Wisata Sungai Pedalaman, dari Berair Tenang Hingga Jeram Neraka

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sungai di pelosok Garut ini menjanjikan jeram yang mendebarkan: Foto: @_entity96

    Sungai di pelosok Garut ini menjanjikan jeram yang mendebarkan: Foto: @_entity96

    TEMPO.CO, Jakarta - Sungai-sungai di Indonesia tak terbilang jumlahnya. Pertemuan-pertemuan anak sungai menjadi sungai utama untuk transportasi. Namun anak-anak sungainya yang tak terbilang, menjadi destinasi wisata sungai ataupun wisata olahraga seperti arung jeram. Berikut ini adalah sungai-sungai terpencil yang memiliki panorama indah sekaligus menantang para petualang.

    Sungai Cikandang, Jawa Barat

    Sungai Cikandang terletak di Desa Sukamulya, Kecamatan Pakenjeng, lebih-kurang 60 kilometer atau tiga jam bermobil dari Garut, Jawa Barat. Titik awal penelusuran sungai dapat dimulai dari wilayah perbukitan Ciarinem, Garut selatan, sepanjang 20 kilometer, dan bermuara di Cijayana, laut Pameungpeuk.

    Hulu dan hilir Sungai Cikandang sangat jauh dari permukiman penduduk, sehingga vegetasi hutan hujan dan kualitas air di daerah hulu Sungai Cikandang tetap perawan. Jeram berukuran sedang banyak ditemui, terutama di daerah pertemuan aliran Sungai Ciarinem dan Cikandang. Karst alami menambah kekayaan sepanjang sungai.

    Dari morfologi sungai dan banyaknya jeram, Cikandang digolongkan sebagai sungai dengan tingkat kesulitan sedang dengan waktu arung lebih-kurang lima jam.

    Sungai Bahorok, Sumatera Utara

    Sungai Bahorok berhulu di Bukit Lawang, bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser, Sumatera Utara, dan bermuara ke sungai yang lebih besar, yakni Sungai Wampu. Destinasi yang paling menarik adalah Pusat Rehabilitasi Orang Utan, yang berperan menyiapkan orang utan ke habitat asalnya, taman nasional. Selain itu, pengunjung bisa berjalan-jalan dan berkemah di Taman Nasional Gunung Leuser.

    Paket wisata yang unik adalah tubing. Tidak seperti arung jeram yang menggunakan perahu karet, tubing menggunakan beberapa ban diikat seperti rakit. Dengan kedalaman maksimal satu meter dan berbatu, arus sungai itu cocok untuk tubing, tapi tidak untuk arung jeram. Dari Bukit Lawang sampai titik finis bisa ditempuh hingga dua jam. 

    Sungai yang berada di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, ini bisa dicapai dengan kendaraan selama dua setengah jam dari Medan sampai di Bukit Lawang.

    Sungai Boh, Kalimantan Utara

    Anak Sungai Mahakam ini berkelok sepanjang Kabupaten Malinau, Kutai Barat, hingga bermuara di Long Bagun. Perjalanan menuju Sungai Boh dapat ditempuh kurang-lebih tiga hari dari Balikpapan atau Samarinda.

    Di Sungai Mahakam menuju Long Bagun banyak sekali pemandangan indah, terutama tebing karst yang seperti dipahat. Long Bagun biasanya dijadikan tempat transit selama sehari sebelum melanjutkan perjalanan darat ke Desa Agung Raya, titik awal penelusuran Sungai Boh.

    Hutan sepanjang Sungai Boh masih kaya. Anggrek langka sering ditemukan, begitu juga ular derik (Parias sumatranus). Di Sungai Boh masih banyak dijumpai ikan raja-raja yang panjangnya sampai satu setengah meter. Bagi para penggemar arung jeram, Sungai Boh juga menjadi pilihan petualangan yang mengasyikkan.

