Pesona Festival Budaya Langka di Daerah Terpencil

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekelompok warga  Suku Asmat dengan menggunakan perahu dan dayung mengikuti kegiatan parade foto   sebagai salah satu kegiatan dalam festival Asmat  di Sungai Aswet Kabupaten Asmat-Papua (11/10).   ANTARA /Husyen Abdillah

    Sekelompok warga Suku Asmat dengan menggunakan perahu dan dayung mengikuti kegiatan parade foto sebagai salah satu kegiatan dalam festival Asmat di Sungai Aswet Kabupaten Asmat-Papua (11/10). ANTARA /Husyen Abdillah

    TEMPO.CO, Jakarta - Dengan ratusan suku, Indonesia memiliki beragam adat istiadat. Ritual suku-suku itu menjadikan Indonesia negeri yang kaya festival budaya. Namun beberapa di antaranya berlokasi di tempat yang terpencil. Lamalera misalnya, di Pulau Lembata. Selain berada di pelosok Nusa Tenggara Timur, festival ini hanya mengandalkan migrasi ikan paus setahun sekali untuk diburu. Inilah festival bahari yang ikonik, namun tak semua wisatawan bisa menikmatinya.

    Berikut festival budaya unik di daerah terpencil, yang dirangkum TEMPO.  

    Festival Sentani, Papua

    Di lereng Cagar Alam Cycloops, sekitar 30 kilometer dari Kota Jayapura, terbentang panorama permai dan mistis: Danau Sentani. Seluas 245 ribu hektare, pulau-pulau hijau menyembul dari permukaan air yang biru tenang, mirip mangkuk minyak raksasa. Di sinilah Festival Danau Sentani dilangsungkan setiap tahun sejak 2008, selama lima hari.

    Berawal pada 19 Juni, pesta rakyat ini bertujuan mengangkat kekayaan budaya suku-suku di sekitar danau. Pantai Kalkhote, Kampung Ohei, Sentani Timur, menjadi pusat perhelatan. Lokasi ini dapat dicapai dalam 15 menit dengan mobil dari Bandar Udara Sentani.

    Sebanyak 19 distrik di Kabupaten Jayapura aktif terlibat. Di darat dan di tengah danau, kita dapat menyaksikan atraksi adat, tarian, pergelaran musik, dan pameran kerajinan seni ukir kulit kayu. Aneka kuliner khas Sentani disajikan dengan murah hati.

    Acara puncak adalah tarian ratusan pemuda di atas perahu berhiasan daun kelapa. Berbalut baju adat, mereka menari sembari membawa hasil panen dan binatang buruan. Setelah mengelilingi danau sekitar 10 menit, mereka turun dari perahu sembari terus menari dan berpekik-sorak.

    Tarian buaya juga amat dinantikan penonton: para penari lelaki berderap ke arena festival sembari memikul buaya besar yang diikat pada sebatang kayu. Penari perempuan menari sambil menggendong buaya kecil.

    Warga membawakan tarian perang dalam Pembukaan Festival Danau Sentani ke-9 di Kampung Wisata Khalkhote, Sentani Timur, Papua, 20 Juni 2016. Festival ini menyajikan tarian-tarian adat di atas perahu, tarian perang khas Papua. ANTARA/Rosa Panggabean

    Lamalera, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur

    Tradisi menangkap paus di Lamalera, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, hadir sejak berabad lampau. Penangkapan mamalia laut itu berlangsung Mei-Oktober setiap tahun. Kebiasaan ini diperkirakan bermula pada 1500-an, bersamaan dengan berdirinya kampung nelayan Lamalera di ujung selatan Lembata.

    Adat warga setempat memang menunggu paus lewat dan menangkapnya, bukan memburunya. "Mereka hanya menangkap paus sperma—bukan jenis lain—di perairan dekat Lamalera," kata Bona Beding, 48 tahun, pria asli Lamalera yang aktif di bisnis penerbitan.

