Destinasi Wisata yang Pas Dikunjungi dengan Berkereta

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bragakeun Bragaku semarak.BDG di Jalan Braga, Bandung, Jawa Barat, Minggu (25/7). Acara untuk menyambut 200 tahun Kota Bandung ini berlangsung sejak Sabtu tengah malam sampai Minggu tengah malam. Diantaranya, membuat karya origami, Komunitas Sapedah Baheula dengan sepeda onthelnya, bermain gogoo swing, bermain trampolin. (Foto-foto:TEMPO/Prima Mulia)

    Bragakeun Bragaku semarak.BDG di Jalan Braga, Bandung, Jawa Barat, Minggu (25/7). Acara untuk menyambut 200 tahun Kota Bandung ini berlangsung sejak Sabtu tengah malam sampai Minggu tengah malam. Diantaranya, membuat karya origami, Komunitas Sapedah Baheula dengan sepeda onthelnya, bermain gogoo swing, bermain trampolin. (Foto-foto:TEMPO/Prima Mulia)

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Kereta Api (KA) Pariwisata berencana membangun hotel-hotel untuk memanfaatkan lahan-lahan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Lahan-lahan tersebut rencananya dibangun hotel bintang tiga. PT KA menargetkan, hotel-hotel itu dibuka di Cirebon dan Surabaya.

    “Cirebon merupakan destinasi yang unik, dekat dengan Jakarta dan bisa jadi alternatif wisata selain Bandung. Sementara Surabaya adalah tujuan bisnis. Penumpang dari Jakarta, begitu turun hotel bisa langsung ke hotel dan menggelar meeting. Setelah itu berwisata,” ujar Direktur Utama PT KAI di Jakarta Railway Center, Edi Sukmoro. Inilah destinasi wisata yang nyaman dijangkau dengan kereta api.

    Bandung

    Bandung selalu menarik untuk dikunjungi. Kota Bandung memiliki wisata urban, semisal kuliner, kota tua, dan taman kota. Begitu turun dari kereta, Jalan Braga tempat gedung-gedung tua yang difungsikan jadi kafe dan resto menyembut wisatawan. Jalan Braga penuh Bandung merupakan Paris van Java. 

    Pada 17 Agustus 2019, dibuka untuk percobaan taman Kiara Artha Park. Kiara Artha Park terletak di Jl. Jakarta, Bandung. Di taman seluas 2,6 hektare ini, terdapat area yang dibangun untuk memperingati Konferensi Asia Afrika yang dilaksanakan di Bandung pada 1955. Kawasan tersebut dinamakan Taman Asia Afrika. Di taman itu berdiri patung setengah badan para inisiator Konferensi Asia Afrika (KAA) dan semua bendera dari negara peserta yang hadir. 

    Dancing fountain atau air mancur menari adalah salah satu spot yang paling menarik. Air terjun yang bisa menari sesuai lantunan musik, ditemani dengan lampu warna-warni membuat penonton terkesima dan terhibur.

    Warga, wisatawan, dan peziarah memenuhi halaman Masjid Agung Sang Cipta usai melaksanakan salat Jumat di Cirebon, Jawa Barat, 25 Desember 2015. TEMPO/Prima Mulia

    Cirebon

    Cirebon terletak sekitar 220 kilometer dari Kota Jakarta dan bisa ditempuh kurang lebih tiga jam menggunakan moda transportasi kereta api. Di Cirebon juga memiliki beberapa obyek wisata yang dapat dikunjungi dalam satu hari seperti Taman Gua Sunyaragi, Keraton Kasepuhan, dan pusat oleh-oleh Batik Trusmi. Wisatawan bisa memulai perjalanan pada pagi hari dan kembali ke Jakarta pada malam hari.

    Dua orang wisatawan duduk di depan bangunan Lawang Sewu, di Semarang, Jawa Tengah, 24 september 2018. Dahulu gedung ini merupakan kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS yang dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Tempo/Rully Kesuma

    Semarang

    Revitalisasi Kota Lama Semarang, menjadikan wilayah kota tua menjadi destinasi utama denga Stasiun Tawang. Di kota tua itu memiliki tata bangunan wilayah dengan arsitektur Eropa. Wisatawan bisa menemukan kanal-kanal air seperti sedang berada di Amsterdam. Tak heran jika tempat ini sering dijuluki “Little Netherland”.

    Bangunan yang paling menarik perhatian di Kota Lama Semarang berupa Gereja Blenduq yang telah berusia lebih dari 2,5 abad. Gereja ini menjadi spot menarik untuk berfoto, dan kota tua itu memiliki kafe dan resto bergaya kolonial.

    Seorang pengunjung melihat puluhan koleksi kamera kuno yang dipamerkan di Museum House Of Sampoerna, Surabaya, Rabu (10/31). Kamera kuno yang dipamerkan tersebut merupakan koleksi pribadi tiga kolektor asal Surabaya. TEMPO/Fully Syafi

    Surabaya

    Surabaya memiliki dua stasiun utama: Gubeng dan Pasar Turi. Dari Pasar Turi, destinasi wisata sejarah terdekat adalah House of Sampoerna. Wisatawan bisa melihat sejarah pabrik rokok kretek Indonesia, yang mewarnai sejarah perjalanan bangsa. Dari House of Sampoerna, wisatawan bisa berkeliling Kembang Jepun, Jembatan Merah, dan masjid peninggalan Majapahit di Krasak, Masjid Sunan Ampel. 

    Sementara Stasiun Gubeng memiliki wisata Monumen Kapal Selam, Gedung Pemuda, dan bersantai di kedai Es Krim Zangrandi. Dari Gubeng, wisatawan bisa menuju Jalan Tunjungan, di sana terdapat Hotel Majapahit yang dulunya bernama Hotel Majapahit, lokasi dirobeknya bendera Belanda dan memicu Perang Surabaya. Tunjungan memiliki mal dan jalanan yang dipenuhi kafe dan resto berarsitektur Belanda. Di gedung Siola – pusat belanja sejak era kolonial – terdapat kafe dan pameran produk-produk UMKM.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.