Mencicipi Beer Jawa Minuman Kesukaan Sultan Hamengkubuwana VIII

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Beer Jawa minuman tradisional Bale Raos Kraton Yogyakarta. TEMPO/Bram Setiawan

    Beer Jawa minuman tradisional Bale Raos Kraton Yogyakarta. TEMPO/Bram Setiawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Buih menumpuk pada permukaan minuman dalam gelas jenis pilsner glass di atas nampan. Dalam nampan itu, sekitar gelas terdapat beberapa rempah, yaitu jahe, serai, cengkeh, kayu manis, kapulaga, kayu secang, dan jeruk nipis. Persis di sampingnya ada keterangan bertuliskan beer jawa atau bir jawa.

    Namun minuman tradisional itu tidak mengandung alkohol. Beer Jawa hanya sebutannya saja karena minuman tersebut memiliki buih di permukaannya. Minuman ini merupakan menu minuman dari restoran Bale Raos, Jalan Magangan Kulon Nomor 1 Kraton Yogyakarta.

    Minuman beer jawa ikut mengisi ragam kuliner daerah dalam acara 'Kampoeng Legenda' di Mal Ciputra Jakarta, pada 7 Agustus hingga 18 Agustus 2019. Acara 'Kampoeng Legenda' diadakan persisnya di area Center Court, Lower Ground Mal Ciputra Jakarta dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke-74.

    Saat TEMPO mencicipi minuman ini rasanya nyaris mirip wedang uwuh. Dari perpaduan bahannya pun memang agak mirip untuk membuat wedang uwuh. Meski tampilan warna beer jawa masih agak cokelat, tapi lebih cerah.

    Namun yang membedakan dengan wedang uwuh, beer jawa memiliki sensasi rasa asam dari perasan sari buah jeruk nipis. Yang membedakan lagi adalah beer jawa utamanya disajikan dingin. Tidak seperti wedang uwuh yang umumnya disajikan hangat.

    Prosesnya pembuatan beer jawa pun sederhana, ramuan rempah yang sudah disiapkan oleh penjaja dicampur air gula, es, dan perasan sari jeruk nipis lalu diaduk menggunakan alat blender. Ketika dituangkan dalam gelas, buih pun menumpuk.
    Beer Jawa merupakan menu unggulan di Bale Raos karena unsur autentiknya. Selain itu, Bale Raos mempromosikan beer jawa sebagai minuman kesukaan Sri Sultan Hamengkubuwana VIII.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.