Minggu, 22 September 2019

Benteng-Benteng Gagah, yang Kini Jadi Destinasi Wisata

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Benteng Fort Marlborough

    Benteng Fort Marlborough

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebagai penghasil rempah-rempah, kepualauan Indonesia merupakan incaran negara-negara Eropa seperti Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda. Mereka berusaha merebut monopoli rempah-rempah dan mendirikan berbagai benteng.

    Dari data Pusat Dokumentasi Arsitektur Indonesia atau PDA Indonesia terdapat 459 benteng, 303 di Sumatera dan 159 di Jawa. Namun, yang secara fisik ditemukan hanya 177 benteng. Hampir 300 benteng yang hilang. Dari 300 benteng itu, hanya segelintir yang masih terawat dan terjaga. Berikut benteng-benteng megah yang beralih fungsi sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi.

    Benteng Marlborough

    Benteng Marlborough merupakan benteng terbesar milik Inggris di Asia tenggara. Maklum, saat masih aktif 1714 sampai 1719, kongsi dagang Inggris, East Indian Company (EIC) berkantor di benteng itu. Mereka mengatur perdagangan lada hitam yang dijual hingga ke Inggris. Benteng ini didirikan ketika era pemerintahan Gubernur Jenderal Joseph Collet.

    Benteng seluas 44.100 persegi ini masih terlihat kokoh, bersih dan terawatt, dengan parit pertahanan yang mengelilinginya. Ketika Inggris dan Belanda membagi wilayah kekuasaannya, benteng tersebut ditukar dengan Singapura melalui Traktat London 1824. Dalam perjanjian tersebut, dijelaskan bahwa Belanda menyerahkan Malaka dan Semenanjung Melayu termasuk Penang dan sebuah pulau kecil tidak bertuan, Singapura kepada Inggris.

    Sedangkan, Inggris menyerahkan pabriknya di Bengkulu, Port Marlborough dan seluruh kepemilikannya di Sumatera kepada Belanda. Perjanjian tersebut dilakukan pada 17 Maret 1824 di London.

    Benteng Vredeburg

    Benteng Vredeburg mula-mula dibangun pada tahun 1760 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I atas permintaan Gubernur dari Direktur Pantai Utara Jawa dipimpin oleh Nicolaas Harting. Belanda beralasan dengan adanya benteng tersebut, mereka bisa menjaga keamanan keraton dari serangan pemberontak atau keraton-keraton bekas Mataram lainnya.

    Namun, sebenarnya Belanda ingin mengawasi dan mengontrol istana. Mulanya benteng ini terbuat dari tanah, dengan penyangga pohon kelapa dan aren. Bangunan pertama ini memiliki bastion atau seleka, Sultan menamai bastion tersebut Jaya Wisesa (sudut barat laut), Jaya Purusa (sudut timur laut), Jaya Prakosaningprang (sudut barat daya), dan Jaya Prayitna (sudut tenggara).

    Lalu Gubernur Jenderal Hindia Belanda W.H. van Ossenberg mengusulkan agar benteng dibangun lebih permanen. Pada 1767, pembangunan benteng mulai dilaksanakan dengan pengawasan Frans Haak dan selesai tahun 1787. Kemudian dinamai 'Rustenberg'. Saat gempa bumi hebat pada 1867, sebagian benteng rusak kemudian direnovasi dan namanya diubah menjadi 'Vredeburg' atau benteng Perdamaian, wujud hubungan Belanda dengan Keraton Yogyakarta yang damai.

    Benteng Vredeburg menjadi destinasi wisata edukasi dan sejarah. Foto: @museum.benteng.vredeburg

    Benteng Rotterdam

    Benteng Rotterdam awalnya bernama Benteng Ujung Pandang atau juga disebut benteng pannyu karena bentuknya seperti penyu dibangun sekitar tahun 1545. Pembangunannya atas perintah Raja Gowa ke X, Imarigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna, yang juga terkenal dengan nama Tunipallangga Ulaweng. Mulanya benteng ini dibuat dari tembok batu dicampur dengan tanah liat yang dibakar hingga kering.

