Cerita Pemandu Wisata Jakarta, Ada yang Kuper dengan Kotanya

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pendiri Wisata Kreatif Jakarta, Ira Lathief saat berbagi cerita dalam sesi bincang bertema 'Jakarta di Mata Para Pemandu Wisata' di Museum Sejarah Jakarta, Kamis, 27 Juni 2019. TEMPO | Bram Setiawan

    Pendiri Wisata Kreatif Jakarta, Ira Lathief saat berbagi cerita dalam sesi bincang bertema 'Jakarta di Mata Para Pemandu Wisata' di Museum Sejarah Jakarta, Kamis, 27 Juni 2019. TEMPO | Bram Setiawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendiri Wisata Kreatif Jakarta, Ira Lathief menceritakan pengalamannya menjadi pemandu wisata sejak tahun 2009. Saat itu, dia masih sering mendampingi wisatawan mancanegara berkeliling Jakarta.

    Baca: Presiden Argentina Wisata ke Kota Tua, Janji Kembali Demi Wayang

    "Saya jadi tambah wawasan dan bisa mengetahui apa yang dipikirkan wisatawan asing tentang Indonesia," kata Ira Lathief dalam acara Jakarta di Mata Para Pemandu Wisata di Museum Sejarah Jakarta, Kamis, 27 Juni 2019. Agenda tersebut merupakan bagian dari peluncuran buku Ira Lathief dalam versi digital atau ebook berjudul 'Bukan Ratu Sejagat: Catatan Seorang Tourist Guide'.

    Sebelum resmi menjalani profesi sebagai pemandu wisata, Ira Lathief memiliki banyak teman di luar negeri. Ketika mereka datang ke Jakarta, Ira kerap menemani mereka berkeliling Ibu Kota. Begitu pula jika yang datang adalah wisatawan asing. "Banyak teman saya yang orang Jakarta bertanya-tanya, 'Lu ngapain ajak jalan-jalan orang asing di Jakarta?'," kata Ira Lathief sambil menirukan ucapan temannya.

    Ada juga teman-temannya yang merupakan warga Jakarta bertanya-tanya tentang pilihan tempat wisata di Ibu Kota yang memiliki daya tarik. Ungkapan itu pun berbalik menjadi pertanyaan dalam diri Ira. "Ternyata banyak sekali orang Jakarta yang tidak mengenal kotanya," katanya.

    Ira Lathief kemudian bercerita saat dia mendampingi wisatawan domestik yang notabene adalah warga Jakarta. Orang tersebut sudah lama tinggal di Ibu Kota, namun belum pernah menggunakan fasilitas transportasi umum.

    Baca juga: Wisata Kawah Putih di Medan Ingin Tiru Sukses Ciwidey Bandung

    "Waktu tur naik bus transjakarta. Ada orang kaya yang seumur hidupnya enggak pernah naik itu," tuturnya. "Ternyata ada ya bus bagus seperti ini?" kata Ira menirukan ucapan peserta tur yang pernah didampinginya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.