Jayawijaya, Papua, 9 Agustus 2017. Mumi tersebut diawetkan dengan cara diasap sambil dibalur lemak babi di dalam sebuah Honai khusus, atau rumah adat Papua. Tempo/Rully Kesuma

    Mumi Agat Mamete Mabel di desa Pumo, Distrik Wogi Silakarmo Doga, Wamena, kabupaten Jayawijaya, Papua, 9 Agustus 2017. Mumi tersebut diawetkan dengan cara diasap sambil dibalur lemak babi di dalam sebuah Honai khusus, atau rumah adat Papua. Tempo/Rully Kesuma

    TEMPO.CO, Jakarta - Pasca kerusuhan Wamena, obyek wisata budaya atau obyek wisata alam masih bisa dikunjungi oleh para traveler. Hal ini karena destinasi wisata tersebut dalam kondisi aman, tidak terkena dampak kerusuhan.

    Letak obyek-obyek wisata tersebut berada di pinggir Kota Wamena. Kerusuhan Wamena hanya terjadi di pusat perekonomian Wamena, kata arkeolog Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, Selasa, 8 Oktober 2019..

    Menurut Hari, selain itu, dalam budayanya, Suku Dani sebagai pemilik obyek wisata budaya seperti mumi, selalu menjaga peninggalan leluhur mereka.

    "Rumah-rumah tradisional Suku Dani di sekitar Wamena dan Lembah Baliem juga masih utuh, sehingga bagi penyuka trekking masih dapat menyaksikan kehidupan tradisional dan pemukiman tradisional Suku Dani," katanya.

    Situs Gua Kontilola dengan gambar lukisan prasejarah, yang oleh masyarakat disebut  "alien", di dalamnya juga aman dari kerusuhan.

    Lukisan dinding gua prasejarah di Gua Kontilola di Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya, Papua. (Dok. Hari Suroto/Balai Arkeologi Papua)

    "Mama-mama Suku Dani yang kreatif juga masih tampak terlihat bersemangat merajut noken, baik untuk dipergunakan sendiri atau untuk dijual pada wisatawan," katanya.

    Labu air yang digunakan sebagai bahan koteka, juga masih banyak dijumpai di pekarangan honai. Rotan dan rumput sebagai bahan untuk membuat gelang dan cincin khas Wamena juga masih banyak dan mudah didapatkan.

    Kebun-kebun di pinggiran Wamena juga masih menghasilkan ubi jalar serta keladi, sebagai kuliner tradisional Lembah Baliem. Udang selingkuh juga masih bisa didapatkan di Sungai Baliem.

    "Koteka, noken, gelang, dan cincin khas Wamena merupakan oleh-oleh bagi traveler. Ubi jalar dan keladi yang diolah dengan bakar batu, serta udang selingkuh merupakan kuliner unik yang banyak dicari bagi para traveler yang berkunjung ke Wamena," kata Hari, yang sering melakukan penelitian di Baliem.

    Lembah Baliem sendiri merupakan daerah eksotis dengan keindahan alam dan budayanya. Dengan modal obyek wisata budaya, alam dan produk kreatif khas Wamena maka pariwisata akan membangkitkan perekonomian Wamena yang terpuruk akibat kerusuhan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.