    Pada era Raja Gowa ke XIV Sultan Alauddin, tembok benteng diganti dengan batu padas hitam yang bersumber dari pengunungan karst di daerah Maros. Selain sebagai hunian para raja, juag merupakan pusat pasukan laut Kerajaan Gowa. Pada 1666, pecahlah perang pertama antara Raja Gowa yang berkuasa di dalam benteng dengan Cornelis Speelman, Gubernur Jenderal Belanda.

    Setahun berperang, Belanda berhasil menghancurkan Benteng Ujung Pandang. Dalam Pejanjian ‘Perjanjian Bongaya’ pada 18 november 1667, Kerajaan Gowa harus menyerahkan Benteng Ujung Pandang kepada Belanda. Lalu Speelman mengubah namanya menjadi Fort Rotterdam.

    Fort Rotterdam termasuk benteng yang terawatt dengan baik. Berbagai pertunjukan seni dunia dihelat di dalam benteng. Selain itu terdapat Museum La Galigo yang menyimpan koleksi perjalanan sejarah Sulawesi Selatan.

    Benteng Rotterdam Makassar. TEMPO/Hariandi Hafid

    Benteng Kalamata

    Kalamata atau Kalumata dikenal juga sebagai Benteng Santa Lusia atau Benteng Kayu Merah. Dibangun dengan komposisi bebatuan sungai, batu karang, dan batu kapur, benteng Portugis ini tetap gagah meski melampaui milenial. Dari tembok benteng ini, Pulau Tidore dan Maltara terlihat dengan jelas. Didirikan pada 1540, oleh perwira Portugis, Fransisco Serao. Kalamata didirikan untuk mengahadapi serangan dari bangsa Spanyol dari Rum, Tidore.

    Benteng ini pernah dikuasai Spanyol dan Belanda silih berganti. Namun pada akhirnya berhasil dikuasai oleh Belanda. Benteng yang gagah ini masih terawat rapi dan jadi titik pertemuan warga. Pemandangan laut dari benteng ini tak membosankan: langit biru, laut yang tenang, pulau bergunung, dengan kapal kayu hilir mudik. Mungkin seperti itulah ratusan tahun lalu ketika rempah-rempah mengundang orang-orang Eropa ke Maluku.

    Benteng Kalamata saksi perebutan rempah di Maluku oleh bangsa-bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda. Foto: @pegi_pegi

    Benteng Van Der Wijck

    Mulanya, hanya sebuah kantor Dagang VOC di Gombong. Namun Perang Diponegoro membuat kantor itu disulap menjadi benteng. Pasalnya, pasukan besar dari Batavia sepanjang 1825-1830 ditempatkan di kantor tersebut.

    Benteng ini sangat strategis, karena berada di dekat pusat komando pasukan Diponegoro di Bagelen. Usai Perang Diponegoro, benteng ini digunakan sebagai basis pertahanan untuk menghancurkan Kabupaten Panjer pada 1832. Setelah direnovasi besar-besaran, benteng itu dinamai Fort Generaal Cochius, diambil dari nama Letnan Jenderal Frans David Cochius, seorang komandan di Hindia Belanda yang memimpin pasukan Belanda di Gombong pada masa Perang Diponegoro.

    Pada tahun 1856 Fort Cochius berubah menjadi Pupillenschool atau Sekolah Taruna Militer untuk anak-anak Eropa yang lahir di Hindia Belanda. Namanya diubah menhadi Fort Van der Wijck sebagai penghormatan kepada Van der Wijck atas jasanya kepada pemerintah Belanda dalam bidang kemiliteran. Bangunannya yang bercat merah, membuatnya dijuluki Benteng Merah, dan kini menjadi destinasi wisata utama di Gombong.

    Sejumlah pengunjung menikmati wisata sejarah benteng Van der Wijck di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, (9/8). TEMPO/Arif Wibowo


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi Diduga Terjerat Dana Hibah

    Perkara dugaan korupsi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi bermula dari operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 18 Desembe