    Paus yang ditangkap dibagikan ke semua warga desa—sekitar 3.000 jiwa. Dagingnya seolah-olah persembahan kampung bagi para janda, fakir miskin, dan yatim piatu, yang mendapat bagian lebih dulu. Setelah kebutuhan seluruh desa terpenuhi, sisanya dibarter dengan bahan kebutuhan pokok semacam jagung dan beras. Atau dijual untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan lain.

    Para nelayan Lamalera menggunakan peledang atawa perahu kayu tradisional tanpa mesin dengan layar seadanya. Tali untuk menangkap paus dirajut dari daun pohon gebang dan serat batang waru. Untuk menangkap mamalia laut raksasa itu, para matros alias penangkap paus memakai seutas leo alias tali sakral.

    Tali ini terbuat dari kapas yang dipintal dan dilumuri getah kulit pohon turi sebelum dikeringkan. Setelah dipakai, gulungan leo disimpan di bilik khusus rumah adat.

    Sejumlah warga bergotong-royong memindahkan potongan paus yang berhasil ditangkap di pantai Lamalera Village, NTT (18/8). Tradisi menangkap paus ini sudah dimulai sejak abad ke-16. Oscar Siagian/Getty Images

    Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat

    Tadinya digelar setiap tahun di berbagai kampung adat Sunda, kini tinggal sedikit yang merayakan Seren Taun: upacara adat mensyukuri hasil panen. Salah satu yang masih setia menyelenggarakan ritual ini adalah masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul di Kampung Ciptagelar, Desa Sirnaresmi.

    Masuk wilayah Kecamatan Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, Ciptagelar berjarak sekitar 44 kilometer dari Pelabuhan Ratu. Sejak 1383, kampung yang terlindung dalam Taman Nasional Gunung Halimun ini setia mempersembahkan tanda syukur atas hasil panen melalui ritual adat Seren Taun. 

    Tradisi leluhur masih mereka pegang teguh setelah ratusan tahun. Umpamanya, dalam mendirikan rumah, mereka hanya boleh memakai ijuk. Setiap awal Agustus atau September, pemimpin adat memimpin warga Ciptagelar memulai ritual syukur.

    Makna upacara ini adalah penyerahan hasil panen tahun sebelumnya serta memohon berkat Tuhan agar panen tahun mendatang lebih berhasil. Selama upacara, para lelaki berbusana serba hitam. Kaum perempuan berkebaya dipadu kain panjang. Tamu datang dari jauh dan dekat, menikmati beragam pentas kesenian tradisional semacam calung, seni jipeng, jaipong, dan wayang golek.

    Puncak acara adalah prosesi mengantar padi ke lumbung adat. Ritual ini didahului rapalan kiwih: melagukan syukur dan harapan. Doa juga dipanjatkan bagi Nyi Pohaci atau Dewi Sri sebagai lambang kesuburan serta Prabu Siliwangi, leluhur masyarakat adat Banten Kidul itu. Seren Taun sekaligus menjadi sidang tahunan majelis adat.

    Perayaan adat Serentaun di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. ANTARA/Dedhez Anggara

    Festival Asmat, Papua

    Tatkala Michael Rockefeller, putra Gubernur New York Nelson Rockefeller, menghilang di wilayah Asmat dalam ekspedisinya pada 1961, nama Asmat tiba-tiba melambung ke dunia luas. Terletak di wilayah selatan Papua, menghadap Laut Arafuru, Asmat amat masyhur dengan ukiran kayu yang bernilai seni tinggi. Selama berabad-abad, suku ini menghasilkan karya seni ukir berupa simbol perang, seperti perisai, tombak, patung leluhur, tifa, kano, dan dayung.

    Mengukir adalah cara orang Asmat memelihara hubungan dengan roh para leluhur. Ukiran mereka bahkan diyakini berdaya magis. Kita bisa menyaksikan kekayaan budaya ini dalam Festival Asmat di Agats, ibu kota Kabupaten Asmat, setiap pekan kedua Oktober.

    Festival yang berlangsung sejak 1981 ini menghadirkan seniman ukir, tari, dan musik terbaik dari seluruh distrik. Uskup Agats, Mgr Alfons Sowada, adalah penggagasnya. Penyelenggaraan festival pun hasil kerja sama Keuskupan Agats dengan pemerintah kabupaten setempat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.