    Sungai Alas, Aceh

    The River of Red Apes, begitulah sebutan Sungai Alas, yang membelah wilayah Kutacane di Kabupaten Aceh Tenggara. Sungai yang mengular di wilayah Taman Nasional Gunung Leuser ini menjadi rumah yang nyaman bagi kera merah. Hewan itu masih bisa dijumpai di pinggir sungai, bergelantungan dari pohon ke pohon. Tapi kini, untuk melihat kera merah, kita harus berjalan dua kilometer lebih ke dalam hutan.

    Bila beruntung, kita dapat menjumpai spesies kupu-kupu kuning dari famili Pieridae bernama Common Brimstone atau Gonepteryx rhamni. Kupu-kupu ini terbang membentuk formasi seperti pita panjang.

    Sungai Alas yang lebarnya 10-20 meter itu memiliki belasan jeram yang ramah bagi pemula. Perjalanan ke sana dapat ditempuh bermobil dari Medan ke Ketambe—sebagai titik awal penelusuran sungai—selama 9 jam. Kini ada pesawat kecil dari Medan menuju Kutacane, selama 45 menit, dilanjutkan ke Ketambe dengan mobil selama 45 menit. Di Ketambe sudah banyak pemandu yang dapat membawa wisatawan menuju ke Sungai Alas.

    Sungai Alas membelah Taman Nasional Gunung Leuser di Aceh. Foto@hutanituid

    Sungai Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

    Kapuas Hulu merupakan nama kabupaten di bagian timur Kalimantan Barat, tempat berhulunya Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Di sana terdapat sungai-sungai kecil, seperti Utik dan Embaloh, yang bermuara di Sungai Kapuas dan hulunya berbatasan langsung dengan Taman Nasional Betung Kerihun, tidak jauh dari Putussibau, ibu kota Kapuas Hulu.

    Dengan perahu, kita bisa menyusuri sungai-sungai kecil yang masuk jauh ke dalam hutan. Di sepanjang perjalanan, bisa ditemukan rumah panjang Dayak yang masih terawat di pinggiran sungai dan desa wisata Dayak Iban dan Dayak Embaloh. Bila perlu menginap, tersedia kemah di taman nasional di hulu Sungai Embaloh atau rumah-rumah panjang penduduk.

    Waktu terbaik berkunjung adalah saat tahun baru Dayak Iban setiap 1 Juni atau pada Agustus-November saat musim buah. Durian berdaging merah dapat kita nikmati pada musim ini.

    Untuk menuju Kapuas Hulu tersedia empat kali penerbangan dari Pontianak ke Putussibau selama satu setengah jam dengan pesawat ATR 72. Perjalanan ke hulu sungai bisa dicapai dengan dua jam bermobil.

    Krueng Tripa, Aceh

    Rikiet Jait atau Terangon merupakan titik awal menelusuri Krueng Tripa, yang membelah hutan dari wilayah Blangkajeren, Kabupaten Gayo Lues, di perbatasan Sumatera Utara-Aceh Tenggara hingga Kuala Tripa di Aceh Tenggara.

    Sungai itu memiliki sekitar 20 jeram besar yang jarang dilewati, tersebar di tiga wilayah, yaitu Nanga, Perlak, dan Tongra. Saking sulitnya sungai itu dilewati, pengarung jeram lebih memilih lewat darat dengan menggotong perahu. 

    Salah satu jeram maut adalah Ketanjoran di Tongra, dengan lanskap sungai yang menikung dan bertingkat. Para pemburu jeram nekat melewati Ketanjoran hingga bermuara di Kuala Tripa selama lima hari empat malam.

    Perjalanan ke lokasi bisa ditempuh bermobil dari Medan ke Kutacane—perbatasan Sumatera Utara dan Aceh Tenggara—selama delapan jam, dan dilanjutkan ke Blangkajeren dalam tiga jam. Dari Blangkajeren, titik awal bisa dipilih, melalui Rikiet Jait atau Terangon.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.