Museum Anatomi Ini Bikin Pengunjung Merinding

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Museum Josephinum di Wina menyimpan koleksi patung anatomi lilin. Foto: Michele Enemark

    Museum Josephinum di Wina menyimpan koleksi patung anatomi lilin. Foto: Michele Enemark

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebangkitan Eropa atau renaisans memunculkan perspektif baru dalam dunia kedokteran. Namun perkembangan ilmu kedokteran terganjal oleh larangan membedah mayat. Untuk itu seniman-seniman patung lilin dipekerjakan untuk membuat anatomi tubuh manusia dengan detail.

    Karya mereka diperuntukkan bagi mahasiswa kedokteran yang sedang belajar anatomi di seluruh dunia. Ketelitian dan detail patung-patung lilin itu, menghadirkan kengerian dan menyebabkan merinding para pengunjung. Berikut museum-museum anatomi yang jadi destinasi wisatawan dunia.

    Museum Josephinum, Wina

    Dulunya merupakan akademi untuk calon ahli bedah tentara kekaisaran, Josephinum sekarang menjadi museum medis yang menampung koleksi model anatomi lilin terbesar kedua di dunia, dan koleksi terbesar model obstetri lilin. Interior museum didominasi kayu rosewood dan kaca dari akhir tahun 1700-an. Ruangan museum menampung 1.192 model potongan bagian tubuh.

    Patung-patung ini digunakan untuk melatih mahasiswa kedokteran, saat pembedahan mayat belum memiliki peralatan canggih, tabu, dan tidak nyaman. Detailnya sangat akurat, hingga benang yang dicelupkan lilin berfungsi sebagai vena dan arteri. Seribuan patung-patung rapuh itu, didatangkan dari bengkel seniman lilin di Florence, Itali, ke Wina, Austria. Diangkut dengan keledai melewati pegunungan Alpen dan melintasi Sungai Danube.

    Anatomi Venus karya Clemente Micaelangelo Susini, yang tersimpan di Museum Josephinum. Foto: Michelle Enemark

    Anatomi paling ikonik di Museum Josephinum adalah "Anatomical Venus". Patung lilin wanita itu, terinspirasi oleh dewi kecantikan, berbaring terlentang di peti mati kaca dengan dadanya terbuka lebar untuk mengungkapkan anatomi hatinya. Dengan rambut panjang, bulu mata, mutiara, dan ikat kepala emas, Putri Salju yang patah hati ini adalah contoh indah dari perkawinan seni dan sains pada abad ke-18. Museum ini juga memiliki banyak koleksi instrumen medis awal.

    Museum Cagalari, Universitas Cagliari, Italia

    Clemente Micaelangelo Susini adalah seniman besar lilin abad ke-18. Ia mulai bekerja di sebuah studio anatomi lilin saat berusia 19 tahun. Dialah pencipta Anatomical Venus yang ngetop di dunia kedokteran. Dialah pula seniman yang membuat patung-patung anatomi dari lilin di Museum Josephinum, Wina.

    Model-model buatan Susini, sangat detail dan pengerjaanya rumit, juga rapuh. Karyanya disimpan pula di Museum Cagalari, Universitas Cagliari. Dulunya, model-model lilin itulah yang dipelajari mahasiswa kedokteran di Universitas Cagliari.

    Museum Cagalari di Universitas Cagliari Italia, menyimpan karya Susini yang dnamai Venom. Foto: pacs.unica.it

    Museum La Specola, Florence

    Museum La Specola merupakan yang terbesar di Italia. Museum ini merupakan bagian dari Museum Sejarah Alam di Florence. Selain anatomi, museum ini juga menyimpan karya taksidermi yang indah, termasuk spesimen yang sudah punah dan kuda nil. Taksidermi merupakan teknik mengawetkan binatang dengan membuang bagian dalamnya, lalu diisi secermat mungkin dengan bahan-bahan yang membuat bentuknya tak berubah.

    La Specola adalah museum publik tertua di Eropa, yang dimulai sebagai koleksi pribadi keluarga Medici. Museum Itu dibuka untuk umum pada tahun 1775. Bila Museum Josephinum memiliki koleksi Anatomi Venus, museum ini memiliki Venom, model lilin wanita telanjang yang berpose semi-erotis, isi perut dan tulang rusuk terpapar jelas. Bentuk-bentuk wanita yang patah hati ini adalah favorit Marquis de Sade.

    Museum Semmelweis, Bukarest

    Museum Medis Semmelweis (Semmelweis Orvostörténeti Múzeum) di Budapest berisi pula anatomi Venus yang dibuat oleh Clemente Susini, mesin sinar-X awal, dan kepala keriput. Selaras dengan namanya, museum ini dulunya merupakan tempat ahli kandungan Dr. Semmelwies dilahirkan. Tetapi elemen yang paling menarik dari museum adalah kisah Semmelweis sendiri.

    Semmelweis bekerja pada pertengahan 1800-an di bangsal bersalin di sebuah klinik di Rumania. Saat itu para wanita banyak yang meninggal usai melahirkan yang disebut "childbed sickness," yang kini dikenal sebagai demam nifas. Sebanyak 30 persen ibu meninggal karena penyakit ini setiap bulan. Semmelweis tersiksa atas kematian begitu banyak wanita, tetapi tidak dapat menemukan penyebabnya. 

    Di Bukares terdapat Museum Semmelheis yang memiliki koleksi anatomi manusia dari lilin dan alat-alat kedokteran dari abad ke-18. Foto: Miluta Flureas

    Semmelweis adalah orang yang berjasa menerapkan aturan yang ketat dalam hal sanitasi di rumah sakit. Di melembagakan pencucian tangan, alat kedokteran, hingga kebersihan rumah sakit. Dengan cara itulah, ia berhasil menekan kematian para ibu usai melahirkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?