Minggu, 22 September 2019

Destinasi Selam di Pusat Segitiga Terumbu Karang Dunia

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Salah satu jenis coral atau terumbu karang yang menjadi pemandangan bagi para penyelam di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 7 Agustus 2015. Wakatobi sangat kaya dengan beragam jenis coral, 750 dari 850 spesies koral di dunia, ada di Wakatobi. TEMPO/Iqbal Lubis

    Salah satu jenis coral atau terumbu karang yang menjadi pemandangan bagi para penyelam di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 7 Agustus 2015. Wakatobi sangat kaya dengan beragam jenis coral, 750 dari 850 spesies koral di dunia, ada di Wakatobi. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyelam dunia mengagumi keindahan bawah laut Indonesia. Destinasi selamnya menyebar ke berbagai wilayah. Keelokan alam bawah laut Indonesia, oleh Dive Magazine – majalah selam bermarkas di Inggris -- selalu masuk 10 besar bersama Filipina, Azires, Meksiko, Maldives, Mesir, Bahama, Thailand, Fiji dan Papua Nugini. Berikut surga-surga selam tersembunyi yang ada di Indonesia. 

    Sangihe dan Talaud, Sulawesi Utara

    Di bibir Samudra Pasifik, di antara Pulau Sulawesi dan Pulau Mindanao di Filipina, berbaris pulau kecil, termasuk Sangihe dan Talaud.

    Sejak pemekaran wilayah pada 2000, Sangihe dan Talaud berpisah, masing-masing menjadi kabupaten sendiri di Provinsi Sulawesi Utara. Namun, di bawah permukaan laut biru Sangihe dan Talaud, keduanya tetap sama: habitat terumbu karang yang aduhai dan ikan yang beraneka ragam.

    Bukan cuma itu, para penyelam juga dapat merasakan "sentuhan" gunung berapi di bawah laut. Di perairan Pulau Mahagetang, sekitar 8 meter di bawah permukaan, penyelam dapat berkejaran dengan gelembung yang bermunculan dari bebatuan kepundan. Dua puncak gunung berapi terdapat di perairan ini, dan ini ditandai oleh hangatnya air laut di sekitar kepundan: 37-38 derajat Celsius.

    Orang Sangihe menyebut gunung berapi itu Banua Wuhu. Mereka percaya Banua adalah tempat tinggal dewa-dewa yang bisa murka jika alam laut dirusak manusia. Karena itu, setiap akhir Januari dilakukan upacara adat mempersembahkan emas, yang ditaruh di lorong panjang di bawah laut. Tetua adat menyelam ke sana dan menaburkan emas-emas itu.

    Karena letak tempat itu di perlintasan Samudra Hindia dan jalur gunung api, sebaiknya menyelam pada April-November agar terhindar dari angin barat pada Desember-Maret. Angin barat membuat arus di bawah dan permukaan menjadi deras. Kepulauan Sangihe bisa dicapai dengan terbang ke Manado, lalu naik kapal cepat selama 10 jam. 

    Fauna yang diketemukan di perairan Sangihe Talaud. AP/NOAA Okeanos Explorer ProgramAP/NOAA Okeanos Explorer Program)

    Selat Lembeh, Sulawesi Utara

    Selat Lembeh mulai terkenal sebagai tempat mengunjungi kemegahan laut kelas wahid yang belum terlalu hiruk oleh turis dan tak jauh dari pusat kota. Hanya perlu 90 menit dari Ibu Kota Manado untuk sampai di selat yang memisahkan kepala Pulau Sulawesi di ujung timur dan Pulau Lembeh ini. 

    Berbeda dengan Bunaken, pasir laut Lembeh berwarna hitam. Karena itu, menyelam di selat ini disebut juga muck diving. Jelaga di dasar laut itulah yang membuat Selat Lembeh kaya biota laut. Ada 89 titik penyelaman yang topografi dan penghuni perairannya berbeda-beda. Letaknya yang berada antara Sulawesi dan Maluku serta di antara perairan kepulauan Filipina membuat selat ini memiliki keberagaman hayati yang tinggi.

