Sate Kere Beringharjo, Kuliner Kegemaran Wisatawan

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sate kere merupakan salah satu kuliner khas Pasar beringharjo yang jadi kegemaran wisatawan. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Sate kere merupakan salah satu kuliner khas Pasar beringharjo yang jadi kegemaran wisatawan. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Peringatan upacara kemerdekaan di kawasan Malioboro, khususnya di Istana Gedung Agung berlangsung khidmat Sabtu 17 Agustus 2019. Membawa berkah bagi para pedagang khususnya makanan di sekitaran Pasar Beringharjo.

    Usai upacara para wisatawan menikmati berbagai kuliner jalanan mulai pecel hingga yang paling favorit sate kere. Sate kere merupakan sebutan untuk jajanan berbahan dasar jeroan sapi, khususnya bagian koyor atau lemak yang menempel pada daging.

    Kepulan asap dan aroma khas dari sate yang sedang dibakar para pedagang di sekitaran Pasar Beringharjo sampai seberang Istana Gedung Agung, mau tak mau membuat wisatawan tergoda dan membelinya.

    "Habis upacara tadi diborong, ada yang beli 30 tusuk, 60 tusuk, kebanyakan dimakan nggak pakai lontong," ujar Ponijah, 61, salah satu penjual sate kere yang berada di depan pintu B2 Pasar Beringharjo.

    Sebutan kere atau pengemis itu, konon karena harganya yang murah meriah dan lokasi penjualannya di emperan pasar. Tak kurang 10 penjual sate kere ini di emperan Beringharjo.

    Harga sate kere per tusuk untuk bagian koyor biasanya dibanderol Rp 3000 dan untuk bagian hati atau daging Rp 4.000. Sedangkan jika memakai lontong per bijinya seharga Rp 3.000.

    Pembuatan sate kere tak terlalu rumit. Bumbu untuk membuatnya juga hanya menggunakan ketumbar, bawang putih, bawang merah dan gula merah, "Bisa awet sampai dua hari karena pakai gula merah, apalagi kalau sudah dibakar," ujarnya.

    Nenek tiga cucu itu mengaku, biasanya dalam sehari saat libur panjang ia bisa mengolah 15-17 kilogram jeroan koyor untuk bahan sate kere itu. Namun saat hari biasa ia hanya mengolah sekitar 12 kilogram jeroan saja.

    "Alhamdulilah walau sekarang bukan liburan panjang, tapi karena ada libur kemerdekaan bisa tetap jualan banyak," ujar perempuan asal Gamping, Sleman yang biasa berjualan sejak pukul 08.00 hingga pukul 17.00 WIB itu.

    Anggoro, seorang pelanggan sate kere Beringharjo itu mengaku saat kembali ke Yogya biasanya menyempatkan membeli sate kere itu. Pria yang sudah mengkonsumsi sate kera sejak masih kuliah di UGM Yogyakarta itu mengaku, sate kere sumber asupan energi baginya karena menjalani diet karbohidrat.

    Ponijah menjaja sate kere mengakui, liburan HUT RI membawa berkah, satenya laris manis. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    "Saya tak mengkonsumsi nasi, bisa diganti dengan sate ini. Asal tak terlalu banyak makannya saya rasa tak ada masalah buat kesehatan," ujarnya yang tengah mudik dari Pamulang, Tangerang Selatan.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.