Wisata Kuliner di Pasar Tradisional atau Festival, Asik Mana?

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kue kucur, kue tradisional Malang di Lapangan Rampal, Malang, pada Sabtu hingga Minggu, 1-2 September 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Kue kucur, kue tradisional Malang di Lapangan Rampal, Malang, pada Sabtu hingga Minggu, 1-2 September 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelancong yang gemar wisata kuliner ada beberapa pilihan untuk menentukan tempat pencarian makanan atau minuman. Umumnya, ada dua tempat yang ramai menjadi lokasi wisata kuliner, pasar tradisional atau festival.

    Pencetus food story teller atau pencerita makanan Ade Putri Paramadita menjelaskan, meski ada dua pilihan untuk memenuhi keinginan wisata kuliner, keduanya menghadirkan kesan yang berbeda.

    "Kalau event kuliner, sekali datang semua ada, enggak perlu susah-susah cari mana yang enak. Karena, sudah ada kuratornya," katanya.Namun, bila memilih wisata kuliner di pasar tradisional, yang mengesankan adalah sisi yang mengejutkan.

    "Jadi enggak tahu akan ketemu kuliner apa," tuturnya. Ade mengakui, bahwa dirinya adalah penggemar wisata kuliner di pasar tradisional. Dari berbagai pengalaman, menurut dia bukan berarti segala kuliner yang ditemukan di pasar tradisional pasti enak.

    "Aku suka banget pasar tradisional. Tapi kejutan-kejutan itu menurut aku menjadi sesuatu nilai plus yang berbeda," katanya.

    Soal rasa, meskipun hadir dalam bentuk festival, sebaiknya penyelenggara tetap mengedepankan rasa yang autentik, meskipun kemasan penyajiannya berbeda. Ade menjelaskan, bila di pasar tradisional, penyajian makanan pasti memiliki wadah yang khas sesuai dengan karakter kulinernya.

    "Tentu di acara atau festival kuliner kemasannya, bukan aslinya," katanya. Misalnya, ia mencontohkan bila suatu makanan yang disajikan pakai batok kelapa atau daun pisang, dalam festival pasti berbeda.

    "Kalau pada festival kuliner tetap ada daun pisang, tapi pakai juga alas lagi, sesuatu yang lebih layak berdasarkan standar operasional prosedur (SOP)," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.