Bukit Cinta di Klaten, Bukti Karang Taruna Bisa Kembangkan Wisata

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan berfoto di gardu pandang Bukit Cinta, objek wisata di Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. TEMPO | Dinda Leo Listy

    Wisatawan berfoto di gardu pandang Bukit Cinta, objek wisata di Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. TEMPO | Dinda Leo Listy

    TEMPO.CO, Klaten - Pada mulanya bukit itu tak bernama. Warga Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, melihat bukit itu sebagai tempat yang gersang di tengah hutan jati milik Perhutani.

    Baca: Wisata untuk Menyepi di Green Canyon Mini Socokangsi, Klaten

    Dua tahun lalu, organisasi pemuda Karang Taruna yang kemudian menyulapnya menjadi tempat yang Instagramable. Kini bukit itu sudah punya nama: Bukit Cinta. "Kami membangun gardu pandang berbentuk hati (lambang cinta) di atas bukit dan beberapa wahana sederhana untuk berswafoto," kata Anang Wibowo, Ketua Karang Taruna Argo Mudo kepada Tempo, Jumat 17 Mei 2019.

    Selain mudah diingat, nama Bukit Cinta dipilih karena target pasarnya adalah kalangan muda. Terbukti pemandangan pegunungan dari Desa Gunung Gajah tampak lebih memukau dari gardu ini. Dan tentu para muda-mudilah yang tertantang untuk naik ke gardu pandang sembari bergaya untuk foto selfie.

    Wisatawan bersantai menikmati pemandangan Kota Klaten dari atas Bukit Cinta di Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. TEMPO | Dinda Leo Listy

    Anang Wibowo menceritakan, sebelum gardu pandang itu berdiri, Pemerintah Desa Gunung Gajah membangun taman bermain. Lantas mengucurlah bantuan CSR dari Pertamina sebesar Rp 13 juta. Dana itu kemudian diserahkan ke Karang Taruna Argo Mudo.

    Para pemuda Karang Taruna menganggap taman bermain saja tak cukup untuk menarik minat orang untuk datang. Kemudian muncul ide membuat gardu pandang berbentuk hati dan memberinya nama Bukit Cinta. Tak cuma itu, akses jalan berkelok-kelok sepanjang 300 meter dari jalan utama menuju Bukit Cinta juga dibenahi.

    Jalan setapak berkelok-kelok menuju puncak Bukit Cinta, objek wisata di Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Jalan ini dibangun pemuda dan penduduk setempat secara bergotong-royong pada awal 2017. TEMPO | Dinda Leo Listy

    Sebelum diresmikan pada 23 April 2017, pemuda Karang Taruna Desa Gunung Gajah gencar mengenalkan objek wisata Bukit Cinta melalui media sosial. "Kuncinya ada pada kreativitas, kekompakan, serta kegigihan pengelolanya," kata Anang Wibiwo yang juga Sekretaris Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gumbregah Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Anang Wibowo.

    Baca juga: Napak Tilas Air Terjun Gemulai, Wisata Alternatif di Klaten

    Setelah diresmikan, sampai di pengujung 2017, objek wisata yang dikelola Karang Taruna di bawah naungan BUMDes itu sudah meraup pendapatan sekitar Rp 500 juta. Dalam tempo kurang dari dua tahun mengelola objek wisata Bukit Cinta, BUMDes Gumbregah telah mengumpulkan pendapatan total sekitar Rp 2,6 miliar.

    Harga tiket masuk Bukit Cinta cukup murah, hanya Rp 3.000. Jika ada kegiatan tertentu seperti atraksi budaya atau pertunjukan musik, tiket masuknya Rp 5.000. Adapun tarif parkirnya Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil.

    Atraksi ogoh-ogoh dari Paguyuban Semoyo Endo Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, saat tampil di Bukit Cinta, obyek wisata di Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. TEMPO | Dinda Leo Lesty

    Bukit Cinta kini juga menyediakan ruang pertemuan berupa pendopo dan lahan terbuka untuk berbagai kegiatan dengan tarif sewa masing-masing Rp 100 ribu per hari. Setiap hari libur, jumlah pengunjung Bukit Cinta sekitar 1.400 - 1.500 orang. Bahkan pada malam pergantian tahun 2018, jumlah pengunjungnya mencapai sekitar 10 ribu orang.

    "Kami tidak menyangka Bukit Cinta bakal seperti sekarang. Ini sungguh di luar perkiraan kami," kata Anang.

    Simak:
    Sungai Pusur Klaten Dulu Jadi Tempat Sampah, Sekarang Bawa Berkah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.