    Tak ada ombak di Selat Lembeh karena letaknya tersembunyi dari lautan luas. Ketika Bunaken dihembalang gelombang, laut Lembeh tak terkena cipratan sama sekali. Laut tenang membuat penyelaman juga aman. Banyak resor yang menawarkan paket menyelam di sepanjang pantai.

    Anambas, Kepulauan Riau

    Pulau Durai hanya sebuah titik di antara 238 pulau yang tersebar di perairan Anambas, Kepulauan Riau. Tak begitu luas, tapi di pulau itulah penyu menyimpan telurnya, dan di perairan pulau itu pula Anda dapat menyelam ditemani hewan tersebut.

    Anambas menawarkan banyak hal berbeda. Di sini terdapat beberapa tempat favorit para penyelam, seperti Karang Katoaka, Pulau Tokong Malang Biru, dan lokasi kapal karam. Seven Skies, tanker yang tenggelam pada 1969 di perairan Pulau Tioman, sekarang telah menjelma menjadi magnet bagi biota laut. Jika beruntung, penyelam akan menemukan hiu paus.

    Daya tarik lain adalah karang dalam laguna yang dibentuk gugusan lima pulau: Pulau Bawah, Sanggah, Murbah, Lidi, dan Pulau Elang. Saat laut surut, gundukan pasir dan karang tampak menonjol, seolah-olah menyambungkan lima pulau tadi. Dari permukaan air laguna, kita bisa melihat ikan yang berkeliaran ke dasar yang berpasir putih.

    Pesawat dari Tanjung Pinang dan Batam melayani penerbangan menuju bandar udara di Pulau Matak, Anambas, enam kali seminggu. Jika Anda memilih transportasi laut, ada kapal Pelni dan perintis dari Tanjung Pinang yang bersandar dua kali sebulan di Pelabuhan Tarempa, ibu kota Anambas. 

    Wakatobi, Sulawesi Tenggara

    Wakatobi tersusun dari gabungan empat pulau utama: Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Lautnya berarus kencang. Namun setiap pulau punya ciri kuat, baik pada biota laut maupun kontur dasarnya. Waha di Wangi-wangi menyuguhkan tipe terumbu dengan mayoritas kontur berupa dinding.

    Di Kaledupa, ikan kerapu dan kakap mudah ditemukan. Jika menyelam menjelang atau sesudah bulan purnama, kita dapat menikmati aktivitas pemijahan (perkawinan) ikan kerapu di kedalaman 25-40 meter. Lokasi penyelaman yang tak kalah menarik ada di sekitar Pulau Hoga, yang berdekatan dengan Kaledupa.

    Ikan karang di sekitar Tomia lebih beragam dan melimpah-ruah. Sensasi yang disuguhkan adalah berenang bersama ratusan hingga ribuan ikan. Di spot ini juga tersebar table coral atau karang berbentuk meja.

    Binongko satu-satunya pulau yang menghadap ke Laut Flores—tiga yang lain menghadap ke Laut Banda. Perbedaan geografis menyebabkan terumbu di pulau paling selatan ini didominasi karang lunak memanjang seperti tali.

    Daya tarik lain di Wakatobi adalah atol atau terumbu karang cincin. Atol Kaledupa sepanjang 48 kilometer merupakan salah satu yang terpanjang. Saat laut surut, atol bak pulau yang tersundul. Terumbu di atol berbeda ketimbang terumbu di sekitar pulau utama. 

    Perairan yang masuk taman nasional ini rata-rata berarus kencang sehingga mendukung gaya drift diving, yaitu menyelam sambil mengikuti arus. Dengan demikian, kita tidak perlu memforsir banyak tenaga.

    Padaido, Papua

    Papua tidak hanya memiliki Raja Ampat, Sorong, dan Kwatisore, Nabire, untuk wisata penyelaman yang penuh sensasi. Tapi juga Padaido, Biak. Sementara Raja Ampat terkenal karena keanekaragaman biota lautnya dan Kwatisore terkenal karena hiu paus. Padaido terkenal untuk wisata menyelami gua bawah laut (cave diving). Di sana ada Gua Wundi dan beberapa sisa kapal atau pesawat yang tenggelam pada Perang Dunia II (wreck diving). 

