Tradisi Bunyi Sirine Tua dalam Peringatan HUT RI di Jogja

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sirine di Kantor Dinas Pasar Beringharjo dibunyikan, sebagai pertanda detik-detik proklamasi. Upacara dilangsungkan di depan Gedung Agung Yogyakarta, Sabtu (17/8). TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Sirine di Kantor Dinas Pasar Beringharjo dibunyikan, sebagai pertanda detik-detik proklamasi. Upacara dilangsungkan di depan Gedung Agung Yogyakarta, Sabtu (17/8). TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Warga Jogja pada Sabtu pagi (17/8) telah meramaikan kawasan wisata Malioboro. Mereka larut dalam kegembiraan merayakan HUT RI. Keramaian itu utamanya terpusat di seputaran Istana Gedung Agung, lokasi Raja Keraton yang juga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X memimpin upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia.

    Menginjak pukul 10.00 WIB, wisatawan dan warga sekitar dihenyakkan dengan gaung sirine tua, dari seberang Istana Kepresidenan. Sirine itu meraung selama kurang lebih satu menit. 
     
    Para wisatawan dan warga di luar Istana pun bergegas merapat ke pagar Gedung Agung dan menyaksikan pelaksanaan upacara detik-detik proklamasi tersebut, "Sirine itu sudah sama tuanya dengan Pasar Beringharjo, jadi ciri khas kalau ada upacara di Istana," ujar Ponijah, 61, pedagang di Pasar Beringharjo.
     
    Sirine yang dikenal warga Jogja sebagai Sirine Gaok itu berada di bekas bangunan Kantor Dinas Pasar, yang didirikan pada tahun 1925 bersamaan dengan pembangunan Pasar Beringharjo. 
     
    Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY mencatat, menjelang meletusnya Perang Asia Pasifik pada akhir paruh kedua dekade tahun 1930-an atau awal 1940-an, Pemerintah Hindia Belanda di Yogyakarta mendirikan beberapa menara sirine. 
     
    Salah satu sirine yang berada di pusat kota didirikan di atas bangunan galeri pertokoan Pasar Gedhe Beringharjo. Sirine lain didirikan di sudut-sudut pusat kota di antaranya di Hotel Tugu, Lempuyangan, Pakualaman, Plengkung Gading, dan Pabrik Aniem Serangan. 
     
    Fungsi sirene itu di masa silam digunakan tentara Belanda sebagai tanda peringatan bahaya serangan udara. Namun kemudian suara sirine diidentikan dengan pelaksanaan peringatan Serangan Umum pada 1 Maret 1949.
     
    Seorang wisatawan yang mengikuti upacara kemerdekaan dari luar Istana Gedung Agung, Maria, 37, asal Jakarta Barat, mengaku cukup kaget dengan raung sirene itu.
     
    "Saya kira berbunyi karena ada apa, ternyata penanda detik-detik proklamasi," ujar ibu satu anak itu. Maria mengajak anaknya menyaksikan upacara itu karena tertarik dengan paduan suara yang menyanyikan berbagai lagu-lagu kemerdekaan secara atraktif.
     
    "Suka dengan paduan suaranya, sama detik detik proklamasinya," ujarnya. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X sendiri bertindak sebagai Inspektur Upacara HUT Kemerdekaan RI di Istana Gedung Agung itu.
     
    Sultan Hadir dengan didampingi oleh permaisuri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas beserta para putri dan menantu. Turut hadir pula Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X bersama istri, GKBRAy A. Paku Alam berserta putra dan mantunya.
     
    Jalannya prosesi upacara diawali dengan laporan oleh Komandan Upacara, AKBP Dari Tyas yang sehari-harinya menjabat sebagai Kepala Sub Direktorat IV DIT Intelkam Polda DIY kepada Gubernur DIY. 
     
    Prosesi dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY. Prosesi dilanjutkan dengan pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih oleh anggota Paskibraka DIY 2019. 
     
    Sebelum dikibarkan, terlebih dulu bendera diserahkan oleh Gubernur DIY kepada petugas pembawa baki, Nabila Zahronisa Lutfiyanti dari pasukan delapan.
     
    Bendera kemudian dikibarkan oleh tiga petugas pengibar bendera yakni Nur Wahyu Setya Nugraha dari SMK 1 Pengasih, Ahimsa Fawwaz Indrafajar dari SMA N 1 Sewon. Barisan para paskibraka ini didampingi oleh barisan dari pasukan dari TNI dan Polri. 
     
    Lagu Indonesia Raya kemudian dilantunkan selama prosesi pengibaran bendera, seluruh hadiri menyanyikan dengan khidmad. Seusai pengibaran bendera dilaksanakan, acara kemudian diisi dengan penampilan kelompok paduan suara, yang berasal dari sekolah-sekolah di DIY yang menyanyikan lagu-lagu wajib nasional serta memainkan lagu wajib Andika Bhayangkari.
    Prajurit Keraton Yogyakarta akan mengawal penurunan bendera pada Sabtu sore, 17 Agustus 2019. TEMPO/Pius Erlangga
     
    Tepat pada pukul 11.00, keseluruhan prosesi Upacara Peringatan 74 Tahun Kemerdekaan RI telah selesai dilaksanakan. Seluruh peserta upacara kemudian meninggalkan tempat upacara. Sedangkan upacara penurunan bendera akan dilakukan pada Sabtu (17/8) sore hari pukul 17.00 WIB. 
     
    Dengan pengawalan anggota Paskibraka DIY dan barisan TNI- Polri, bendera selanjutnya akan disimpan kembali di Kantor Gubernur DIY di Kepatihan. Prosesi pengembalian ini juga akan diiringi dengan defile prajurit Keraton Yogyakarta.
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.