Gua Barat Sang Penakluk Petualang

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Beberapa lokasi di dalam gua memiliki sungai berarus liar dan air terjuan setinggi 30-an meter. Namun adapula bagian gua yang menyempit. TEMPO/Amston Probel

    Beberapa lokasi di dalam gua memiliki sungai berarus liar dan air terjuan setinggi 30-an meter. Namun adapula bagian gua yang menyempit. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Gemuruh suara air Gua Barat begitu menguasai rongga telinga kami. Gemanya berdebur tiada henti, tak ingin menyisakan ruang bagi bebunyian lain. Suara dahsyat itu datang dari empasan air terjun yang menghantam keras ke jajaran karst—pelarutan batuan gamping.

    Lalu tampaklah panorama mengesankan itu: dari gerojokan tirta ribuan kubik tersebut tercipta butiran air yang melayang selembut kapas. Ia terbawa tekanan udara, hingga menyeberang permukaan sebuah telaga mungil. Semua ini ada di dalam gua....

    Kami, semuanya berdelapan, menikmati suguhan karya alam itu dengan berbagai perasaan, awal Oktober lalu. Sudah sejauh 4 kilometer, rombongan kami—yang terdiri atas tiga jurnalis Tempo, empat mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dan seorang penduduk Kebumen—menyusuri gua di Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kebumen, itu. Kini perjalanan sudah sampai di seberang sebuah air terjun. Kami menggigil kedinginan disergap lorong gua yang menyimpan sungai bawah tanah ini.

    Tapi petualangan belum usai. Air terjun di seberang bagai mengundang untuk dicumbui. Byur! Wahyudi Tapawira, seorang dari kami, tiba-tiba terjun ke telaga. Ia berenang ke seberang memenuhi undangan sang jeram. Delapan lampu kepala menyorot. Gulita kami tikam sekadar untuk menciptakan ketemaraman. 

    Gerakan Wahyudi begitu lincah meski sepatu bot membuntal kaki. Sejumlah karabiner yang bercantel di pinggang, juga tali melingkar di pundak kiri, tak membuatnya ribet bergerak. Maklum, penelusur gua ini sudah berpengalaman menyambangi sekitar 50 gua di pelosok Nusantara.

    Sesampai di gerojokan air, Wahyudi mencengkeram tebing. Ia bergerak ke kiri, lalu merayap vertikal setinggi tiga meter. Air bagian ini memang kurang deras. Dia lalu bergeser ke kanan, menuju gempuran air yang lebih sangar. Dalam sekejap, tubuhnya lenyap ditelan guyuran. Atap batu di atas kolam juga menghalangi pandangan kami. Namun gerak-geriknya masih bisa ditandai oleh sorot lampu. Jejak cahayanya terlihat bergerak naik-turun, ke kiri dan kanan. 

    Setengah jam kemudian, Wahyudi bergerak turun bergelantungan pada tali yang sudah ia pasang. Sebelumnya, ia menambatkan ujung tali persis di batuan semi-horizontal di atas air terjun setinggi 8 meter ini. Tali terus dia tarik melintas permukaan telaga. "Air begitu deras. Rasanya sakit saat mengenai wajah," kata Wahyudi sesaat setelah kembali bersama kami.

    Lalu ia menawari Tempo menjajal mendaki bukit air itu. Kami tersenyum dan menggelengkan kepala. Gabriela Setyaputri Noviani, 19 tahun, mahasiswi Atma Jaya, juga emoh. Tapi Eka Pratama dan Yusuf Syahputra, juga dari Atma Jaya, memilih mengambil kesempatan tersebut. Mereka lalu bersiap menjajal titik yang disebut Jump Ulysses itu. Dalam mitologi Yunani, Ulysses adalah petualang cerdik.

    Seraya menunggu Eka dan Yusuf, Wahyudi berkisah mengenai ekstremnya Gua Barat. Menurut dia, petualangan sebenarnya baru dimulai setelah melampaui Jump Ulysses itu! Wahyudi bertestimoni, Barat gua paling berat dari semua gua yang pernah ia jelajahi. Ia mengatakan, sekitar 20 meter dari Jump Ulysses, ada air terjun setinggi 32 meter. Itulah Superman's Big Sister. Dia pernah mendaki jeram ini pada Agustus 2010.

