Cek Proses dan Pengujian Sebelum Restoran Dapat Sertifikasi Halal

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi bahan makanan di dapur (pixabay.com).jpg

    ilustrasi bahan makanan di dapur (pixabay.com).jpg

    TEMPO.CO, Jakarta - Sertifikasi halal untuk restoran dengan menu mancanegara kini menjadi kebutuhan. Dengan mengantongi sertifikasi halal, maka pengunjung restoran tak perlu khawatir dan bertanya-tanya perihal hidangan yang akan mereka santap.

    Baca: Wisata Kuliner Halal di Seoul Korea, Mampir ke Manis Kitchen

    Sebuah restoran yang menyediakan kuliner Jepang di Jakarta menceritakan bagaimana proses sampai mengantongi sertifikat halal. Direktur Boga Group, pengelola Restoran Shaburi & Kintan Buffet, Kusnadi Rahardja mengatakan butuh waktu 1,5 tahun untuk memenuhi syarat sebagai restoran halal.

    "Kami mensubstitusi beberapa produk. Misalnya untuk mendapatkan rasa manis yang sebelumnya menggunakan gula diganti dengan madu," kata Kusnadi Rahardja di Shaburi & Kintan Buffet Pacific Place, Jakarta, Selasa, 2 Juli 2019. Substitusi bahan ini, menurut dia, tidak mengubah rasa.

    Dalam proses mendapatkan sertifikat halal, Shaburi & Kintan Buffet juga menyesuaikan bahan yang digunakan. "Kami juga harus menggantikan beberapa bahan dan bumbu dengan yang lain. Ada yang ditambahkan dan ada juga yang dikurangi," katanya.

    Baca juga: Tips Wisata Kuliner Halal dari Donita: Tak Cukup Label No Pork

    Penggantian bahan itu, Kusnadi Rahardja melanjutkan, harus melalui dua tahap, yaitu riset dan pengembangan. Dia mencontohkan, produk saus sebelum dinikmati konsumen wajib melalui uji pangan. "Juru masak kami melakukan riset dan pengembangan, mungkin menemukan bahan penggantinya," tuturnya.

    Setelah mencoba bahan pengganti sebagai proses internal, maka tes rasa pun dilakukan oleh publik. "Kami tes di suatu tempat, seperti apa rasanya menurut pelanggan," ucap dia. "Kami memperhatikan komentar dari para tamu apakah menurut mereka rasanya tetap autentik atau berubah."

    Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia atau LPPOM MUI, Lukmanul Hakim mengatakan sertifikasi halal kini menjadi tren untuk restoran mancanegara. Dia menceritakan, sebelum tren restoran Asia marak di Indonesia, sertifikasi halal dimulai dari produk Eropa dan Amerika. "Sekarang yang banyak permintaan dari restoran Jepang dan Korea," ucap dia.

    Simak: Tak Risau Mencari Makanan Halal di Jepang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.