Bubur Gudeg, untuk Sarapan Pagi ala Yogyakarta

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bubur gudeg menjadi varian baru kuliner Yogyakarta. Foto: jajanyogya

    Bubur gudeg menjadi varian baru kuliner Yogyakarta. Foto: jajanyogya

    TEMPO.CO, Jakarta - Kuliner khas Yogyakarta gudeg semakin diminati. Selain berkembang karena sering dipasarkan ke luar kota dengan kemasan kaleng, gudeg pun kini disajikan dengan variasi menu, yakni bubur.

    Sajian gudeg ini sebenarnya menggantikan nasi dengan bubur. Sensasinya bila menyantap gudeg ini adalah rasa gudeg terserap ke dalam bubur. Karena, tekstur bubur yang lembut mudah menyatu dengan kuah gudeg.

    Penyajian gudeg tetap seperti umumnya dengan sambal goreng krecek, areh, tahu, telur atau ayam. Mengutip perusahaan online jasa perjalanan Pegipegi, bahwa kabarnya makanan ini semakin digemari wisatawan kala pelesiran di Yogyakarta. Seperti umumnya bubur, makanan ini diminati sebagai sarapan.

    Kedai bubur gudeg ini di antaranya Gudeg Mbah Waginah di Jalan Kabupaten, Sleman, Yogyakarta. Tempat ini meski sederhana, namun pemiliknya Mbah Waginah sudah berjualan gudeg selama puluhan tahun. Harga satu porsi bubur gudeg, Rp6000-15.000.

    Selain itu, ada pula Gudeg Bu Minarsih di kawasan Kretek Abang, Bantul. Bubur gudeg dagangan Bu Minarsih ini dianggap memiliki sensasi rasa berbeda karena menunya, ada tambahan mie lethek. Harga satu porsi Rp7.000-15.000 menyesuaikan lauknya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.