    Ke arah hulu di atas Superman's Big Sister, ada lubang selebar satu setengah meter yang tembus permukaan tanah. Dari lubang itu, Wahyudi pernah menerobos memakai tali, lalu ikut cucuran air. Dia membutuhkan waktu susur 18 jam!

    Ekstremnya Gua Barat juga diceritakan Cahyo Alkantana. Lelaki inilah yang pertama kali menerobos Gua Barat hingga hampir ke ujungnya pada 1996. Dia menelusuri Barat bersama tim gabungan Indonesia-Prancis. Tim itu terdiri atas Cahyo, Galih Prabowo, Agung Wijanarko, George Robert, dan Luc-Henri Fage. Saat itu, mereka berhasil menjejaki gua hingga ruas yang mereka sebut Muddy Passage. Titik ini adalah sekitar 200 meter dari lubang keluar bernama Tataquine.

    "Saya tiga hari tidak tidur," ujar Cahyo saat ditemui di rumahnya di Jalan Kenekan, Yogyakarta, 7 Oktober lalu. Ya, tim gabungan itu telah menyiapkan semuanya untuk menghadapi kerasnya tantangan Gua Barat. Saat itu, mereka membawa persediaan makanan berupa roti, cokelat, dan lontong.

    Sukses pria kelahiran Yogyakarta pada 1966 yang pernah menjabat Presiden Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia itu menembus Superman's Big Sister jadi perbincangan penelusur gua dunia. Sebab, tim-tim sebelumnya gagal.

    Pada Desember 1983, misalnya, sebuah tim ekspedisi Belgia hanya mampu mencapai Superman's Big Sister, lalu balik kanan. Begitu juga tim dari Inggris, yang masuk setelahnya. Gagal!

    Cahyo mengatakan Gua Barat memiliki setidaknya 100 air terjun. Jeram-jeram itu ada di ruas 2 kilometer terakhir setelah Jump Ulysses hingga Muddy Passage. Tinggi air terjun tersebut dari 1 meter hingga 32 meter. Menurut Cahyo, yang pernah menjelajahi banyak gua di penjuru dunia, "Gua Barat paling berat!" Di hadapan Tempo, ia lalu mengontak Luc-Henri Fage di Prancis. Suara telepon seluler ia keraskan. Dari ujung terdengar Fage menandaskan bahwa Gua Barat adalah lorong gila. "Itu gua paling melelahkan," katanya. 

    Cahyo menceritakan mereka memberi nama Superman's Big Sister karena saking derasnya air terjun dalam gua. Dia menggambarkan bising air dan empasan angin Superman's Big Sister setara dengan suara tiga helikopter aktif berdekatan. Adapun nama Gua Barat juga sesuai dengan karakter alamiahnya. Menurut Cahyo, di mulut gua kerap berembus angin kencang dari arah dalam. Ini disebabkan oleh adanya perbedaan tekanan udara antara di dalam dan di luar gua. Derasnya air lalu mendorong angin dari dalam menuju arah luar. Angin dalam bahasa Jawa disebut barat.

    Penuturan Cahyo klop dengan Ghufroni, 37 tahun, pemandu lokal Gua Barat. Ghufroni tinggal di rumah yang letaknya paling dekat dengan jalan menuju mulut gua. Sejak bocah, ia biasa bermain di gua. Menurut dia, nenek moyangnya memberi nama Gua Barat karena dari dalam gua bertiup angin kencang.

    Gua Barat berada di kawasan geologi karst Gombong Selatan. Bagi penggemar wisata nonmain­stream, amat tak layak melewatkan keindahan-keliaran yang ditawarkan si Barat. Masuklah, dan segera jumpai serakan stalagmit (batu di lantai gua yang terbentuk oleh cucuran material) dan stalaktit (kapur yang tumbuh dari atap goa) di dalamnya. Di sebuah sudut ada stalagmit putih mirip singgasana raja, lengkap dengan altar. Inilah yang disebut keratonan.

