Popularitas Destinasi Surfing Ini Mengalahkan Bali

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandangan Pantai Plengkung, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. (Foto: Humas Protokol Banyuwangi)

    Pemandangan Pantai Plengkung, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. (Foto: Humas Protokol Banyuwangi)

    TEMPO.CO, Jakarta - Bali menjadi destinasi peselancar ombak dunia. Pantai-pantai Bali memiliki karakter ombak yang pas untuk segala jenis peselancar, dari pemula hingga profesional. Namun, rupanya surga bagi peselancar bukan hanya Bali, mereka peselancar profesional bisa menjajal ganasnya ombak Samudera Indonesia di selatan Jawa maupun di sisi barat Sumatera. Inilah destinasi surfing berpotensi menggugat status quo wisata selancar di Bali.

    Krui, Lampung

    Tak banyak yang tahu Peisir Krui punya laut dan ombak yang diidam-idamkan para peselancar. Ibu kota Kecamatan Pesisir Tengah di Kabupaten Lampung Barat ini lebih terkenal sebagai rumah pohon damar mata kucing (Shorea javanica), yang hanya tumbuh di pegunungan Bukit Barisan Selatan. Laut Krui yang masih perawan tempat mukim ikan marlin hitam tak dilirik wisatawan lokal. Dari Bandar Lampung jaraknya 250 kilometer atau enam jam perjalanan dengan mobil.

    Maka pendatang yang lalu-lalang di Pantai Labuhan Jukung dan Pantai Mandiri adalah turis asing yang menenteng papan selancar. Seperti di Mentawai, ombak di Krui diberi nama asing. Lidah ombak Jimmy's di Pugung Penengahan, misalnya, bisa mencapai 6,9 meter jika sedang mengamuk. Hanya peselancar profesional yang bisa menungganginya.

    Tapi Krui tak melulu untuk mereka yang sudah ahli menaklukkan ombak deras yang pecah di karang dangkal. Bagi yang masih belajar, banyak lokasi yang tak terlalu berbahaya. Ombak di Tanjung Setia paling banyak diminati peselancar asing. Selain ombaknya besar, perairannya dalam sehingga tak terlalu berbahaya. 

    Para peselancar bermain ombak di Tanjung Setia, Krui, Pesisir Barat. Tempo/Amston Probel

    Plengkung dan Pulau Merah, Jawa Timur

    Jika berminat mencari tempat yang indah dan cocok untuk menyepi selain Bali, coba saja menyeberang ke Banyuwangi. Di sana ada pantai-pantai tersembunyi yang tak kalah dengan pantai Pulau Dewata. Plengkung dan Pulau Merah adalah dua di antaranya. 

    Pantai Plengkung, yang oleh para peselancar dunia disebut G Land, yang merupakan tempat yang ideal dan menantang. Ombak panjang yang menggulung tinggi jadi tantangan tersendiri. Plengkung merupakan bagian dari Taman Nasional Alas Purwo, jadi jangan terlalu berharap jalanan mulus. Selain itu, tak bisa sembarangan datang, harus membuat janji agar dapat kamar penginapan di G-Land.

    Sedangkan Pulau Merah terletak 80 kilometer dari Banyuwangi. Berbeda dengan Plengkung, ombak di Pulau Merah lebih ramah, dengan rata-rata ketinggian dua meter. Sebuah pulau tanpa penghuni menghiasi panorama pantai. Manakala matahari mulai tenggelam, semburat surya membuat pulau itu berwarna merah.

    Dasar pantai Pulau Merah tak berkarang seperti di Plengkung, sehingga aman untuk diarungi wisatawan. Di kedua pantai ini sudah terdapat pemondokan, jadi tak perlu terburu waktu jika ingin menikmati ombak dan panoramanya.

    Wisatawan berselancar di Pantai Plengkung, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Ombak di Pantai Plengkung terkenal nomor dua terbaik di dunia setelah Hawaii. (Foto: Humas Protokol Banyuwangi)

    Klayar, Jawa Timur

    Gugusan pantai yang terbentang di selatan Pacitan—sebuah kabupaten di Jawa Timur yang berjulukan tanah seribu gua—sungguh membelalakkan mata. Pasirnya putih dengan debur ombak tinggi yang garang menghantam karang. Belum lagi suasananya yang sepi membuat pantai seolah-olah milik sendiri.

