Minggu, 22 September 2019

Kashmir Sepotong Surga di India yang Membara

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bangsa Tibet sangat mempengaruhi kota Ladakh, bagian wilayah Kashmir yang dihuni umat Budha. Foto: @kiwi_te

    Bangsa Tibet sangat mempengaruhi kota Ladakh, bagian wilayah Kashmir yang dihuni umat Budha. Foto: @kiwi_te

    TEMPO.CO, Jakarta - Grup rock Legendaris Led Zeppelin pernah membuat lagu berjudul Kashmir. Lagu itu memang membawa suasana Kashmir dalam melodi rock yang kental. Sebagaimana kelembutan pemandangan Kashmir namun menyimpan kekerasan dan bara.

    Keindahan Kashmir sudah menjadi pujian para raja-raja India. Saat Jahangir Khan dari Dinasti Mogul berkuasa di abad 17, ia menggambarkan Kashmir seperti ini: “Jika ada surga di dunia maka di Kashmirlah tempatnya.”

    Berwisata ke Kashmir memang berisiko. Wilayah indah itu jadi perbatasan tiga negara: Cina, India, dan Pakistan. Namun, yang rajin bentrok adalah Pakistan dan India. Meski berpenduduk mayoritas Islam, Kashmir dianggap tanah suci oleh pengikut Hindu Syiwa India.

    Jahagir Khan menyebut Kashmir sebagai surga, tentu ada benarnya. Wilayah ini memiliki budaya yang unik – sebagaimana Led Zeppelin memainkan Kashmir – alamnya indah, kulinernya lezat, dan tentu saja penduduk yang ramah.

    Kashmir memiliki tiga rupa: di sebelah Barat dan Utara Kashmir di kuasai oleh Pakistan yang menamai wilayah tersebut sebagai Azad Kashmir dan Gilgit Baltistan. Lalu di bagian utara dan timur, dikuasai Cina, dan dinamai Aksai Chin. Sementara Kashmir yang dikuasai India dijadikan negara bagian Jammu-Kashmir.

    Danau Dal berlokasi di kota Srinagar. Memiliki banyak rumah terapung di sekitar danau dengan latar pegunungan Himalaya yang gagah. Foto: @ehmadjunaid_6

    Ketiga wilayah itu mempunyai alam dan budaya yang permai, namub Jammu-Kashmir paling banyak diminati wisatawan. Pasalnya, pemerintah India menjadikan Kashmir sebagai ikon wisata, selain Himachal Pradesh di kaki Himalaya.  

    Setidaknya, butuh waktu dua pekan untuk berkeliling Kashmir. Jalanan mulus nan sepi banyak didapati di Kashmir. Persoalannya negeri itu tak memiliki transportasi publik yang memadai. Lalu lalang wisatawan hanya dilayani dengan mobil carter, dan menjadi sangat mahal saat low season karena jarang ada wisatawan lain yang bisa diajak menyewa secara patungan. Biaya sewa mobil bisa mencapai Rp500.000-1 juta per 12 jam.

    Namun semua pupus dengan pemandangan Kashmir yang hijau dan disepuh warna-warni bunga. Langit biru membentang menjadi latar pegunungan bergletser. Lembah Kashmir populer dengan keindahan kota Srinagar dan Danau Dal, yang berada di pusat kota. Sampan-sampan kayu berlayar di atas danau yang bening. Dari jauh Pegunungan Himalaya berdiri dengan gagah.

    Srinagar lebih seperti kota-kota kecil dSwiss di kaki Gunung Alpina. Kota itu menawarkan aktivitas berkuda berkuda, bermain ski, dan wisata salju di Pahalgam, Sonamarg, dan Gulmarg. Pada hari Yatra, ribuan umat Hindu dari India dan negara-negara lain berdatangan memenuhi hotel-hotel Kashmir. Mereka meyakini Kashmir merupakan rumah Dewa Syiwa.

    Sementara kota Ladakh merupakan daratan yang membentang di antara pertemuan Sungai Indus dan Zanskar. Ladakh dihuni penduduk mayoritas beragama Budha – tak seperti umumnya watga Kashmir yang muslim. Walhasil, Ladakh menghadirkan suasana wisata di Tibet, baik dari lanskap alam, arsitektur, makanan, hingga budaya dipengaruhi oleh bangsa Tibet. 

    Berwisata ke Kashmir memang harus hati-hati. Pasalnya unjuk rasa dan penembakan sering terjadi. Bahkan secara teknis India dan Pakistan hanya melakukan gencatan senjata dalam perebutan wilayah Kashmir. Inilah yang membuat Kashmir membara, tapi memang sulit menampik keindahan Kashmir.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi Diduga Terjerat Dana Hibah

    Perkara dugaan korupsi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi bermula dari operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 18 Desembe