    Terus melangkah ke dalam, di hampir setiap stalagtit, tampak air jernih siap menetes. Bulirnya sungguh menyerupai mata bening sebelum jatuh ke dasar. Sangat mengesankan!

    Ada juga batu kolom tempat menyatunya stalaktit dan stalagmit. Dan, ups, kadang mata kita akan bersirobok dengan ornamen batu gordin di sana-sini. Seperti namanya, batu ini mirip tirai putih berwiru tajam dan berujung lancip.

    Buat penelusur gua, perjalanan menuju Jump Ulysses bukan medan ekstrem. Tapi, buat tim Tempo, yang tidak terlatih, lorong gua itu telah membakar energi cukup besar. Kami harus merayapi dinding gua. Di sejumlah bagian, kami setengah berenang menerobos air setinggi dada. Di kilometer 2- 4, penelusur mesti pandai-pandai melewati celah sempit. Kadang perlu berjongkok karena langit-langit gua sangat rendah. 

    Gua ini juga bagai kerajaan kelelawar. Di sejumlah kubah, ribuan kelelawar tampak berkelepak. Tentu saja, selama perjalanan, bau khas kotoran hewan malam itu akan menyapa hidung. Tapi inilah alam liar, Kawan! Kita tak mungkin berharap karpet merah dan harum kesturi menyertai petualangan semacam ini.

    Maka, nikmatilah. Ketika tangan telanjang kita tercelup air, misalnya, capit udang akan "menyengat" jemari. Rasanya geli di kulit. Semua ini akan membuat diri kian akrab dengan alam liar. Tak jadi masalah!

    Sekitar 2 kilometer dari mulut gua, ada lorong buntu sepanjang 200 meter menuju serong kanan. Menjelang ujung lorong buntu, tanah berukuran 2 x 3 meter telah ditinggikan selutut. Lalu di bagian tengah tampak membujur batu mirip jasad.

    Di bagian kepala "jasad" terdapat batu nisan bersandar miring. ­Ghufroni mengatakan lokasi itu diyakini sebagai petilasan Kiai Abdul Manaf atau Kiai Tunggul Nogo. Mereka percaya di sanalah Kiai Tunggul Nogo berkhalwat dan wafat.

    Menurut Ghufroni, sejumlah pengikut tarekat kerap berziarah ke situ. Ada juga calon legislator, kepala desa, dan kepala daerah yang ngalap berkah. "Malam Selasa Wage dianggap paling baik untuk ziarah," ujar Ghufroni.

    Baiklah, bagi pencinta wisata alam liar, hal-hal mistis semacam itu bisa menjadi tambahan wawasan. Ini semacam bonus untuk seluruh kenikmatan penjelajahan Gua Barat—yang saat itu total kami jalani selama 8 jam.

    Lalu kini tiba saatnya kembali. Sepatu bot sudah penuh air, membuat langkah terasa memberat. Menjelang pukul lima petang, kami tiba kembali di mulut gua, tempat tadi penelusuran dimulai.

    Kelelahan mulai mendera, tapi rasanya itu cukup sepadan untuk penjelajahan yang tak biasa ini. Meski demikian, sepertinya masih banyak rahasia Gua Barat yang belum kami ketahui. Ah, tapi masih banyak waktu untuk kelak mengulanginya lagi....

    Di ujung gua, terdapat jalur vertikal menuju ke permukaan tanah. TEMPO/Amstong Probel

    Rute

    Perlu sekitar tiga jam dari Yogyakarta untuk menjangkau Gua Barat. Jika naik kereta api eksekutif, kita bisa turun di Stasiun Purwokerto. Dari Purwokerto perlu menempuh sekitar satu setengah jam untuk sampai di lokasi. Mereka yang menggunakan kereta api kelas bisnis dan ekonomi bisa turun di Stasiun Gombong. 

    Dari Gombong ke Gua Barat, berjarak 30 kilometer, perlu waktu sekitar 30 menit menggunakan kendaraan bermotor. Ada juga bus ukuran tiga perempat yang mengangkut hingga ke terminal Gua Jatijajar dengan ongkos Rp 5.000 dari Gombong.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.