    Di Pacitan, sedikitnya ada 11 pantai yang layak dikunjungi. Namun Watu Karung, Srau, Pancer, dan Klayar merupakan pantai yang keindahan panoramanya tak perlu diragukan.

    Kebanyakan ombak yang menghantam gugusan pantai itu bisa diselancari. Tebing karang yang tinggi dan tanaman liar khas pantai masih terlihat lebat mendominasi vegetasi pantai yang alami. Pulau-pulau kecil tanpa penghuni menjadi aksesori tersendiri. 

    Bagi yang berminat melancong ke pantai-pantai ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, ketiadaan angkutan umum yang sampai ke tepian pantai. Kedua, jalur jalannya yang sempit dan berkelok naik-turun. Dengan beberapa kendala perjalanan itu, tak mengherankan kalau hampir semua pantai yang ada di Pacitan terbilang masih perawan.

    Soal penginapan tak perlu khawatir. Semua pantai tersebut berdekatan dengan permukiman, sehingga banyak rumah penduduk yang bisa dijadikan rumah singgah.

    Ombak Tujuh, Jawa Barat

    Ombak Tujuh adalah pantai tersembunyi yang masuk kawasan wisata Pantai Ujung Genteng, Kecamatan Ciracap, Sukabumi, Jawa Barat—enam-tujuh jam dari Jakarta. Dari namanya bisa langsung dibayangkan betapa idealnya tempat ini untuk dinikmati para peselancar. Ada tujuh ombak yang bergulung berurutan di pinggiran Samudra Hindia. 

    Pantai Ombak Tujuh sangat sepi dan asri. Hampir tak ada kehidupan, apalagi seliweran orang yang berjualan. Hal ini wajar karena, selain jauh dari permukiman, siapa pun yang hendak menuju bibir pantai cantik ini harus melewati perjalanan yang menegangkan.

    Perjalanan bisa diawali dengan lebih dulu menggapai Pantai Ujung Genteng. Dari sana, para petualang bisa menyewa jasa perahu nelayan. Nah, dalam perjalanan ini, pelancong harus siap mental karena perahu yang harga sewanya Rp 50-100 ribu ini bakal meniti ombak yang tinggi.

    Jalur lain adalah menggunakan ojek, melalui medan berbatu serta kelokan tajam selama satu setengah jam. Satu hal yang harus dipastikan: pelancong wajib membawa bekal air minum plus makanan. Sebab, di Pantai Ombak Tujuh tak ada yang berjualan. Menyempatkan waktu untuk berkemah dan menghabiskan malam merupakan petualangan yang sangat direkomendasikan.

    Marlon Gerber, peselancar asal Bali, saat mengikuti kompetisi selancar Bono Profesional di Sungai Kampar, Pelalawan, Riau, (19/11). Gelombang Bono biasanya terjadi pada saat bulan purnama, sekitar tanggal 13 hingga 16 penanggalan Hijriah. ANTARA/Rony Muharrman

    Sungai Kampar, Riau

    Pekan ini berlangsung festival selancar sungai di Sungai Kampar, Desa Teluk Meranti, sekitar tujuh jam perjalanan ke timur laut Pekanbaru. Berselancar di sungai? Ya. Hanya ada dua sungai di dunia yang bisa diarungi dengan berselancar. Pertama Sungai Amazon, yang mengalir di Benua Amerika bagian selatan. Sungai lain yang disebut memiliki ombak layaknya laut—yang secara ilmiah disebut gelombang Bono—adalah Sungai Kampar. Untuk kualitas ombak, Kampar lebih hebat daripada Amazon. 

    Bono merupakan fenomena alam yang terjadi karena pertemuan arus Sungai Kampar dengan arus Laut Cina Selatan. Gelombang yang kuat masuk lewat muara dan mendesak hingga berkilometer jauhnya ke hulu. Desakan itu jelas menimbulkan gelombang serupa ombak yang bisa dinaiki para peselancar. 

    Uniknya, di Sungai Kampar, gelombang yang tercipta tak hanya satu, tapi tujuh gelombang bersamaan menyapu dengan kecepatan 40 kilometer per jam. Saking takjub dan terpesonanya, masyarakat lokal menyebut keajaiban alam itu: Gelombang Tujuh Hantu.

    Bono dengan ketinggian mencapai enam meter biasanya muncul pada purnama bulan Agustus-Desember. Puncak gelombang besar terjadi pada November dan Februari.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.