Sail Nias 2019, Duta Besar Terpesona dengan Keindahan Alam

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pemuda menampilkan atraksi lompat batu di Desa Bawomataluo, Nias Selatan, Sumatra Utara, 11 Desember 2017. Desa Bawomataluo, merupakan salah satu desa yang terdapat tradisi lompat batu, dalam bahasa daerah disebut

    Seorang pemuda menampilkan atraksi lompat batu di Desa Bawomataluo, Nias Selatan, Sumatra Utara, 11 Desember 2017. Desa Bawomataluo, merupakan salah satu desa yang terdapat tradisi lompat batu, dalam bahasa daerah disebut "Hombo Batu" atau "Fahombo". ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi

    TEMPO.CO, Nias Selatan - Puncak Sail Nias 2019 berlangsung di Dermaga Pelabuhan Baru, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, pada Sabtu 14 September 2019. Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly yang hadir di acara itu mengatakan ada delapan duta besar telah berada di Kota Gunung Sitoli.

    "Saya bertemu dengan para duta besar di Gunung Sitoli, mereka mengatakan 'this is a beautiful island' sangat artistik," kata Yasonna Laoly pada Jumat, 13 September 2019. Para duta besar dan rombongan, menurut dia sempat berkunjung ke museum, rumah adat, dan sejumlah objek wisata lainnya. "Banyak atraksi pariwisata yang menarik buat mereka untuk datang ke Nias."

    Wisatawan saat surfing di Pantai Sorake, Nias Selatan, Sumatera Utara, Jumat (25/11). TEMPO/Gunawan Wicaksono

    Yasonna Laoly berharap kedatangan beberapa duta besar ke Kepulauan Nias melalui program Sail Nias 2019 itu membawa kesan tersendiri, terutama dengan panorama alam dan pelestarian budaya. "Kami ingin setiap wisatawan yang datang dapat menikmati event yang ada, seperti surfing, wisata kuliner, festival kopi," ujarnya.

    Menurut Yasonna Laoly, Sail Nias 2019 menjadi tonggak kebangkitan pariwisata di Kepuluan Nias yang cocok sebagai destinasi wisata bahari.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?