    Gua Wundi berada tidak jauh dari Pulau Wundi, salah satu pulau berpasir putih di antara gugusan kepulauan Padaido. Untuk ke sana, butuh sekitar tiga jam perjalanan dengan perahu cepat dari Pelabuhan Tip Top, Biak. Pintu gua berada di kedalaman sekitar 12 meter. Terdapat lubang sebesar 2 x 1 meter yang cukup buat penyelam untuk memasukinya. Di dalamnya kita bisa menyusuri lorong sepanjang 18 meter, dengan sejumlah cabang yang belum dieksplorasi. Cahaya matahari cukup leluasa memasuki lorong gua, tapi di tengahnya gelap-gulita. 

    Seekor napoleon dan penyu besar setia menunggui gua ini. Si penyu selebar 40 sentimeter biasanya berjaga di dekat mulut gua. Sedangkan napoleon berada di dalam cekungan gua. Koral dan schooling fish banyak menghiasi area di sepanjang cekungan gua. Cocok buat penyelam segala level. Erick Farwas, dive master dari Biak Diving, salah satu guide selam yang menguasai 29 spot penyelaman di seputar Padaido.

    Seorang pengunjung bermain bersama ubur-ubur totol (mastigias cf papua) di Danau Kakaban, Pulau Kakaban, Kepualauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, 30 September 2016. TEMPO/Nita Dian

    Pulau Derawan, Kalimantan Timur

    Tiga jam bertolak dari Pelabuhan Tengkayu, Tarakan, akhirnya kita tiba di Pulau Derawan. Pulau yang berarti gadis perawan ini menjadi lokasi untuk mendekati pulau-pulau tetangganya: Maratua, Kakaban, dan Sangalaki. Pulau Derawan merupakan habitat penyu hijau terbesar di Asia. Di bawah penginapan apung, Anda bisa menyaksikan penyu raksasa berenang bebas dan penyu Filipina bertelur pada malam terakhir. Selain penyu, berbagai ikan warna-warni, koral, dan tumbuhan laut terhampar di bawah dermaga kayu dekat tempat menginap.

    Satu setengah jam dari Derawan, kita sampai di Pulau Kakaban (artinya kakak). Di balik lebatnya hutan Kakaban terdapat danau payau. Danau yang dikelilingi mangrove ini menjadi habitat ubur-ubur tanpa sengat. Semakin berenang ke dalam, semakin banyak ubur-ubur terbalik (Cassiopea ornata) yang mengajak "berdansa". 

    Keunikan alam ini hanya ada dua di dunia, yaitu Pulau Kakaban di Indonesia dan Pulau Mikronesia di kawasan tenggara Pasifik. Selain danaunya, pesona bawah laut Pulau Kakaban menjadi favorit pelancong. Di Derawan terdapat delapan lokasi penyelaman.

    Live on Board Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur

    Gugusan pulau yang mengelilingi Pulau Komodo tak hanya menawarkan satwa purba ini, tapi juga pemandangan bawah laut yang mengagumkan. Dan itu akan lebih baik jika dilakukan di atas kapal (live on board).

    September lalu, bersama tim Seven Wonders, kami naik kapal pinisi Lataran Komodo. Berangkat dari Labuhan Bajo, lokasi selam terdekat yang bisa disambangi adalah Pulau Sebayor dengan jarak tempuh maksimal satu jam. Kawasan di sekitar pulau ini cocok untuk mengawali petualangan ke 50-an tempat penyelaman yang ada di sekitar Pulau Komodo. Arusnya tidak terlalu besar dan kemiringan karang tidak tajam.

    Di timur laut Pulau Komodo, tempat paling populer untuk menyelam, adalah Castle Rock. Plato sepanjang 20 meter ini tempat yang kerap ditenggeri untuk melihat hiu karang atau lumba-lumba. Kalau mau melihat ikan pari, pindahlah ke daerah barat daya, di Manta Alley. Pemandangan terjelas dengan sinar matahari yang tembus sempurna bisa dinikmati antara November dan Januari.

