Wisata ke Bukit Golo Melong NTT, Ada Batu Bulat yang Disakralkan

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wujud Watu Waru di puncak Bukit Golo Melong di Desa Mokel, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Situs Florespost.co

    Wujud Watu Waru di puncak Bukit Golo Melong di Desa Mokel, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Situs Florespost.co

    TEMPO.CO, Borong - Berwisata ke Provinsi Nusa Tenggara Timur atau NTT tak cukup hanya singgah ke ibu kota provinsi di Kupang. Cobalah menjelajah ke Kabupaten Manggarai Timur. Di sana, terdapat sebuah bukit yang menarik untuk disambangi sebagai objek wisata alam sekaligus bernilai sejarah.

    Sebuah bukit bernama Golo Melong di Desa Mokel, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, memiliki daya tarik yang unik. Masyarakat Suku Melong percaya Watu Waru yang ada di puncak Bukit Golo Melong begitu sakral.

    "Menurut cerita leluhur, batu-batu ini berasal dari seorang Embo atau nenek moyang Suku Melong," kata Zakarias Riba, 76 tahun, seorang Tua Teno atau tuan tanah Suku Melong. "Nenek moyang yang tinggal pertama kali di atas bukit Melong adalah adalah Meka Matu."

    Ketika Meka Matu menetap dan tinggal di atas bukit tersebut, menurut Zakarias Riba, batu-batu bulat itu tiba-tiba muncul dengan sendirinya di hadapan Meka Matu. Batu Watu Waru yang sampai kini masih berada di Puncak Bukit Golo Melong, menurut Zakarias Riba, seolah tersambung dengan garis keturunan Suku Melong.

    Zakarias menceritakan, jika ada anggota Suku Melong yang meninggal, maka batu yang ada di atas bukit Golo Melong itu hilang dengan sendirinya. Begitu juga apabila ada anggota Suku Melong yang melahirkan, maka sebuah batu muncul di atas Bukit Golo Melong.

    Pernah satu kali ada suku lain yang mengambil batu Watu Waru dari puncak Bukit Golo Melong dan menyimpannya di tempat lain. Tak berapa lama, kata Zakarias, batu tersebut kembali dan berkumpul dengan batu lainnya di puncak bukit.

    Batu Watu Waru terdiri dari berbagai ukuran. Ada yang besar dan kecil. Zakarias berharap generasi muda Suku Melong tetap menjaga batu-batu tersebut. "Batu-batu ini bernilai dan menjadi bagian dari keluarga Suku Melong," kata dia.

    Dalam Suku Melong terdapat lima keturunan yaitu, Meka Matu, Meka Rasi, Meka Langging, Meka Rambang, dan keturunan Meka Zakarias Riba. Dari lima keturunan Suku Melong tadi, tutur Zakarias, yang melanjutkan kedudukan sebagai tua teno atau tuan tanah dalam Suku Melong adalah Meka Zakarias Riba.

    TERAS.ID | FLORESPOST.CO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?