Jadi Desa Wisata, Sukabumi dan Mojokerto Sebaiknya Persiapkan Ini

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung menikmati air terjun di kawasan wisata alam Geopark Ciletuh Curug Awang, Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Ahad, 9 Desember 2018. Curug Awang yang memiliki tinggi 40 meter dan lebar 60 meter serta menawarkan suasana pemandangan air terjun yang masih alami tersebut menjadi alternatif wisata liburan di akhir pekan bersama keluarga. ANTARA/Nurul Ramadhan

    Pengunjung menikmati air terjun di kawasan wisata alam Geopark Ciletuh Curug Awang, Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Ahad, 9 Desember 2018. Curug Awang yang memiliki tinggi 40 meter dan lebar 60 meter serta menawarkan suasana pemandangan air terjun yang masih alami tersebut menjadi alternatif wisata liburan di akhir pekan bersama keluarga. ANTARA/Nurul Ramadhan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pariwisata mendorong masyarakat khususnya di Sukabumi, Jawa Barat dan Mojokerto, Jawa Timur untuk mengembangkan desa wisata. Kepala Bidang Pengembangan Masyarakat Pariwisata Kemenpar Ambar Rukmi, di Jakarta, Selasa, mengatakan dua lokasi tersebut memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi desa wisata.

    Baca: Kisah Desa Wisata Gamol yang Sukses Tanpa Sumber Daya

    Oleh karena itu, Kemenpar menggelar Bimbingan Teknis Pengembangan Desa Wisata di dua lokasi tersebut yakni di Hotel Santika Sukabumi, Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat dan di Sanggar Bhagaskara, Desa Wisata Bejijong, Trowulan, Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. “Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat desa wisata agar mereka mampu berinovasi dan mengembangkan potensi desa,” katanya.

    Sejumlah wisatawan menikmati pemandangan alam di kawasan wisata Alam Puncak Darma, Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis 27 Desember 2018. Wisata Alam Puncak Darma yang menawarkan suasana pemandangan panorama keindahan alam geopark serta lokasi swafoto tersebut menjadi salah satu destinasi wisata unggulan menjelang Tahun Baru 2019. ANTARA FOTO/Nurul Ramadhan

    Komitmen dan peran kepala desa untuk mensinergikan program pengembangan desa wisata dengan pihak-pihak lain. “Untuk membangun dan mengembangkan desa wisata perlu komitmen antara kepala desa kemudian masyarakatnya. Karena dalam hal ini Kemenpar hanya sebatas fasilitator dan motivator,” kata Ambar.

    Ia juga mengingatkan pentingnya masyarakat desa untuk menerapkan konsep sapta pesona untuk menyambut wisatawan yang datang. Sapta pesona terdiri dari tujuh unsur yakni aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan.

    Caranya, kata Ambar, bisa dimulai dengan menyediakan fasilitas umum beserta pelayanan yang baik kepada wisatawan. “Misalnya menyediakan minuman selamat datang atau welcome drink khas desa ini,” katanya.

    Baca: Akhir Pekan, Ajak Anak Bertani dan Beternak di Desa Wisata Gamol

    Tidak hanya itu, lanjut Ambar, ketersediaan homestay dengan fasilitas kamar tidur yang baik harus disediakan. Lalu kamar mandinya juga harus layak bagi wisatawan baik asing maupun lokal. “Semua hal ini perlu diperhatikan oleh semua masyarakat, perangkat desa, serta dinas pariwisata setempat. Ini cara agar desa ini tidak hanya menjadi tempat transit. Tapi juga bisa menjadi fokus destinasi wisata bagi wisatawan,” ujarnya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.