    Hukurila, Maluku

    Aneka flora dan fauna laut seperti tersedot ke kawasan gua bawah laut di Hukurila, Kecamatan Leitimur Selatan, sebelah selatan Kota Ambon, Maluku. Tepi pulau di kawasan yang menghadap ke Laut Banda ini berkarang—tipologi yang menandakan banyaknya dinding karang dan gua bawah laut.

    Dinding karang dengan beberapa formasi membentuk pintu gua, yang mulai ditemukan pada kedalaman 15 meter. Setelah melintasi pintu ini, kita akan menikmati tontonan berbagai jenis karang dan gerombolan ikan yang lalu-lalang di antara karang.

    Menghunjam lebih ke bawah, di kedalaman 20 meter, terdapat gua raksasa, Hukurila. Di sini bertabur koral halus dan biota laut berwarna-warni yang unik berukuran jumbo, antara lain Nudibranchia atau kelinci laut dan Rhinopias atau sejenis scorpion fish dengan empat warna.

    Pulau Weh, Aceh

    Dari Banda Aceh, cukup menumpang kapal cepat selama 45 menit, Anda sudah sampai di pulau ini. Inilah pulau di ujung paling barat Indonesia: Pulau Weh, dengan Ibu Kota Sabang.

    Sebelum pesawat menjadi alat transportasi populer, Pulau Weh merupakan tempat singgah kapal laut yang berangkat ke Tanah Suci. Kini beberapa pantai di pulau seluas 60 kilometer persegi yang dihuni 12 ribu orang ini adalah tempat terasyik buat mengintip kekayaan bawah Laut Andaman.

    Inilah pintu masuk Selat Malaka yang merupakan jalur gunung berapi yang masih aktif. Menyelam di kedalaman 29 meter, Anda bisa menemukan Fumarol, bekas kepundan bawah laut. Dengan snorkeling di laut dangkal Sabang yang berarus pelan, Anda juga dapat menyaksikan kemewahan karang dan ikan. Laut Sabang dihuni aneka ikan, termasuk hiu bermulut lebar, yang hanya ditemukan di Samudra Pasifik dan Atlantik; penyu; serta belut.

    Seorang wisatawan melakukan snorkling di Distrik Misool, Raja Ampat, Papua Barat, 25 April 2015. Kegiatan snorkeling sembari melihat pemandangan di dasar laut menjadi salah satu daya tarik wisata unggulan yang ditawarkan kepada para wisatawan yang berkunjung di Kawasan Raja Ampat. TEMPO/Hariandi Hafid

    Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat

    Aulia, seorang aktivis lingkungan hidup, melihat lima hantu ganas ini berenang mendekati dirinya di perairan Tanjung Makwoy, perairan Batanta, Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Seperti dikatakan kawan-kawannya, cepat ia menunduk, menelungkupkan diri di dasar perairan. Cara ini diyakini dapat mengusir hiu.

    Jantungnya berdegup keras. Namun, setelah jarak Aulia dengan karnivora bersirip hitam dan bergaris putih itu sekitar enam meter, mereka menghilang pergi. Hiu jenis ini tidak ganas. Hiu merupakan ikon Raja Ampat. Dari jarak tiga puluhan meter, jelas sekali penyelam seperti Aulia dapat melihat hiu itu mendekat, mengamati, lalu menjauh.

    Laut biru di perairan Pulau Batanta ini amat jernih. Dari permukaan kita bisa menyaksikan terumbu yang tumbuh menjulang: pucuknya gosong dibakar matahari, tumbuh di atas permukaan laut, akarnya jauh di dasar laut.

    Di perairan Raja Ampat terdapat empat pulau, yaitu Waigeo, Misool, Slawati, dan Batanta di sebelah barat Kepala Burung (Vogelkoop) Pulau Papua. Patahan karang yang berfungsi sebagai rumah ikan terhampar di dasar perairan. Banyak dinding karang menghiasi topografi dasar laut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi Diduga Terjerat Dana Hibah

    Perkara dugaan korupsi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi bermula dari operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 18 Desembe