Sebentar Lagi Batik Yogyakarta Dijaga Batik Analyzer

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perajin menjemur kain batik di industri batik rumahan di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu 19 Juni 2019. Menurut salah seorang perajin, permintaan seragam batik sekolah untuk tahun ajaran baru meningkat sebesar sekitar 25 persen daripada hari biasa, dengan harga jual kain batik berkisar Rp25.000 per meter. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra

    Perajin menjemur kain batik di industri batik rumahan di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu 19 Juni 2019. Menurut salah seorang perajin, permintaan seragam batik sekolah untuk tahun ajaran baru meningkat sebesar sekitar 25 persen daripada hari biasa, dengan harga jual kain batik berkisar Rp25.000 per meter. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Perhelatan akbar memperingati Hari Batik Nasional bakal digelar di Yogyakarta mulai tanggal 9 hingga 13 Oktober 2019. Acara tersebut dipusatkan di gedung pameran Jogja Expo Center.

    Dalam ajang bertajuk Pameran Batik 2019 yang dihelat Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda), Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) serta Kementerian Perindustrian itu, pengunjung tak hanya disuguhi berbagai kerajinan batik terkini dari ratusan perajin yang berpartisipasi. Termasuk pengrajin batik Yogyakarta.

    Namun juga sejumlah teknologi terapan dalam industri batik yang terbaru juga diperkenalkan, “Dalam pameran itu kami akan menampilkan Batik Analyzer, suatu teknologi artificial intelligence yang dipakai untuk mendeteksi keaslian kain bermotif batik,” ujar Titik Purwati Widowati, Kepala BBKB di Yogyakarta 4 Oktober 2019.

    Titik menuturkan inovasi Batik Analyzer ini berawal dari kesulitan masyarakat membedakan kain batik dan tiruan yang beredar di pasaran. Khususnya pasca banjirnya produk impor tiruan batik, dengan harga yang sangat murah dan mengancam pengrajin.

    Selain Batik Analyzer itu, pada pameran yang akan datang itu, Balai Riset dan Standardisasi Industri (Baristand) Padang akan mengenalkan inovas zat pewarna alami untuk pewarna batik.

    Zat warna alam tersebut diekstrak dari tanaman gambir yang diolah menjadi bahan pewarna batik, menggantikan pewarna sintetis yang saat ini masih banyak diimpor dari luar negeri. Sementara Balai Besar Tekstil akan ikut memamerkan hasil penelitiannya berupa Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Dobby Elektronik.

    Pengembangan desain struktur kain tenun untuk bahan baku kain batik menjad lebih mudah dan praktis, dengan menggunakan ATBM Dobby Elektronik. Di mana inovasi itu sedang dikembangkan versi terbarunya, berupa perangkat Dobby Elektronik yang kompatibel dengan ATBM vang digunakan di industry kecil menengah berbasis Internet of Things (loT).

    Melalui inovasi ini proses desain motif dapat dikerjakan di mana saja, kemudian langsung terkoneksi ke operator ATBM dan dapat langsung ditenun, tanpa harus membuat motif di papan paku dobby secara manual.

    Sekretaris Dekranasda DIY Roni Guritno mengatakan pameran batik kali ini mengusung sejumlah teknologi seputar batik. Sebab pembuatan batik kini tidak terbatas dengan menggunakan canting atau biasa disebut batik tulis. Adapula batik cap yang dibuat menggunakan cap atau alat semacam stempel.

    Yogyakarta menjadi tuan rumah perhelatan akbar ini, karena pada 18 Oktober 2014 lalu kota ini dinobatkan sebagai Kota Batik oleh World Craft Council (WCC).

    “Untuk mempertahankan penghargaan bagi Yogyakarta itu dilakukan dengan terus membina dan mengembangkan produk batik, sehingga batik menjadi kekuatan budaya dan ekonomi DIY,” ujar Roni.

    Roni menambahkan, pameran kali ini melibatkan 150 perajin batik dan turunannya dari industri kecil menengah (IKM) di DI Yoyakarta dan berbagai daerah di Indonesia. 

    Para peserta nyanting bareng itu berasal dari sejumlah instansi yang tergabung dalam Paguyuban Instansi Sukonandi merayakan Hari Batik Nasional. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Masih dalam momentum peringatan hari batik, pada Jumat (4/10) tak kurang 100 orang turun ke jalanan untuk menggelar aksi nyanting bareng atau membatik bersama di sepanjang jalan Sukonandi, Yogyakarta.

    Para peserta nyanting bareng itu berasal dari sejumlah instansi yang tergabung dalam Paguyuban Instansi Sukonandi, yang merayakan Hari Batik Nasional yang digagas Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta.

    “Aksi nyanting batik bareng ini selain memotivasi masyarakat melestarikan batik juga memberi pemahaman benar antara produk batik dan bukan batik,” ujar Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik, Titik Purwati.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.