Asem-asem Koh Liem yang Tak Ada Duanya

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Semangkuk asem-asem racikan warisan Koh Liem di Semarang. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Semangkuk asem-asem racikan warisan Koh Liem di Semarang. Tempo/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Penampakan asem-asem Koh Liem kelewat seerhana: ada beberapa cabai dan irisan tomat dalam campuran kuah berwarna cokelat agak kemerah-merahan. Rasa kuahnya meski dalam hidangan yang hangat, namun terasa menyegarkan di lidah. Karena, rasa campuran gurih, manis dan asam.

    Semangkuk makanan asem-asem Koh Liem, kuliner khas Semarang, Jawa Tengah ini menawarkan hidangan berkuah dengan isian daging sapi yang teksturnya sangat lembut.

    Saat TEMPO mencicipi hidangan asem-asem ini dalam acara kuliner 'Kampoeng Legenda' di Mal Ciputra Jakarta, Kamis, (8/9), makanan ini cenderung menawarkan berbagai sensasi dalam setiap kunyahan.

    Rasa asam di lidah bisa semakin pekat bila menyantap irisan tomat dalam kuah. Bila ingin menyantap rasa yang sangat pedas bisa langsung mengunyah cabai. Namun, bila ingin rasa pedas yang sesuai selera, cukup menghaluskan beberapa cabai dalam kuah menggunakan sendok. Dagangan asem-asem Koh Liem ini sudah ada di Semarang sejak tahun 1978.

    Mal Ciputra Jakarta mengadakan acara kuliner bertema 'Kampoeng Legenda' dimulai pada 7 Agustus hingga 18 Agustus 2019. Acara yang diadakan di area Center Court, Lower Ground itu menghadirkan puluhan stan kuliner yang menawarkan ragam makanan dan minuman dari berbagai daerah di Indonesia. Acara kuliner 'Kampoeng Legenda' ini dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke-74.

    Selain itu, Tempo sempat mencicipi sate danguang-danguang khas Payakumbuh, Sumatera Barat. Kuliner ini berasal dari stan Sate Padang Betbur Danguang-danguang yang sudah berjualan sejak tahun 1989.

    Sate Padang Betbur Danguang Danguang khas Payakumbuh, Sumatera Barat salah satu kuliner nusantara yang hadir di Kampoeng Legenda. TEMPO/Bram Setiawan

    Sate ini memiliki bumbu pekat berwarna kuning, karena menurut penjajanya saat diolah menggunakan lebih banyak kunyit. Hal itulah yang membedakan dari bumbu sate padang pada umumnya, meski sama mengutamakan tekstur yang kental. Rasanya bumbunya pun pedas, karena sudah menggunakan cabai.

    Sate Padang Betbur Danguang-danguang menggunakan bahan jantung sapi. Potongannya pun cukup tebal, maka saat dikunyah terasa tekstur yang kenyal, namun tetap lembut karena dipanggang tidak terlalu lama.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.