Parade Kuliner Nusantara di Mal Ciputra Jakarta

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para perwakilan stan kuliner nusantara, saat memperkenalkan makanan dalam acara Kampoeng Legenda di Mal Ciputra Jakarta, Kamis (*/8). TEMPO/Bram Setiawan

    Para perwakilan stan kuliner nusantara, saat memperkenalkan makanan dalam acara Kampoeng Legenda di Mal Ciputra Jakarta, Kamis (*/8). TEMPO/Bram Setiawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Memeriahkan hari kemerdekaan, Mal Ciputra Jakarta mengadakan acara kuliner bertema 'Kampoeng Legenda' dimulai pada 7 Agustus hingga 18 Agustus 2019.

    Acara yang diadakan di area Center Court, Lower Ground itu menghadirkan puluhan stan kuliner, yang menawarkan ragam makanan dan minuman dari berbagai daerah di Indonesia. Seluruh kuliner nusantara yang mengisi stan mengutamakan karakter autentik.

    "Kami menghadirkan kuliner legendaris langsung dari daerah asalnya," kata Manajer Umum Mal Ciputra Jakarta Ferry Irianto, Kamis, (8/9).

    Ferry menjelaskan bahwa kuliner yang dihadirkan telah dikurasi untuk memastikan karakter rasa yang autentik. Juru masak atau pemilik usaha kuliner itu, mampu menjaga tradisi dan mewarisi resep seperti awal mula dibuat. Lalu diteruskan hingga generasi sekarang, yang meneruskan usaha bisnis tersebut.

    "Selama acara Kampoeng Legenda berlangsung para pengunjung tidak perlu lagi repot-repot pergi ke daerah asalnya untuk mendapatkan kuliner legendaris,” ujarnya. Acara kuliner 'Kampoeng Legenda' ini dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke-74.

    Untuk menghadirkan puluhan stan kuliner dari berbagai daerah ini, Mal Ciputra Jakarta bekerjasama dengan Jakarta Innovative and Interactive Solution Communication (JIISCOMM).

    Puluhan stan kuliner yang mengisi acara 'Kampoeng Legenda' Mal Ciputra Jakarta, di antaranya dari Payakumbuh (Sumatera Barat) ada Sate Padang Betbur Danguang Danguang (1989) dan Es Durian Iko Gantinyo. Selanjutnya dari Bangka, ada otak-otak Ase.

    Sate Padang Betbur Danguang Danguang khas Payakumbuh, Sumatera Barat salah satu kuliner nusantara yang hadir di Kampoeng Legenda. TEMPO/Bram Setiawan

    Sementara dari Jakarta, Kwe Cab Abong (1983), Soto dan Sop Kaki Sapi H. Agus Barito (1987), Pempek Megaria (1989), Rujak Shanghai Encim (1950), Pisang Goreng Madu Bu Nani (2007), Ketan Susu Kemayoran (1958), Kopi Es Tak Kie (1927). Kuliner dari Cirebon, Nasi Jamblang Mang Dul (1970), dan Bandung ada Kupat Tahu Gempol (1965).

    Sedangkan dari Solo adalah Tengkleng Rica Rica Kambing Pak Manto (1990), Nasi Liwet Bu Wongso Lemu Asli (1950). Adapun yang dari Semarang: Asem-Asem Koh Liem (1978), Toko OEN Semarang (1930), Pisang Plenet Mbah Toerdi Jalan Pemuda (1952), Warung Makan Mangut Manyung Bu Fat (1969). Ada pula dari Yogyakarta, Gudeg Yu Djum (1951), Bale Raos (2003).

    Kemudian dari Surabaya, Nasi Krawu Buk Tiban Khas Gresik (1970), Depot Nasi Campur Pojok Tambak Bayan (1971), Sambal Bu Rudi (2000). Dari Madura, ada Bebek Sinjay Asli Bangkalan Madura (2000). Dan yang dari Bali, yaitu Sate Babi Bawah Pohon (1997) dan Babi Guling Karya Rebo (1991).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.